Review Film Pengabdi Setan 2: Communion (2022)

Review Film Pengabdi Setan 2: Communion (2022)

Kesuksesan film pertama membuat Pengabdi Setan 2: Communion (2022) seolah ditakdirkan akan sukses lagi, apa pun kisahnya. Walhasil, Joko Anwar menjadikan film kedua ini menjadi ladang bermain. Banyak permainan visual apik yang ditampilkan dalam PS 2 ini.

Lanjutan kisah masih berpusat pada keluarga Suwono (Bront Palarae) dan anak-anaknya, Rini (Tara Basro), Toni (Endy Arfian), dan Bondi (Nasar Anuz). Latarnya pun beberapa tahun setelah kejadian film pertama. Kali ini mereka tinggal di apartemen murah di tepi laut. Jelang badai, banjir kiriman menjadi problem para penghuni apartemen.

Rupanya, misteri takhenti di situ. Teror kembali mendatangi keluarga Suwono. Walau ada unsur eksternal dari apartemen tersebut, semua teror tersebut terasa seperti kebetulan.

Tekanan untuk Sukses Lebih Besar

Joko Anwar menanggung beban besar setelah film pertamanya disebut-sebut telah mendorong standar perfilman horor Indonesia. Kebanyakan sekuel takmampu menanggung ekspektasi besar setelah kesuksesan film pertamanya. Namun, sambutan masyarakat yang besar membuat film ini seperti sudah ditakdirkan untuk sukses.

Dari segi finansial sepertinya aman, tetapi kualitas harus tetap dijaga. Hal apa yang ingin dihadirkan serta ditingkatkan sang sineas dalam film kedua bisa membuat kesuksesan lebih besar lagi, atau malah eksperimennya gagal. Joko Anwar pun sedikit melupakan tekanannya dan menjadikan film keduanya ini sebagai ladang bermain.

Pengabdi Setan 2: Communion ini memang takbanyak bercerita, takseperti film pertamanya. Kali ini, Joko Anwar banyak bermain dalam segi teknis. Dalam ruang apartemen yang sempit, pergerakan kameranya begitu leluasa, takterperangkap oleh dinding-dinding keras yang membatas.

Begitu juga dengan segi penyuntingan film yang memikat. Transisi demi transisi dipasang begitu halus. Salah satu yang paling memikat ialah adegan ketika tokoh Tari (Ratu Felisha) salat dan dekorasi ruangannya berubah seiring kamera ditutupi oleh mukena. Selain itu, ada juga keberanian Anwar untuk tetap membuat filmnya gelap, tetap memainkan cahaya minim tanpa melewatkan detail-detail penting.

Banyak lagi aspek-aspek teknis yang terasa begitu terukur, seakan Joko Anwar merancang skenarionya dengan detail hebat. Namun, taksemua tekniknya berhasil juga. Salah satunya ada pada adegan klimaks. Efek lampu foto kedap-kedip dalam waktu lama sedikit mengganggu dan justru sedikit menurunkan intensitas pada adegan puncak ini. Selain itu, terlalu banyak juga transisi hitam gelap kosong

Rancangan teknis untuk filmnya hebat, tetapi ceritanya sangat minim. Takbanyak yang ditawarkan dalam segi ini dan sepanjang dua jam, kita sepertinya hanya diterpa oleh teror demi teror. Memang perjalanan yang menyenangkan, tetapi di satu sisi bagian ini terasa kosong.

Walaupun minim dan terkesan kosong, film kedua ini mampu menjaga penonton dengan pengupasan misteri-misterinya. Kala teror filmnya dimulai, PS 2 ini seperti berubah menjadi gim video bergenre horor dari cara pengupasan misterinya. Di setiap sudut apartemen, ditebar beberapa petunjuk yang ditemukan oleh karakter-karakter utamanya.

Minimnya narasi memang bukan masalah besar karena sudah terobati dengan cara pengupasan misteri seperti gim ini. Walaupun begitu, hal tersebut tetap membuat kita terusik karena layaknya menaiki roller-coaster, ketika wahananya usai, semua ketegangan dan semua teror itu cuma jadi perasaan sejenak.

Menarik sekaligus kosong, rasanya PS 2 memang kembali ke wujud awalnya: ladang bermain Joko Anwar. Mungkin hal ini ada baiknya juga. Ia taklagi terbelenggu dengan nilai-nilai moral yang ia coba hadirkan pada film pertama, tetapi gagal karena beberapa plotnya mengingkari nilai tersebut.

Dari segala kelebihan dan kekurangan dalam film ini, Joko Anwar sepertinya sadar akan kekurangannya di film-film sebelumnya: dialog para pemain yang takjelas. Di Pengabdi Setan 2: Communion, ia memperbaiki hal ini. Para karakternya diajak untuk lebih menikmati adegan dalam beraksi terutama bertutur, takseperti film-film Jokan sebelumnya.

Seusai menonton, kita pun dihadapi pertanyaan dasar: apakah film ini lebih baik dari pendahulunya? Di satu sisi iya, di sisi lain tidak. Secara keseluruhan, mungkin bisa dibilang iya. Aspek teknisnya begitu megah sehingga kita cukup menikmatinya saja tanpa embel-embel nilai moral. Itulah Pengabdi Setan 2: Communion.

Baca juga: Pengaruh Pengabdi Setan (2017) terhadap Kafir (2018) dan Sebelum Iblis Menjemput (2018)

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.