Sinopsis & Review Serial Avatar: The Last Airbender

Avatar: The Last Airbender

PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Walau promosi awalnya sempat terhalang oleh live action One Piece, tanpa disangka di minggu perilisannya, Avatar: The Last Airbender mampu menggeser peringkat One Piece sebagai serial berbahasa inggris yang punya jumlah views paling banyak yakni 21,2 juta. Antusiasme ini tentu membuat serial ini semakin melambung dan banyak yang penasaran dengan kisahnya.

Sebagai salah satu penonton yang kecewa dengan eksekusi live-action kisah petualangan Aang pada tahun 2010, saya pun begitu. Saya cukup punya ekspektasi tinggi terhadap serial ini dan berharap Albert Kim memiliki tangan lebih ajaib dibandingkan M. Night Shyamalan selaku showrunner. Lantas, seperti apa jalan ceritanya?

Sinopsis

Review Avatar The Last Airbender__2_

Dikisahkan kehidupan manusia terbagi ke dalam empat negara: Air, Tanah, Api, dan Udara. Tiap-tiap negara ini dihuni oleh para pengendali elemen masing-masing. Keempat negara hidup damai selama ribuan tahun berkat pengawasan Avatar, satu-satunya orang yang bisa menguasai empat elemen sekaligus bertugas menjaga keseimbangan antarbangsa.

Ketika Avatar meninggal, mereka terlahir kembali di tubuh lain dalam siklus reinkarnasi. Sayangnya, sejak kematian Avatar terakhir, inkarnasi barunya belum juga muncul. Kesempatan ini pun membuat Raja Api Sozin, pemimpin keji dari Negara Api berusaha untuk menaklukkan dunia. Ia percaya bahwa dunia akan kembali teratur di bawah rezim Negara Api.

Langkah pertama Sozin untuk mencapai tujuannya pun adalah dengan menyingkirkan penguasa keempat elemen berikutnya, yang saat ini dipegang oleh seorang pengendali udara berusia 12 tahun bernama Aang.

Meski Sozin tidak mengetahui bahwa Aang adalah Avatar selanjutnya, ia tahu pasti bahwa sang Avatar adalah seorang pengendali udara dan karena itulah ia berencana untuk menghanguskan semua pengendali Udara.

Aang, layaknya anak seusianya, masih gemar bermain bahkan sering bolos untuk berlatih dengan gurunya. Padahal, terjadi perdebatan antara para biksu untuk segera memberitahu Aang bahwa ia adalah Avatar selanjutnya.

Salah satu biksu sekaligus sahabat dekat Aang, Biksu Gyatso awalnya menolak untuk memberitahu karena tak mau Aang kehilangan masa mudanya yang menyenangkan. Namun, pada akhirnya Gyatso sendiri yang memberitahu kebenaran pada Aang tentang siapa ia sebenarnya.

Aang yang merasa tidak siap dan tidak mau mengemban tanggung jawab sebagai Avatar, kabur bersama Bison Terbang miliknya, Appa, dari Kuil Udara Selatan. Tapi di tengah perjalanan, ia dan Appa malah terjebak oleh badai besar di tengah lautan. Ombak besar pun menerpa hingga mereka tenggelam.

Aang lalu tanpa sadar mengaktifkan wujud Avatar-nya dan membuat dirinya dengan Appa membeku dalam bongkahan es bulat yang besar.

Di saat bersamaan, prajurit Negara Api sampai di Kuil Udara Selatan dan meluluhlantakkan penduduk di sana. Tak ada korban yang selamat, pengendali udara pun dinyatakan musnah setelah kejadian tersebut.

Review Avatar The Last Airbender__7_

Satu abad kemudian, sepasang adik-kakak dari Teluk Serigala, Katara dan Sokka, tengah melakukan inspeksi di perairan tempat para nelayan menangkap ikan. Perahu mereka tiba-tiba terbawa arus air yang mengarah pada sebuah bongkahan gunung es besar, mereka pun terdampar di sana.

Katara, yang tengah mencoba mempelajari jurus pengendalian air, berusaha mendorong kembali perahu mereka yang menjauh; sampai tidak sadar bahwa jurusnya malah membelah bongkahan es besar di belakang. Akibatnya, gunung es tersebut pecah dan menyembulkan kilatan cahaya. Sesosok anak kecil botak keluar dari bongkahan tersebut, dan anak kecil itu adalah Aang.

Kilatan cahaya yang menyembul ini ternyata menarik perhatian satu kapal laut prajurit milik Negara Api yang dipimpin oleh Pangeran Zuko, putra mahkota dari Raja Api Ozai. Kebetulan sudah tiga tahun Zuko mencari keberadaan Avatar sebagai tugas dari sang ayah. Tanpa pikir panjang, Zuko pun mendatangi pulau terdekat, yakni Teluk Serigala, karena yakin sang Avatar telah diamankan di sana.

Saat terbangun dari pingsan, Aang berada di Teluk Serigala. Ia senang bukan main saat mendapati banyak anak-anak seusianya yang bermain di sana. Walau tentu saja, pakaiannya yang paling mencolok karena ia masih menggunakan pakaian khas pengendali udara.

Aang lalu memanggil Appa yang membuat seluruh desa terkejut. Setelahnya, Sokka dan penduduk Teluk Serigala pun mencoba menanyai identitas Aang sebenarnya.

Setelah terungkap bahwa Aang adalah seorang pengendali udara terakhir, Aang lalu pergi ke Kuil Udara Selatan untuk mencari tahu kebenaran tentang kondisi wilayahnya. Dan benar saja, tempat itu sudah rata dengan tanah, begitu pula dengan kuil-kuil lain yang dihuni para pengendali udara. Aang marah bukan main, ia bahkan sempat kembali ke wujud Avatar sebelum akhirnya ditenangkan oleh Katara.

Review Avatar The Last Airbender__5_

Sekembalinya ke Teluk Serigala, mereka kedatangan pasukan Pangeran Zuko yang berusaha menangkap Aang. Meski awalnya, memberontak Aang menyerahkan diri karena tak mau desa tempat tinggal Sokka dan Katara dihancurkan seperti kampung halamannya dulu.

Untungnya degan taktik yang cerdik, Aang berhasil kabur sambil membawa catatan milik Pangeran Zuko yang memuat informasi tentang dunia, termasuk fakta tentang Avatar dan sejarah lainnya. Aang juga dibantu oleh Sokka dan Katara yang terbang menaiki Appa.

Setelah kejadian itu, Katara dan Sokka berjanji untuk mendampingi Aang mencari jati dirinya sebagai Avatar. Meski akan banyak menemui banyak musuh, mereka juga akan banyak bertemu sekutu yang juga menginginkan kedamaian di dunia dan ingin sosok Avatar hadir kembali.

Plot Lebih Serius Dibanding Versi Kartun

Review Avatar The Last Airbender__1_

Sejujurnya saya belum pernah menamatkan kisah Aang versi kartun, namun saya tahu persis bagaimana vibes kisah original Avatar dibawakan. Meski memiliki kompleksitas cerita, pembawaan tiap-tiap karakter yang sangat jenaka dengan banyolan yang dibubuhkan membuat kisah versi kartun terasa lebih komikal.

Memang tidak mudah untuk mewujudkan semua elemen tersebut ke dalam sebuah live action, namun sayangnya core humor yang seringnya muncul dari karakter Aang dan Sokka terasa sangat kurang. Aang, meski punya sisi bubbly dan polos sebagai anak berumur 12 tahun, terasa kurang tengil. Begitu pula dengan Sokka, yang sangat ceroboh, malah tampak seperti pria serius dalam serial ini.

Alhasil, kisah pencarian jati diri Aang yang seharusnya masih anjoyable jadi terasa sangat serius. Ditambah dengan pemadatan kisah Book One: Water, yang dalam animasinya terdiri dari 20 episode menjadi 8 episode saja; membuat perjalanan Aang terasa semakin intens tanpa celah untuk “bernafas.”

