Bobot Baterai dan Populasi Jadi Alasan Produksi Truk Listrik Belum Secepat Mobil Elektrifikasi

Suara.com – Di tengah maraknya perkembangan mobil listrik kelas passenger car, situasi di sektor commercial vehicle termasuk truk belum bisa mengikuti apalagi menyamai.

Dikutip dari kantor berita Antara, Yannes Martinus Pasaribu, seorang pengamat otomotif Indonesia memberikan pandangan seputar mobil listrik kelas komersial termasuk truk bertenaga listrik.

Akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menyatakan harga kendaraan listrik di segmen besar atau niaga masih cenderung tinggi. Sehingga transisi para pengguna serta produksi pun belum sebanyak passenger car tenaga listrik.

“Kondisi ini di luar bobot barang yang harus diangkut. Jelas akan mengurangi daya angkut barangnya hanya karena harus menggendong baterai yang sangat berat,” kata Yannes Martinus Pasaribu.

Baca Juga: Tim Dosen ITS Rancang SPBKLU: Praktis, Singkat, Tukar Baterai, Bisa Diterapkan untuk Motor GESITS

Kini menilik populasi, kendaraan niaga dalam negeri hanya sekitar 1 persen dari jumlah total populasi 149,7 juta lebih kendaraan bermotor yang ada di Indonesia.

Sehingga konsentrasi pengembangan baterai kendaraan listrik atau Battery Electric Vehicle (BEV) jangka menengah secara strategis lebih tepat ditujukan bagi kendaraan penumpang roda empat dan roda dua. Keduanya memiliki populasi paling besar.

Bila menyimak harga mobil listrik kelas passenger car di Indonesia masih cenderung tinggi jika dibandingkan dengan daya beli masyarakat yang berkisar di angka Rp 200-300 jutaan, bisa dibayangkan pula harga kendaraan elektrifikasi kategori commercial vehicle.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.