10 Film Keluarga Indonesia Terbaru yang Menginspirasi

Siapa yang tidak suka film keluarga? Genre ini selalu berhasil menghangatkan hati, menghibur, dan menginspirasi kita semua. Di Indonesia sendiri, film keluarga selalu mendapat tempat istimewa di hati para penonton karena banyak yang relate dengan kisah yang disajikan.

Nah, hampir setiap tahunnya ada beberapa film keluarga Indonesia terbaru yang siap menemani waktu bersantai bersama orang tercinta. Apa saja film-film yang menyelipkan nilai kekeluargaan tersebut? Berikut beberapa rekomendasi yang berhasil Bacaterus rangkum khusus buatmu:

Setelah mendengar berita kematian ayahnya, Sukri terpaksa harus membatalkan liburan bersama keluarga kecilnya. Ia pun mengajak istrinya yang bernama Surti, beserta kedua anaknya, Bayu dan Gerhana, untuk pulang ke kampung halamannya di desa Cibereum, Kabupaten Sumedang, untuk menghadiri pemakaman sang ayah.

Mengira sang ibu mertua akan menyambutnya dengan hangat, Surti dan anak-anaknya malah diperlakukan dingin oleh Bu Musa. Ibu mertuanya itu tampak terganggu dengan kehadiran Surti dan anak-anaknya, padahal para tetangga dan warga desa lain menyambut baik kedatangan mereka.

Tidak terima dengan perlakuan Bu Musa, Surti pun mencurahkan kesedihannya pada sang suami. Sukri lantas memutuskan untuk kembali ke Jakarta setelah proses pemakaman sang ayah selesai. Namun dalam perjalanan pulang, Sukri mendapat kabar bahwa ibunya ditangkap polisi karena melakukan sebuah tindakan kriminal.

Selain harus menjadi penengah untuk menyelesaikan masalah ibunya dengan sang istri, kini Sukri juga harus menemani sang ibu di penjara sampai kasus tersebut tuntas. Apa yang akan Sukri lakukan untuk memperbaiki ketegangan dalam keluarganya? Dan bisakah ia mengeluarkan sang ibunda dari bui?

Cerita dimulai dengan Aqilla yang sedang hamil dari pernikahan yang tidak direstui oleh sang ibu. Suatu hari, suami Aqilla meninggal dunia karena kecelakaan, dan tidak lama berselang Aqilla pun melahirkan anaknya. Namun, Aqilla diberi tahu oleh sang ibu bahwa anaknya meninggal dunia saat dilahirkan.

Tujuh tahun berlalu, Aqilla baru mengetahui bahwa anaknya masih hidup. Anak laki-laki itu rupanya dititipkan oleh sang Ibu kepada Arif dan Yumna, sepasang suami-istri yang sejak lama menginginkan buah hati. Keduanya sangat menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri dan menamainya Baskara. Mereka pun meninggalkan Jakarta dan memulai kehidupan baru bersama Baskara di kota Solo.

Setelah mengetahui hal ini, Aqilla pun pergi ke Solo untuk bertemu Baskara yang sangat ia rindukan. Konflik semakin memuncak ketika Aqilla ingin membawa Baskara untuk tinggal bersamanya di Jakarta. Namun di sisi lain, Baskara sudah hidup bahagia dan sangat mencintai Arif dan Yumna yang ia anggap sebagai orang tua kandungnya.

Lantas, siapakah yang akan dipilih oleh Baskara? Pastikan kamu menyiapkan tisu sebelum menyaksikan film yang penuh haru ini, ya!

Meski film satu ini mengangkat tema komedi dan premi tentang dunia saham, film Gampang Cuan menyimpan nilai kekeluargaan yang tinggi. Semua dimulai ketika Sultan (Vino G. Bastian) dan adik perempuannya, Bilqis (Anya Geraldine), tidak menyangka bahwa mendiang ayah mereka meninggalkan hutang sebesar 300 juta yang harus dilunasi.

Tak mau ibu mereka, Mamah Diah, tahu akan hal ini, keduanya mencoba berbagai pekerjaan untuk dapat mengumpulkan rupiah demi rupiah. Sampai suatu hari, saat Bilqis bekerja di sebuah panti pijat, ia melihat bagaimana para orang kaya bisa mendapatkan uang yang sangat banyak dalam waktu singkat hanya dengan bermain saham.

Hal ini pun diberitahukannya pada Sultan, yang berhasil membuat sang kakak tertarik untuk melakukannya juga. Namun, mempelajari ilmu tentang saham bukanlah hal yang mudah, keduanya harus membuat berbagai upaya untuk menggali informasi tentang saham.

Kesulitan ini ditambah dengan kehadiran adik bungsu mereka, Aji (Alzi Markers), yang datang ke Jakarta untuk minta dibiayai kuliah.

Oskar adalah seorang penyiar radio terkenal yang karirnya sedang cemerlang. Suatu hari, ia kedatangan seorang gadis muda dan seorang anak laki-laki. Gadis tersebut bernama Karin, yang mengklaim dirinya sebagai putri kandung Oskar. Sedangkan anak kecil yang dia bawa adalah Gempa, anak Karin, alias cucu Oskar.

Setelah melakukan tes DNA, benar saja, Karin memang anak kandung Oskar. Karin nekat mencari Oskar karena ibunya telah meninggal satu tahun lalu, dan ia tidak memiliki kerabat lagi. Tidak memiliki pilihan, Oskar lantas menampung Karin dan anaknya di rumahnya.

Hal ini kemudian membuat skandal pecah. Oskar dituding berpacaran dengan gadis muda bahkan memiliki anak. Oskar kesal bukan kepalang karena kehadiran Karin menjatuhkan citranya sebagai penyiar terkenal. Lantas, bagaimanakah akhir dari kisah Oskar, Karin, dan Gempa?

Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang menjadi sekuel dari film sebelumnya yang berjudul Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Para pemain sebelumnya muncul kembali dalam film ini dan terlibat dalam kisah baru tentang salah satu tokoh utama yang berjuang dengan kondisi LDR dengan keluarganya.

Aurora (Sheila Dara Aisha) yang kini berada di London, Inggris, memulai hidup baru sambil mengejar mimpinya. Selain belajar seni, ia juga ingin bekerja di kota romantis tersebut. Satu waktu, ia bertemu dengan pria bernama Jem (Ganindra Bimo) yang merupakan seniornya di kampus. Pertemuan itu membuat dirinya mabuk kepayang dan menjadi tambatan hati Jem.

Namun hubungan antar keduanya jadi kusut setelah Aurora mengetahui sisi gelap Jem. Hasilnya, Aurora harus mengorbankan kuliahnya dan meninggalkan banyak mimpinya.

Masa-masa sulit itu tidak mau Aurora kabari ke keluarga yang ada di Indonesia. Namun semuanya terbongkar ketika kakak dan adiknya, Angkasa (Rio Dewanto) dan Awan (Rachel Amanda), menyusul Aurora ke London. Kini Aurora tidak bisa berkutik selain menjawab semua pertanyaan saudaranya tentang apa yang terjadi pada dirinya.

Memiliki kesan yang mendalam bagi para penontonnya, Falcon Pictures terinspirasi untuk membuat remake film asal Korea Selatan Miracle in Cell No.7 versi Indonesia. Tak main-main, mereka mendapuk sutradara kondang Hanung Bramantyo untuk menggarap film ini juga menghadirkan Vino G. Bastian untuk memerankan karakter Dodo Rozak.

Dodo hanyalah seorang ayah tunggal dan penjual balon yang memiliki keterbelakangan mental. Namun, suatu ketika ia dituduh membunuh dan melecehkan putri dari seorang pejabat tinggi pemerintahan. Meski berusaha membela diri, Dodo tetap tidak berdaya dan bekahir di bui.

Dodo ditempatkan dalam sel nomor tujuh, tempat ia bertemu dengan Japra, Zaki, Yunus, Atmo dan Asrul. Meski awalnya dianggap aneh oleh rekan-rekan selnya tersebut, perlahan mereka sadar bahwa Dodo adalah seorang pria baik. Mereka bahkan membantu Dodo saat ia ingin bertemu dengan putrinya, Kartika.

Tak hanya itu, kedekatan Dodo dan Kartika berhasil menyentuh hati teman-temannya, membuat mereka ingin mengungkapkan kebenaran di balik kasus Dodo. Pasalnya, Dodo akan dihukum mati bila terbukti bersalah.

Pasangan suami istri, Pak Domu (Arswendi Beningsuara Nasution) dan Mak Domu (Tika Panggabean), merasa kesepian karena ketiga anak mereka: Domu (Boris Bokir), Gabe (Lolox), dan Sahat (Indra Jegel) merantau ke luar kota, sedangkan si bungsu Sarma (Gita Bhebhita Butar-Butar) tinggal bersama mereka.

Pak Domu dan Mak Domu lalu menyusun rencana dengan mengatakan bahwa keduanya akan bercerai agar seluruh anaknya bisa berkumpul bersama mereka. Rencana itu pun berjalan sesuai dengan harapan, mendengar hal itu, ketiga anak mereka pulang ke Medan.

