6 Fakta Seputar Film Prey (2022) yang Menarik untuk Disimak

Gairah para fans Predator mulai menggeliat lagi setelah film Prey mendobrak tahun 2022 dengan kualitasnya yang di atas rata-rata. Selain memiliki cerita yang bagus serta akting pemerannya yang apik, adegan aksinya juga seru dan sadis.

Ditambah kerja kamera dan sinematografi yang mampu menciptakan atmosfer menegangkan, membuat film ini tampil beda dari film-film Predator sebelumnya.

Proses produksi dalam mode senyap, membuat film ini tidak terdeteksi publik dan dianggap remeh ketika tanggal rilisnya sudah dipastikan yang kemudian ditayangkan secara streaming di Hulu.

Di balik film berjudul Prey ini, banyak fakta menarik yang harus kalian ketahui. Apa saja fakta itu? Yuk, langsung simak artikel berikut ini.

Baca juga: Sinopsis & Review Predator, Makhluk Misterius Menyerang Manusia

1. Proses Syuting Dilangsungkan di Kanada

Proses Syuting Dilangsungkan di Kanada

Sebelum memulai proses syuting, para pemeran menjalani pelatihan bela diri dan penggunaan senjata selama 4 bulan dibawah bimbingan pelatih profesional dari suku Indian.

Dan bagi Amber Midthunder, dia dilatih secara khusus untuk menggunakan kapak sehingga terlihat meyakinkan saat menggunakannya di dalam film.

Demi sesuai dengan latar lokasi dalam ceritanya, Prey melangsungkan syuting di kawasan Great Plains Utara, Kanada. Lebih tepatnya, keseluruhan syuting berada di Calgary yang merupakan wilayah hunian suku Stoney Nakoda.

Sebelum proses awal syuting dimulai, kepala suku dan beberapa warganya mengunjungi lokasi dan melakukan upacara untuk menghormati arwah-arwah leluhur. Secara total, proses syuting film ini berlangsung selama 7 bulan lamanya, dimulai di bulan Februari 2021 dan berakhir di bulan September 2021.

Untuk adegan serangan Predator kepada perompak Prancis berlangsung selama 8 hari dan dianggap oleh tim produksi sebagai syuting yang paling melelahkan. Uniknya, Amber Midthunder sendiri adalah keturunan dari suku Nakoda tersebut, meski secara tidak langsung.

Begitu juga salah satu produser film ini, Jhane Myers, yang juga keturunan suku Nakoda dari garis neneknya. Dengan begitu, kepala suku Nakoda menyambut dengan hangat proses syuting film ini di wilayahnya.

2. Dibintangi oleh Para Pemeran Keturunan Indian

Dibintangi oleh Para Pemeran Keturunan Indian

Selain melakukan syuting di lokasi wilayah asli suku Indian, film Prey juga dibintangi oleh para aktor dan aktris keturunan Indian, sehingga kesan autentiknya sangat kuat terasa. Amber Midthunder dilahirkan di tengah-tengah suku Navajo di Shiprock, New Mexico.

Dia adalah keturunan suku Assiniboine yang kini lebih dikenal dengan nama Nakoda yang tinggal di kawasan Great Plains Utara.

Kini dia terdaftar sebagai anggota Fort Peck Indian Reservation yang berlokasi di Montana. Lalu ada Dakota Beavers, pemeran Taabe, yang juga keturunan Indian di kawasan Meksiko.

Baca Juga:

Pemeran ibu Naru dan Taabe, Michelle Thrush, juga berdarah Indian dari suku Cree yang masih berlokasi di daerah Calgary. Para pemeran suku Indian Comanche lainnya juga adalah aktor keturunan Indian yang berada di sekitar wilayah Calgary.

3. Menampilkan Beberapa Bahasa Asli Karakternya

Menampilkan Beberapa Bahasa Asli Karakternya

Film Prey menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya yang digunakan oleh suku Indian. Namun hampir dalam setiap dialognya mereka juga menggunakan bahasa Indian Comanche meski tidak sering. Karena para pemerannya adalah keturunan asli Indian, jadi dialog dalam bahasa Indian ini terdengar sangat natural.

Dan ketika Naru bertemu dengan sekelompok perompak Prancis, mereka hanya menggunakan bahasa Prancis saja, tidak menggunakan sepatah kata pun dalam bahasa Inggris. Kecuali Raphael Adolini yang kemudian berbicara bahasa Inggris, bahasa Indian bagi Naru, karena dia menguasai banyak bahasa.

Hal ini membuktikan bahwa Dan Trachtenberg sangat memperhatikan keautentikan film ini, baik dari kostum, bahasa, lokasi dan hal-hal lainnya. Inilah salah satu keunggulan film Prey.

4. Keakuratan dengan Fakta Sejarah

Keakuratan dengan Fakta Sejarah

Karena memiliki salah satu produser dari suku Indian, maka film ini memiliki tingkat kedetailan yang tinggi terkait semua unsur kehidupan suku Comanche di era 1700an. Mulai dari pakaian yang dikenakan, pengaturan desa, gaya hidup berburu, semuanya sesuai dengan fakta sejarah.

Budaya Comanche digambarkan secara akurat, dimana kaum pria lebih banyak melakukan aktivitas fisik, seperti berburu. Dan kaum wanitanya sebagai pengasuh yang mengurus rumah, anak-anak dan makanan.

Begitupun dengan tampilan para perompak Prancis, baik dari pakaian, persenjataan, gaya bicara hingga cara mereka menyiksa tawanan, sangat sesuai dengan zamannya.

5. Memiliki Hubungan Unik dengan Film-Film Sebelumnya

Memiliki Hubungan Unik dengan Film-Film Sebelumnya

Sebagai sebuah film dengan latar waktu berbeda zaman dengan empat film lainnya, bisa saja Prey tidak memiliki banyak hubungan dengan film-film tersebut.

Tapi ternyata, Patrick Aison sebagai penulis naskah dengan cerdas menempatkan beberapa hal yang membuat hubungan film ini dengan yang lainnya terasa erat.

Pistol flintlock produksi tahun 1715 dengan nama Raphael Adolini yang tertulis di atasnya adalah pistol yang sama yang diberikan oleh Predator kepada Letnan Mike Harrigan di akhir film Predator 2 (1990).

Di film Prey, pistol ini diberikan oleh Raphael sendiri kepada Naru sebagai imbalan pengobatannya. Dan Naru menggunakannya untuk menembak kepala Predator.

Lalu, Taabe berkata mengenai Predator, “If it bleeds, we can kill it.” Kalimat ini pernah diucapkan oleh Mayor Dutch yang diperankan oleh Arnold Schwarzenegger di film Predator (1987). Naru pun memiliki kalimat yang sama dengan Mayor Dutch, yaitu “Do it, do it now!


Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.