Development Karakter yang Kurang Greget

Review Avatar The Last Airbender__9_

Albert Kim dan tim tampak berusaha keras untuk menampilkan semua karakter kunci dalam Avatar di serial ini, termasuk Putri Azula yang sejak awal sudah di kenalkan padahal dalam kartun baru dihadirkan total di Book Two: Earth.

Saya rasa ini bisa dimengerti mengingat Azula akan jadi kunci di kisah selanjutnya, sehingga penonton tidak akan kaget dengan bagaimana sosok dari adik Zuko tersebut. Namun, tentu saja keputusan ini membuat panggung untuk karakter-karakter lain terasa dipersempit. Bahkan, Aang, selaku karakter utama, terasa tak punya perkembangan karakter yang signifikan.

Kisah masa lalu Aang banyak dipangkas dan diganti menjadi dialog yang disampaikan tokoh lain. Padahal, latar belakang Aang sangat membantu penonton dalam memahami dilemma yang dirasakan sang Avatar muda.

Hanya karakter Zuko yang punya development baik. Latar belakang sang pangeran ditampilkan utuh; mulai dari asal muasal luka bakar di wajahnya hingga alasan mengapa ia “dilepaskan” ke dunia luar oleh ayahnya, Raja Api Ozai.

CGI Khas Netflix dan Scoring yang terasa Original

Review Avatar The Last Airbender__6_

Yup! Karena sudah berpengalaman dalam merilis live-action, CGI dan efek visual yang ditampilkan serial garapan Netflix tak perlu diragukan lagi, termasuk dalam serial ini. Appa dan Momo tampak nyata; CGI yang dipakai saat para pengendali beraksi juga jauh lebih apik serta sinergis dengan koreografi yang ditampilkan.

Hanya saja, satu hal yang saya mulai sadari dari visual effect khas Netflix adalah tone-nya yang dibuat agak kelam. Baik dalam live-action One Piece atau pun serial ini, ciri khas tersebut tak luntur. Tone ini juga yang menambah kesan intens pada cerita, padahal tone Avatar versi animasi rasanya cukup cerah.

Untungnya, Takeshi Furukawa, selaku komposer serial ini tak menghilangkan lagu-lagu pengiring ikonis Avatar versi animasi, sehingga para penonton lama setidaknya bisa bernostalgia merasakan dunia Avatar: The Last Airbender yang penuh keajaiban dan petualangan.

Akting Cast Muda Patut Dimaklumi

Review Avatar The Last Airbender__4_

Karena para pemeran utamanya diisi oleh para cast muda, tentu performa acting dari mereka berperan besar dalam keberlangsungan eksekusi live-action ini.

Meski saya mengacungkan jempol pada Dallas Liu sebagai Zuko karena tampil maksimal, sayangnya acting Gordon Cormier sebagai Aang masih terasa kaku di beberapa episode awal. Namun, hal ini bisa dimaklumi karena serial ini adalah proyek pertama Gordon sebagai pemeran utama.

Bukan cuma Gordon, pemeran Katara, Kiawentiio, juga masih memiliki ekspresi yang flat di beberapa scene sehingga beberapa kali dialognya terasa kurang mendalam padahal menjadi line Katara yang powerful di versi kartun.

Untungnya, Paul Sun-Hyung Lee sebagai Paman Iroh, Daniel Dae Kim sebagai Raja Api Ozai, Ken Leung sebagai Komandan Zhao dan yang para cast “veteran” lainnya menyelamatkan serial ini, juga membuat kita sadar bahwa live action Avatar: The Last Airbender bukanlah semata-mata tontonan anak-anak.

Walau jauh dari kata sempurna, serial live action ini jauh lebih baik dibandingkan pendahulunya. Tak hanya dari sisi cerita dan CGI, keputusan mengambil inspirasi budaya yang beragam khususnya Asia Timur, juga membuat serial ini terasa lebih mirip dengan versi kartunnya.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *