Sinopsis & Review The King of Comedy, Mimpi Besar Menjadi Komika

Dalam 10 tahun terakhir, Indonesia sedang dilanda tren stand-up comedy. Ada berbagai ajang pencarian bakat diselenggarakan. Nama-nama komika pun semakin hari semakin menguasai panggung komedi.

Nggak mengherankan kalau orang-orang mulai berpikir untuk menjadikan komika sebagai profesi. Terbukti dengan beragamnya latar belakang para komika saat ini.

Menjadi komika sekilas terlihat sederhana. Cukup dengan berdiri di depan panggung, memegang microphone dan melontarkan bit. Kenyataannya, untuk menjadi komika sukses butuh perjuangan yang panjang.

Mimpi besar menjadi komika menjadi cerita yang diangkat dalam film The King of Comedy. Seperti apa sinopsis dan review filmnya? Yuk kita bahas.

Sinopsis

the-king-of-comedy-2_
  • Tahun Rilis: 1983
  • Genre: Drama, Black Comedy
  • Produksi: Embassy International Pictures
  • Sutradara: Martin Scorsese
  • Pemain: Robert De Niro, Jerry Lewis, Sandra Bernhard, Diahnne Abbott, Shelley Hack

Rubert Pupkin adalah seorang pria berusia 30-an yang hidup di New York. Dia bercita-cita ingin menjadi komika yang sukses. Jerry Langford, seorang host sekaligus comedian tengah berada di puncak karirnya. Setelah syuting selesai, penggemar mengerubunginya. Rupert membukakan jalan supaya Jerry bisa masuk ke mobilnya dengan mudah.

Jerry membiarkan Rupert ikut naik ke mobilnya. Rupert mengungkapkan niatnya untuk menjadi pengisi di acara yang dibawakan Jerry. Mengetahui hal itu, Jerry pun setuju dan mengatakan bahwa Rupert harus mengirimkan materi stand-up ke kantor.

Dengan begitu, Jerry bisa menilai apakah Rupert layak tampil atau nggak. Rupert merasa jalan untuk menggapai mimpinya sudah terbentuk.

Rupert mengajak Rita, bartender yang disukainya untuk makan malam. Ketika makan malam, Rupert memperlihatkan koleksi tanda tangan selebritis yang dia dapatkan.

Dia juga mengatakan bahwa dia akan segera menjadi bintang besar. Rita menganggap Rupert nggak serius. Tapi gelagat Rupert nggak menunjukkan bahwa dia sedang bercanda.

Rupert mempersiapkan materi stand-up di ruang bawah tanah rumahnya. Ibunya cukup sering terganggu oleh suara Rupert, tapi Rupert bergeming. Dia terus berlatih. Dalam pikirannya, dia merasa dirinya dan Jerry berteman akrab. Dia membayangkan bahwa Jerry akan menyebut Rupert sebagai seorang jenius dalam dunia komedi.

Rupert mencoba mengirim rekaman materi stand-up ke kantor Jerry. Setelah menunggu, Rupert nggak kunjung mendapatkan kabar. Dia pun secara rutin mengunjungi kantor Jerry.

Sayangnya upaya itu selalu gagal. Jerry begitu sulit ditemui. Marsha, seorang penggemar fanatik Jerry mendesak Rupert untuk mengirimkan surat buatannya. Rupert memanfaatkan Marsha dengan meminta bayaran.

Rupert selalu gagal menemui Jerry. Suatu waktu, dia ditemui oleh staff Jerry, Cathy Long. Cathy mengaku sudah mendengar materi yang direkam Rupert. Dia menilai Rupert perlu lebih banyak jam terbang untuk bisa tampil di acara Jerry.

Rupert tetap bersikeras bahwa dia ingin bertemu langsung dengan Jerry. Cathy terus menolak. Bosan terus ditolak, Rupert memanfaatkan kelengahan Cathy. 

Rupert menyusup masuk ke kantor Jerry untuk mendapatkan alamatnya. Rupert kemudian mengajak Rita untuk pergi ke rumah Jerry. Pada Rita, Rupert bercerita bahwa dia akan bertemu dengan koleganya.

Jerry terkejut menemukan Rupert dan Rita di rumahnya. Mereka berdua pun diusir. Rupert mengatakan akan bekerja 50 kali lebih keras untuk bisa tampil di acara Jerry.

Menggunakan cara yang baik selalu membuahkan kegagalan. Rupert mengajak Marsha untuk bekerja sama menculik Jerry.

Baca juga:

Mereka berhasil menculik Jerry ketika Jerry berjalan di tempat sepi. Marsha diberikan kesempatan untuk berduaan dengan Jerry. Sedangkan Rupert meminta Jerry memberinya kesempatan tampil di televisi. Akankah keinginan Rupert terwujud?

Komedi ala Martin Scorsese

the-king-of-comedy-3_

The King of Comedy disutradarai oleh Martin Scorsese. Film ini menjadi film kelima yang melibatkan kerjasama Scorsese dengan Robert De Niro. Tapi film inilah yang menjadi pembeda dari karya-karya sutradara kawakan itu. Pasalnya, film ini mengusung genre komedi. Sementara sang sutradara dikenal lewat kecemerlangannya dalam genre crime.

Lantas bagaimana komedi ala Scorsese? Kita nggak akan dibuat tertawa lepas. Komedi yang disajikan di film ini adalah komedi hitam.

Dibanding memancing tawa, film ini lebih banyak menyoroti tragedi. Hidup Rupert nggak ubahnya tragedi. Dia mengharap pengakuan yang nggak kunjung datang. Bahkan ketika kesempatan seolah terbuka, dia masih saja mengalami kegagalan.

Dari sekian banyak film yang ada, mungkin film ini menjadi salah satu yang paling pahit. Penggunaan comedy dalam judul seolah-olah makin menambah luka.

Kita akan merasakan simpati pada sosok Rupert. Dia merupakan orang biasa yang punya mimpi besar. Tapi mimpi itu membuatnya berhalusinasi. Pada akhirnya, dia memilih cara instan untuk mewujudkan mimpinya. 

Film ini berjalan dengan tempo lambat. Malah adegan Rupert mendatangi kantor Jerry terasa terus diulang-ulang. Tapi hal itu sebenarnya ditujukan untuk menguatkan narasi kerasnya tekad Rupert.

Dari segi karakter, baik Rupert maupun Jerry diberikan pendalaman yang solid. Dengan begitu, kita bisa memahami keputusan-keputusan yang mereka buat.

Satir Dunia Selebritas

the-king-of-comedy-4_

Jerry Langford dalam The King of Comedy menjadi representasi hidup selebritis. Dia cerdas membawakan acara, mampu melempar lelucon yang mengundang tawa dan mendapat penghasilan besar.

Acaranya pun digemari oleh banyak orang. Nggak mengejutkan lagi kalau dia kesulitan hidup di tengah kota. Maka dari itu, dia memilih tinggal di wilayah perumahan mewah di pinggiran kota.

Jerry terpaksa berbohong ketika dia meminta Rupert menelepon ke kantor. Baginya, Rupert hanyalah seorang penggemar biasa. Keputusannya memberi nomor telepon hanyalah bentuk basa-basi.

Begitu juga ketika dia melewatkan rekaman materi Rupert. Dia nggak pernah serius waktu bilang akan mendengarkan rekaman materi Rupert. 

Film ini nggak coba membuat karakter-karakternya hitam atau putih. Keputusan Jerry nggak menganggap serius Rupert bisa dimengerti. Dia merupakan orang yang sibuk.

Begitu juga dengan obsesi Rupert yang ingin tampil di acara Jerry. Baginya, acara itu merupakan benchmark tertingginya untuk tampil sebagai komika. Scorsese tampaknya nggak ingin ada tawa di filmnya ini. 

Kalau diperhatikan, tawa dari karakter-karakter yang ada sangat tampak dibuat-buat. Itu bukan karena performa aktornya yang buruk. Justru mereka bisa memalsukan itu demi membuat hidup mereka seolah-olah menyenangkan.

Secara sinematografi pun, sang sutradara tampil berbeda. Pergerakan kamera dinamis yang menjadi ciri khasnya nyaris nggak muncul di film ini.

Penampilan Mengagumkan Robert De Niro

the-king-of-comedy-5_

Robert De Niro tampil sebagai Rupert di The King of Comedy. Bagi yang terbiasa melihat De Niro begitu gagah menjadi anggota kriminal, mungkin akan terkejut. Pasalnya di film ini, penampilannya dibuat begitu cupu. Dia pergi ke mana-mana dengan menggunakan jas. Rambutnya selalu disisir rapi. Panjang kumisnya nyaris selalu sama.

Keterampilan De Niro memainkan Rupert bukan hanya dari tampilan fisiknya. Dia juga bisa membawa Rupert menjadi sosok yang membuat orang-orang di sekitarnya nggak nyaman. Dia nggak tampil kikuk. Justru sebaliknya, dia seperti sosok dengan rasa optimis yang berlebihan. Padahal nggak ada orang-orang yang menerima kehadirannya.

The King of Comedy merupakan sebuah jebakan. Ekspektasi akan menyaksikan raja komedi melempar lelucon justru dibalikkan. Sebagai gantinya, kita diberi perjalanan pahit Rupert untuk mewujudkan mimpinya.

Durasi selama 109 menit akan terasa panjang di awal. Menuju akhir, semua itu akan terasa terlalu cepat. Film Robert De Niro favorit kamu apa? Kasih tahu di kolom komentar, yuk!

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.