Lonjakan Harga Pangan di Bulan Ramadan Dikhawatirkan Hambat Pertumbuhan Ekonomi

ILUSTRASI. Suasana masyarakat berbelanja kebutuhan pokok sebelum memasuki bulan puasa di ritel modern, Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Senin (11/3). Dalam menyambut bulan Ramadan 2024, umat Muslim di Indonesia secara antusias melakukan berbagai persiapan dan perencanaan, mulai dari membeli barang-barang kebutuhan di bulan puasa dan Lebaran, stok makanan untuk sahur dan berbuka puasa./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/11/03/2024.

Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah tekanan daya beli masyarakat akibat lonjakan harga pangan, muncul harapan bahwa momentum Ramadan dan Lebaran dapat menggerakkan roda perekonomian nasional pada  kuartal I-2024.

Momentum Ramadan secara historis selalu menjadi periode andalan bagi perekonomian Indonesia. Pada kuartal II-2023, ekonomi Indonesia meningkat sebesar 5,17% secara tahunan atau year-on-year (yoy) dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 5,44% yoy pada kuartal II-2022.

Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2024 masih akan berada di kisaran 5%. 

Baca Juga: Kenaikan Harga Jadi Salah Satu Sebab Anjloknya Penjualan Mobil Nasional

Pertumbuhan ini didukung oleh sektor-sektor seperti industri manufaktur, perdagangan, dan pertanian. Faisal juga menyoroti peran momen Ramadan di bulan Maret yang mendorong sektor ritel perdagangan dan penyediaan makanan minuman.

Sektor pertanian juga diharapkan akan menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama tahun ini karena memasuki musim panen di Maret, yang akan meningkatkan produktivitas ekonomi.

Namun, lonjakan harga pangan mengganggu periode Ramadan tahun ini, yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dengan mempengaruhi daya beli masyarakat.

Baca Juga: Per Februari 2024, Unitlink Saham IFG Life Catatkan Kinerja Positif

Faisal juga menyoroti potensi tekanan dari kebijakan fiskal menjelang pemerintahan baru. Ada kekhawatiran bahwa pemerintahan baru cenderung mengejar pemasukan dari belanja yang dapat mengganggu program-program yang sudah ada dan meningkatkan penerimaan melalui kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN). 

Namun, peningkatan penerimaan yang tidak hati-hati dapat berdampak negatif pada daya beli masyarakat.

Dalam konteks pertumbuhan ekonomi global yang melambat, pertumbuhan ekonomi domestik Indonesia juga dikhawatirkan terpengaruh, termasuk konsumsi rumah tangga dan ekspor-impor.

Baca Juga: Kelesuan Daya Beli Akibat Lonjakan Harga Pangan Mengganjal Belanja Ramadan Tahun Ini

Menurut Nailul Huda, Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2024 diperkirakan berkisar antara 5% hingga 5,1%.

Dia menekankan bahwa momen Ramadan akan memberikan dampak positif pada konsumsi rumah tangga, meskipun kenaikan harga dapat memperlambatnya.

Ronny P. Sasmita, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), mencatat bahwa Ramadan dan Lebaran memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, meskipun pertumbuhan konsumsi belum mencapai level yang diharapkan. 

Baca Juga: Mengintip Prospek Pertumbuhan Ekonomi pada Kuartal I Saat Daya Beli Tertekan

Dia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2024 berkisar antara 4,95% hingga 5,1%.

Selanjutnya: Berikut Rekomendasi Saham BBNI, AMRT, BRIS, ASSA dan ANTM untuk Rabu (13/3)

Menarik Dibaca: Drama Korea Terbaru Parasyte: The Grey akan Hadir di Netflix

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *