Review & Sinopsis Urban Legend, Dendam Sang Pembunuh Berantai

Dirilis hampir 24 tahun yang lalu, pada tanggal 25 September 1998, Urban Legend hingga sekarang ini bisa dibilang menjadi salah satu film slasher yang kurang diperhitungkan.

Di tahun 1990-an, film ini bersaing dengan sejumlah film slasher lainnya mulai dari I Know What You Did Last Summer (1997), Scream (1996), dan Halloween H20 (1998).

Film ini digarap oleh sutradara Jamie Banks, dan naskahnya ditulis oleh Silvio Horta, serta merupakan angsuran pertama dalam trilogi Urban Legend. Dua sekuel selanjutnya, Urban Legends: Final Cut, rilis pada tahun 2000, dan yang ketiga, Urban Legends: Bloody Mary, tayang di tahun 2005.

Sebagai sebuah film jadul tahun 90-an, Urban Legend bisa membawa kita untuk bernostalgia terhadap film bergaya slasher yang klasik dengan pembunuhan penuh darah.

Nah, untuk mengenang kembali keseruan dalam film yang satu ini, berikut di bawah ini adalah sinopsis sekaligus ulasannya. Selamat membaca!

Sinopsis

urban legend-5_
  • Tahun Rilis: 1998
  • Genre: Slasher
  • Produksi: TriStar Pictures, Original Film, dan Phoenix Pictures
  • Sutradara: Jamie Banks
  • Pemeran: Jared Leto, Alicia Witt, Rebecca Gayheart, dan Loretta Devine

Seorang mahasiswi dari Universitas Pendleton, Michelle Mancini, tengah mengendarai mobil seorang diri pada malam hari. Dia masih tidak menyadari jika seorang pembunuh berantai sedang bersembunyi di kursi belakang mobilnya.

Ketika hujan turun di perjalanan, sang pembunuh lalu menampakan diri. Ia lalu membunuhnya secara kejam Sementara itu di dalam kampus, Parker, Natalie, dan Brenda, tengah berkumpul membicarakan sebuah peristiwa pembunuhan Stanley Hall yang mengerikan.

Mahasiswa jurnalistik, Paul, bergabung dengan mereka. Ia mengatakan bahwa peristiwa tersebut hanyalah urban legend yang merupakan karangan belaka.

Esok harinya, berita kematian Michelle mulai menyebar di seluruh kampus. Dekan Universitas Pendleton, Adams, lalu meminta kepada polisi kampus, Reese, untuk menutupi kabar tersebut agar tidak meresahkan seluruh mahasiswa. Berita kematian Michelle membuat Natalie sangat bersedih karena dia adalah teman baiknya saat di bangku SMA.

Mahasiswa yang bernama Damon kemudian menemui Natalie dan mencoba untuk menghiburnya. Dia lalu mengajaknya berpergian menggunakan mobil ke sebuah tempat yang sepi di dalam hutan.

Saat Damon keluar dari mobil, seorang tidak dikenal yang menggunakan jaket tebal tiba-tiba menyerangnya. Ia lalu tewas dengan tubuhnya digantung di atas pohon oleh pembunuh tersebut.

Natalie mencoba untuk menyelamatkan diri dari sang pembunuh dan berhasil meminta bantuan Reese. Ketika keduanya kembali ke dalam hutan, mayat Damon tidak ditemukan, dan jejak pembunuhnya pun menghilang begitu saja. Reese merasa telah dibohongi oleh Natalie, dan dia tidak percaya akan ceritanya tesebut.

Parker dan pacarnya, Sasha, juga tidak percaya jika Damon telah dibunuh. Mereka meyakinkan Natalie bahwa dirinya telah dikerjai oleh Damon. Natalie pun mencoba percaya kepada saran mereka, mengingat Damon adalah seorang mahasiswa yang sering usil dan membuat onar.

Pada malamnya, Natalie kembali ke kamar asramanya dan melihat teman sekamarnya, Tosh, sedang terlihat berhubungan intim dengan pasangannya.

Esoknya, Natalie melihat mayat Tosh yang tewas penuh darah. Dirinya langsung kaget karena pada malam itu sang pembunuh berada di kamarnya dan tengah menghabisi nyawa Tosh.

Kasus pembunuh dan peristiwa tewasnya Michelle membuat kehidupan Natalie jadi terganggu. Lingkungan kampus pun menjadi lebih mencekam karena sang pembunuh bisa saja berada diantara para mahasiswa.

Di lain sisi, Paul mendapatkan fakta jika peristiwa Stanley Hall bukanlah urban legend semata, namun sebuah peristiwa nyata yang telah ditutupi.

Baca juga:

Ia juga menemukan informasi jika Profesor Wexler, seorang dosen Cerita Rakyat Amerika di kampusnya, adalah satu-satunya yang selamat dari peristiwa tersebut.

Ketika Paul dan Natalie menyelidiki ruang kerja dari Wexler, ruangan itu berantakan dan ada kapak berlumuran darah. Di saat itu juga, Dekan Adams, tewas terbunuh di parkiran mobil oleh sang pembunuh berantai.

Hampir Mirip Dengan Film Scream

urban legend-2_

Sepanjang lebih dari 90 menit, Urban Legend sebenarnya mampu menjadi film slasher jadul yang bisa berjalan seru, dan juga cukup menghibur.

Akan tetapi, jika kalian pernah menonton film Scream pertama yang rilis di tahun 1996, maka sulit untuk membantah bahwa Urban Legend memiliki banyak kesamaan dengan film tersebut. 

Secara estetis dan konsep, Urban Legend memberikan pendekatan yang hampir serupa. Salah satunya adalah sang pembunuh berantai yang mempunyai motif personal untuk balas dendam terhadap korban utamanya dengan mengincar seluruh teman-teman terdekatnya.

Meskipun kurang lebih mirip dengan Scream, sayangnya film ini tidak bisa mendapatkan kesuksesan yang sama. 

Urban Legend rasanya hanya mampir sekilas dalam ingatan para penggemar film slasher. Namun di lain sisi, film ini masih tetap terasa menyenangkan untuk dinikmati di masa sekarang.

Gaya film slasher 90-an tidak tersaji secara murahan dan tentunya bisa memberikan momen-momen nostalgia kepada kita para penonton.

Dari segi alur ceritanya, Urban Legend menawarkan tempo yang tidak terlalu lambat dan intensitas yang lumayan mencekam.

Dari menit pembuka, kita pun sudah langsung diperlihatkan sebuah peristiwa pembunuhan yang mengerikan. Momen tersebut ternyata tidak berdiri sendiri, dan langsung berkaitan dengan rangkaian pembunuhan yang akan terjadi di Universitas Pendleton.

Sementara itu, dalam film Scream, sang pembunuh berantai mengenakan jubah hitam, topeng, serta menggunakan pisau tajam untuk membunuh para korbannya.

Di sini, sang pelaku terlihat lebih misterius dengan menggunakan jaket tebal musim dingin, wajahnya gelap tidak terlihat, lalu menggunakan kapak dan beragam senjata tajam untuk menghabisi targetnya.

Kedua sosok pembunuh dalam dua film tersebut sama-sama membunuh korban dengan cara yang kejam. Namun, penggambaran sang pembunuh berantai dari film Scream jauh lebih ikonik, dan juga mengerikan jika dibandingkan dengan sosok pembunuh di film yang satu ini.

Motif Balas Dendam yang Sepele

urban legend-3_

Pada film Urban Legend, Robert Englund, pemeran karakter Freddy Krueger di franchise film A Nightmare on Elm Street, merupakan pilihan casting yang tepat.

Di sini, ia berperan sebagai Professor William Wexler, dan menjadi sosok yang mencurigakan. Wexler pun menjadi orang pertama yang patut diyakini sebagai sang pembunuh berantai. Namun pada akhirnya dugaan itu meleset total.

Pengungkapan identitas pelaku kemudian terjadi secara tidak disangka-sangka dan seperti terkesan dipaksakan. Sosok pembunuh berantai tersebut ternyata tidak lain tidak bukan merupakan sahabat dekatnya Natalie yang bernama Brenda Bates (Rebecca Gayheart).

Tidak ada yang menyangka bahwa dia adalah seorang “psycho” yang diliputi rasa dendam yang begitu dalam.

Lewat kisah balik yang singkat, kita pun mengetahui motif personalnya kenapa dia membunuh Michelle, dan juga memburu Natalie. Kekasihnya tewas dalam kecelakaan akibat ulah Michelle dan Natalie yang sembrono mengendarai mobil di jalanan ketika keduanya masih bersama-sama di SMA.

Motif balas dendam yang ia perlihatkan memang tidak terlalu kuat dan terasa sepele untuk membuatnya menjadi seorang pembunuh berantai.

Dari seorang gadis manis, dia lalu berubah menjadi pembunuh yang membantai teman-teman dekatnya Natalie. Rebecca Gayheart lalu memainkan karakter jahat ini dengan cukup gila dan kejam.

Selain itu, Jared Leto bermain apik dalam perannya sebagai Paul Gardner, seorang wartawan kampus yang kemudian menemukan dirinya terjebak dalam cerita “Urban Legend” yang tidak dia duga.

Lalu, Alicia Witt layak untuk berperan menjadi Natalie Simon. Dia bisa menunjukan rasa ketakutan, tetapi terkadang ia terlihat canggung dengan dialognya yang sangat kaku.

Masih Tetap Berjalan Seru

urban legend-4_

Urban Legend memang bukanlah film bergenre slasher yang begitu populer jika dibandingkan dengan film bergenre serupa. Film ini sendiri sebenarnya cukup mampu memberikan rasa takut yang diperlukan dalam film horor slasher. Namun sayangnya, film ini harus terlupakan dari antusiasme penonton.

Dengan segala kekurangannya, Urban Legend tidak sepenuhnya murahan dan gagal total sebagai film bergenre slasher. Film ini memang kurang diperhitungkan, tetapi jika ditonton utuh dari menit awal hingga akhir, jalan ceritanya masih tetap menyenangkan dan juga seru.

Selain itu, visual sinematografi yang dikerjakan oleh James Chressanthis di film ini cukup apik. Atmosfer menegangkan bisa terasa di beberapa momen dan suasana horor pun digambarkan secara baik.

Pada akhirnya, Urban Legend tidak terlalu buruk seperti yang dibayangkan dan masih mampu memberikan tontonan slasher yang menghibur. Selamat menonton!

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.