Anggota DPR: Pelonggaran masker bukti keberhasilan tangani COVID-19

Jakarta (ANTARA) –

Anggota Komisi IX DPR Rahmad Handoyo menilai keputusan pelonggaran penggunaan masker menjadi bukti keberhasilan penanganan COVID-19 secara gotong royong.

 

“Apa yang sudah pemerintah buat sebagai hasil kerja sama dan gotong royong. Setelah kita, pemda, tokoh masyarakat, dan semua pemangku kepentingan bergotong royong mengendalikan COVID-19,” kata Rahmad kepada wartawan di Jakarta, Rabu.

 

Rahmad mendukung kebijakan Presiden Joko Widodo mengizinkan masyarakat tidak menggunakan masker di luar ruangan.

 

Rahmad mengatakan pelonggaran penggunaan masker merupakan keputusan penyesuaian, mengingat saat ini kondisi COVID-19 di Indonesia sangat terkendali. Kementerian Kesehatan mencatat rata-rata tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit rujukan COVID-19 nasional sebesar 2 persen per Kamis (12/5).

Baca juga: Anggota DPR apresiasi kebijakan pencabutan kewajiban gunakan masker

 

Rahmad meyakini pemerintah membuat keputusan tersebut berdasarkan masukan, kajian, dan diskusi dengan para ahli serta perbandingan dengan negara lain. Setidaknya 40 negara sudah melonggarkan kebijakan penggunaan masker, bahkan beberapa negara sudah bebas masker.

 

“Ini start kita untuk hidup berdampingan dengan COVID-19 dengan cara seperti itu,” kata Rahmad.

   

Masyarakat wajib menggunakan masker saat berada di dalam ruangan sesuai kebijakan pemerintah.Selain itu, Rahmad mendorong masyarakat tetap mendapatkan vaksin lengkap.

 

“Vaksinasi jadi senjata kita yang cukup efektif untuk melawan COVID-19,” kata Rahmad.

 

Anggota Komisi IX Luqman Hakim mengatakan kebijakan pelonggaran penggunaan masker mencerminkan bahwa pemerintah mengendalikan COVID-19 secara terukur, sistematis, dan konsisten. Dia sepakat keputusan itu sebagai bukti keberhasilan penanganan pandemi berkat peran aktif masyarakat.

   

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan kebijakan tersebut merupakan bagian upaya transisi dari pandemi ke endemi. Pemerintah melakukan upaya transisi secara bertahap dengan memperhatikan imunitas masyarakat terhadap COVID-19, termasuk varian baru Corona BA2

 

“Ternyata BA2 itu sudah dominan juga di Indonesia dan India tetapi berbeda dengan negara-negara lain, seperti China dan Amerika, kita tidak mengamati kenaikan kasus yang tinggi varian baru. Jadi relatif Indonesia dan India imunitas masyarakatnya terhadap varian baru relatif cukup baik,” katanya.

 

Dia mengatakan hasil penelitian antibodi tubuh terhadap virus atau sero survei yang dilakukan pemerintah kepada masyarakat, khususnya di Jawa-Bali jelang mudik Lebaran 2022 menunjukkan bahwa 99,2 persen telah memiliki antibodi baik yang berasal dari vaksin maupun infeksi COVID-19.

 

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kadar antibodi dibanding survei yang dilakukan pada Desember 2021.

Pewarta: Boyke Ledy Watra
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.