Yang mereka tahu kedua orang tua mereka hendak bercerai dan mereka datang untuk menyelesaikan masalah tersebut. Oleh karena itu, Pak Domu dan Mak Domu harus tetap bersandiwara. Namun hal tak mengenakan terus terjadi, Pak Domu jadi selalu bertengkar dengan ketiga anaknya sehingga membuat suasana benar-benar jadi tak nyaman.

Sandiwara ini pun terbongkar dan membuat ketiga anaknya sedih bukan main, Sarma yang disuruh pura-pura tidak tahu pun jadi serba salah. Kini ancaman perceraian itu benar adanya. Pak Domu menyesal dan berusaha untuk memperbaiki diri, berdamai dengan semua anaknya, dan menjemput Mak Domu kembali pulang menjadi keluarga utuh lagi.

Film karya sutradara Angga Dwimas Sasongko ini merupakan kisah dari sebuah novel berjudul sama karya Marchella FP. Berdurasi 121 menit, penonton akan dibawa pada sebuah rahasia kelam dalam sebuah keluarga yang terlihat bahagia.

Angkasa (Rio Dewanto) merupakan anak pertama dari 3 bersaudara, adiknya adalah Aurora (Sheila Dara) dan Awan (Rachel Amanda). Mereka bertiga hidup dalam lingkungan keluarga yang ‘tampak’-nya sempurna. Sampai satu masa, Awan mengalami keterpurukan di dalam hidupnya dan membuat dirinya hilang semangat.

Di tengah kesedihannya, Awan bertemu dengan seorang pria bernama Kale (Ardhito Pramono) yang membuka banyak hal baru bagi gadis itu. Berkenalan dengan Kale membuat sikap Awan berubah. Hal ini lantas membuat kedua orangtuanya tidak senang dan meminta Awan untuk menjauhi Kale.

Situasi dalam keluarga itu pun memanas, dan memicu konflik demi konflik, yang berujung pada terbongkarnya rahasia dan trauma besar dalam keluarga mereka. Kira-kira apa rahasia itu?

Keluarga Cemara mengisahkan kehidupan Abah dan Emak bersama anak-anak mereka, Euis dan Ara, yang berubah drastis setelah Abah bangkrut. Mereka tidak punya pilihan lain selain pindah ke daerah terpencil di Jawa Barat, tempat mereka menghadapi tantangan baru, termasuk perubahan sekolah bagi Euis dan Ara.

Di tengah keterbatasan, keluarga ini tetap menjalani kehidupan dengan ceria dan penuh kasih sayang, meski tidak lepas dari perbedaan pendapat.

Pindah ke desa juga membawa dinamika baru bagi keluarga ini. Euis awalnya kesulitan beradaptasi dengan sekolahnya yang kurang modern, namun akhirnya bisa menerima situasi keluarganya. Emak pun berusaha menambah penghasilan dengan berjualan opak, dan di tengah kesulitan ekonomi, ia hamil anak ketiga.

Keluarga ini juga menghadapi cobaan ketika Abah terluka sebagai kuli bangunan, namun ia bisa bangkit kembali dengan menjadi driver ojek online. Film ini menampilkan kekuatan dan kebersamaan keluarga Abah dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan semangat, kasih sayang, dan kerja keras, mereka berusaha mengatasi berbagai rintangan.

Rumah produksi Ideosource Entertainment bekerjasama dengan beberapa PH lainnya merilis film berjudul Losmen Bu Broto. Diadaptasi dari serial jadul kanal TVRI berjudul Losmen yang tayang di sepanjang tahun 1986-1989, narasinya menyoroti kelanjutan kisah Pak Broto (Mathias Muchus) dan Bu Broto (Maudy Koesnaedi) dalam mengelola losmen keluarga.

Sudah lama sekali Losmen Bu Broto hadir melayani para tamunya. Sebuah penginapan sederhana nan nyaman di kawasan Yogyakarta ini terkenal karena mampu memberikan rasa kekeluargaan selama menginap di sana.

Tak sendiri, Bapak dan Ibu Broto juga dibantu oleh ketiga anak mereka yakni Mbak Pur (Putri Marino), Jeng Sri (Maudy Ayunda), dan Mas Tarjo (Baskara Mahendra). Namun, keadaan keluarga yang tampak baik-baik saja di permukaan ternyata menyimpan banyak masalah.

Mbak Pur masih diliputi duka atas meninggalnya sang calon suami, mimpi Jeng Sri juga ditolak mentah-mentah sebagai penyanyi oleh bapak dan ibunya. Mas Tarjo sendiri punya masalah karena kuliahnya mandek. Lantas, bagaimana mereka semua bisa memperlihatkan kebahagiaan sampai para tamu losmen mereka itu betah tinggal di sana?

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *