Review Film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023)

Review Film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023)

Melalui Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023), Yandy Laurens menyodorkan olahan sajian yang amat segar–sensasi yang mungkin ditunggu-tunggu penonton. Film ini  juga mengobrak-abrik sebagian sisi perfilman Indonesia yang “menjemukan” akhir-akhir ini.

Kisah Jatuh Cinta Seperti di Film-Film berpusat pada penulis skenario film, Bagus (Ringgo Agus Rahman). Ia terobsesi pada Hana (Nirina Zubir), kawan lamanya yang baru saja ditinggal wafat suaminya. Ia diam-diam menyusun naskah film romansa tentang  jalinan kisah ia dan Hana. Ia berharap kelak Hana dapat menyambut cintanya.

Kebayang gak sih, ada film romance, pemerannya udah seumuran kita. Siapa yang mau nonton?

sepotong dialog Hana saat mendengar ide Bagus yang masih dirahasiakan.

Refleksi Perfilman dan Janji Joni

Penokohan Bagus dimanfaatkan dengan jitu oleh Laurens untuk mengeker isu-isu perfilman. Ia memanfaatkan Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (JCSDFF) sebagai cermin untuk mengoreksi industri film Indonesia. Misalnya adalah serbuan film horor di bioskop sebab laba semata, ketidaksetaraan gender, kemandekan skenario film, dan eksploitasi pekerja film.

Upaya ini mengingatkan kita pada film Janji Joni (2005), film arahan Joko Anwar yang dibintangi  Nicholas Saputra. Abstraksi Janji Joni, pada awal film, ditunjukkan dengan adegan orang yang berlalu lalang dalam pandangan kosong. Dalam benak, mereka membayangkan diri mereka merupakan tokoh-tokoh dalam film favorit mereka. 

Gak sedikit dari orang-orang yang hidupnya berubah karena film, termasuk temen-temen gue,

sepotong dialog Joni.

Film yang berpusat pada tokoh pengantar rol film ini mengeker proses pembuatan film hingga tiba di hadapan penonton. Banyak adegan sarkas yang ditampilkan, misalnya “selera” produser yang hanya diarahkan pada laba alih-alih kecintaannya pada seni—hal yang masih relevan pada JCSDFF.

Ide mengenai obsesi pada film juga ditampilkan dalam JCSDFF. Berbeda dengan Janji Joni, film ini membingkai aspek romansa secara padat dan menjadikannya sebagai “bahan bakar” cerita. Untuk menekankan aspek ini, ditampilkan pula penokohan Hana sebagai penyuka aneka bunga. Simbol bunga ini coba dieksplorasi dalam kisah: kematian dan kebahagiaan, tidak hanya tempelan.

Usaha mewujudkan kisah romansa yang “berdaya ledak” dipenuhi oleh adu akting Rahman dan Zubir yang apik dan genap chemistry. Keduanya berhasil menghidupkan tokoh Bagus dan Hana dengan kuat. Hal ini, mungkin tidak terlepas dari  kerja sama keduanya pada proyek Laurens yang lalu, Keluarga Cemara (2018), dan Keluarga Cemara 2 (2022) arahan Ismail Basbeth sebagai pasangan suami istri.

Selain itu, dengan mengambil latar kelas menengah, dimunculkan banyak dialog-dialog panjang yang substantif di JCSDFF. Dengan pemilihan bahasa cakapan, ide yang ditampilkan “mulus landas” di benak penonton. Jika kepadatan mulai terasa, ada siasat yang  telah disiapkan Laurens: adegan pencair yang berhasil menjaga perhatian penonton hingga adegan penutup, sequence delapan.

Referensi La La Land dan Hitam Putih

Dengan terbuka, pada sebuah dialog, film ini mengambil referensi La La Land (2016) arahan Damien Chazelle. Film drama musikal ini mengisahkan hubungan Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling) yang retak sebab hasrat menyusun karier pribadi lebih menggebu-gebu.

Dengan kemunculan abstraksi tersebut di awal kisah, kita mungkin lekas mengira-ngira bahwa akan ada dua plot yang disajikan: yang membahagiakan dan yang menyengsarakan. Desakan rasa ingin tahu tersebut lekas terbayar dengan tampilan hitam-putih yang memenuhi layar. Gaya ini rupanya dimanfaatkan Laurens untuk memisahkan dua alur, yang ada pada benak Bagus dan yang sedang terjadi, serta kepentingan plot cerita. 

Gaya ini juga berhasil menampilkan intensitas emosi para tokoh-tokoh dengan optimal, terutama pada tokoh Hana. Ada sorotan kamera yang merekam air muka dengan pengambilan dekat dalam sekian waktu. Hal ini kemudian didukung oleh rentetan latar musik  yang menghidupkan suasana yang dibangun.

Sebenarnya, pemilihan sajian hitam-putih bukan sesuatu yang baru di film Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya adalah film garapan Eddie Cahyono, Siti (2014). Serupa dengan JCSDFF, usaha ini dapat menggambarkan luapan emosi Siti dengan intens. Dikisahkan, suaminya lumpuh, utang menggunung, pekerjaan sebagai penjual peyek tidak menghidupi. Dengan latar suara debur ombak dan tampilan hitam putih, pasang surut emosi film ditampilkan pada film ini optimal.

Kesegaran

Film ini juga memuat berbagai keluwesan teknis. Batas antara plot yang ada di kepala Bagus dan yang sedang terjadi dilesapkan. Oleh sebab itu, ada ruang “bermain” di antara yang terjadi dan yang ada di benak Bagus yang dapat memancing sensasi menghibur.

Misalnya adalah adegan “judul film” yang memenuhi layar dalam sekian waktu untuk mengonkretkan ide Bagus ketika menawarkan idenya ke produser film, Yoram (Alex Abbad). Ada pula pengambilan gambar film yang berubah-ubah untuk mengongkretkan ide Cheline (Sheila Dara), tokoh editor film yang sedang membayangkan Bagus dalam film.

Selain itu, kehadiran Julie Estelle dan Dion Wiyoko, yang dikisahkan sebagai pemeran Hana dan Bagus, pun dapat dimanfaatkan dengan baik untuk pengembangan cerita ataupun “utak-atik” sajian. Evaluasi tokoh coba ditampilkan saat keduanya menggugat naskah film yang dibuat Bagus. Walhasil, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023) tidak hanya segar, tetapi juga padat “nutrisi”. Film ini dapat membawa angin segar untuk film Indonesia yang sebagian sisinya mandek, utamanya kreasi skenario film.

Baca juga: Past Lives (2023) – Daya Pukau Masa Lampau

Penulis: Anggino Tambunan
Penyunting: Muhammad Reza Fadillah

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *