Sinopsis & Review Film Murder on the Orient Express

Polisi merupakan pihak yang berwenang dalam menangani kasus kriminal. Mereka diberikan kewenangan untuk meminta keterangan sampai menangkap terduga pelaku tindakan kriminal.

Tapi adakalanya mereka kesulitan menemukan titik terang sampai perlu bantuan pihak lain. Di saat itulah biasanya seorang detektif swasta dipekerjakan untuk mengungkap fakta-fakta yang tersembunyi.

Ada keunikan tersendiri menyaksikan aksi detektif, pasalnya dia harus memiliki kepintaran dan ketelitian yang tinggi. Salah satu tokoh detektif terkenal adalah Hercule Poirot yang ada dalam novel-novel karangan Agatha Christie.

Film Murder on the Orient Express akan menampilkan aksi sang detektif di atas kereta. Seperti apa ceritanya? Ayo simak sinopsis dan review filmnya dulu!

Sinopsis

sinopsis murder on the orient express_
  • Tahun Rilis: 2017
  • Genre: Mystery, Drama
  • Produksi: Kinberg Gene, The Mark Gordon Company, Scott Free Productions
  • Sutradara: Kenneth Branagh
  • Pemain: Tom Bateman, Penelope Cruz, Willem Dafoe, Judi Dench, Johnny Depp, Michelle Pfeiffer

Pada tahun 1934, Hercule Poirot, seorang detektif asal Belgia baru saja menyelesaikan sebuah kasus di Yerusalem. Bouc, teman Poirot, yang merupakan keponakan pemilik kereta bernama Orient Express, menyiapkan perjalanan untuk Poirot kembali ke London. Poirot pun naik ke dalam kereta bersama Bouc dan 13 orang penumpang lainnya.

Edward Ratchett, seorang pebisnis kaya raya asal Amerika menawarkan Poirot untuk menjadi pengawalnya selama tiga hari perjalanan di dalam kereta.

Dia menjelaskan pada Poirot bahwasanya dia menerima sebuah surat bernada ancaman dari orang yang nggak diketahui. Poirot menolak tawaran itu bukan karena masalah nominal uang, melainkan dia merasa Ratchett adalah orang yang sombong.

Pada malam hari, Poirot mendengar suara dari kompartemen yang diisi oleh Ratchett. Dia kemudian melihat seseorang menggunakan kimono berwarna merah berlari di dalam kereta.

Di luar, longsor terjadi dan mengenai mesin kereta, sehingga rusak. Dengan begitu, Poirot harus terdampar bersama 13 orang lainnya sampai mesin kereta bisa diperbaiki.

Pada pagi hari, Poirot menemukan Ratchett sudah tewas. Pebisnis asal Amerika itu diperkirakan tewas karena ditusuk sampai belasan kali.

Dengan bantuan Bouc, Poirot mulai menginvestigasi kasus pembunuhan. Caroline Hubbard, seorang penumpang asal Amerika mengatakan bahwa ada pria yang mengisi kompartemennya pada malam sebelumnya. 

Poirot kemudian menemukan potongan surat yang menghubungkan Ratchett dengan kasus penculikan Daisy Armstrong. Daisy diculik ketika berada di kamarnya dan penculik meminta tebusan.

Walau keluarga Armstrong membayar tebusan, nyawa Daisy sudah melayang. Poirot kemudian menemukan fakta bahwa Ratchett adalah penculik dari Daisy dan nama aslinya adalah John Cassetti. 

Bukti baru ditemukan yaitu saputangan yang berlumuran dengan darah di kompartemen milik Hubbard serta kancing seragam kondektur kereta. Kimono merah ditemukan di koper milik Poirot dan seragam kondektur ditemukan di kabin. Hubbard kemudian ditusuk oleh seseorang tapi nggak sempat melihat wajah sang pelaku. 

Ketika menanyai Mary Debenham yang berprofesi sebagai pelayan, Poirot ditembak di bahu oleh Arbuthnot, penumpang kereta yang berprofesi sebagai dokter.

Arbuthnot mengaku sebagai pelaku pembunuhan. Bouc menahan Arbuthnot yang mencoba untuk membunuh Poirot. Poirot melihat ada kejanggalan dan melihat Arbuthnot sebenarnya nggak berniat membunuhnya.

Baca juga:

Poirot memiliki dua teori yaitu ada orang luar yang berpakaian sebagai kondektur kemudian menghabisi Ratchett atau salah satu dari penumpang keretalah pelakunya.

Masalahnya, semua penumpang kereta memiliki motif untuk menghabisi Ratchett. Siapakah yang sebenarnya melakukan pembunuhan? Akankah Poirot kembali berhasil memecahkan kasus?

Penumpang Orient Express

penumpang orient express_

Poirot memiliki dua teori pembunuh Ratchett. Teori pertama yaitu berasal dari orang luar harus dieliminasi karena kereta tengah berjalan dan berada di wilayah yang sulit dijangkau.

Walau kejadian terjadi sebelum kereta mengalami masalah mesin. Satu-satunya teori yang tersisa adalah pembunuh merupakan salah satu penumpang kereta. 

Para penumpang kereta itu, bukan orang asing, melainkan saling terhubung. Ada anak seorang hakim yang memutus Suzanne, asisten rumah tangga keluarga Armstrong, bersalah. Suzanne meninggal karena bunuh diri.

Ada atasan sekaligus rekan dari John Armstrong. Ada ibu baptis dari Daisy dan teman dari Sonia. Bahkan ada juga diplomat Hungaria sekaligus saudara ipar Sonia. 

Beberapa penumpang juga berasal dari orang dalam keluarga Armstrong. Ada koki keluarga, pelayan keluarga, sampai perawat Daisy yang merasa bertanggung jawab karena Daisy diculik. 

Menariknya film ini, meski karakternya banyak, semuanya diberi latar belakang yang beririsan dengan plot utama. Jadi, masing-masing penumpang punya motif untuk menjadi pelaku. 

Pengemasan Misteri yang Ringan

pengemasan misteri yang ringan_

Sebagaimana mengambil cerita berdasarkan karya Agatha Christie, maka pemecahan misteri yang diangkat dalam film juga diadaptasi dari sana.

Bukti serta kesaksian masing-masing penumpang dimunculkan satu per satu untuk membangun misteri. Hal ini yang membuat penonton ikut berpikir siapa pun bisa menjadi pelaku pembunuhan. 

Ada kesan rumit mengingat jumlah penumpang yang banyak serta identitas mereka yang dipalsukan. Kerumitan pemecahan misteri hebatnya dikemas secara ringan dalam film arahan sutradara Kenneth Branagh ini.

Ketika Poirot memikirkan kemungkinan pembunuhan itu terjadi, warna dalam layar akan berubah menjadi hitam putih. Ini memudahkan kita sebagai penonton yang ikut menebak-nebak.

Pengemasan yang ringan ini menjadi tipikal film-film yang mengadaptasi novel Agatha Christie. Pemilihan ini bukannya tanpa alasan, menggunakan nuansa noir berpotensi membuat cerita sulit untuk dicerna. Apalagi dengan jumlah terduga pembunuhan yang banyak.

Pengemasan cerita yang ringan ini disempurnakan oleh karakter yang diperankan nama-nama besar seperti Penelope Cruz, Willem Dafoe, Judi Dench, Johnny Depp dan Michelle Pfeiffer. 

Jumlah yang banyak tersebut masing-masing diberi porsi yang cukup untuk membangun plot utama. Sayangnya dengan jumlah yang banyak, pendalaman masing-masing karakter menjadi minim dan tergesa-gesa.

Mungkin penyebabnya adalah pemilihan durasi yang cukup singkat untuk ukuran film misteri, yaitu 114 menit saja. 

Visualisasi yang Ciamik

visualisasi ciamik_

Murder on the Orient Express merupakan film yang bisa memanjakan mata. Perjalanan kereta dari Istanbul ke London benar-benar dikemas dengan indah.

Interior kereta dibuat klasik, kostum para pemainnya ditampilkan dengan megah lewat warna-warna cantik. Belum lagi panorama di luar kereta yang sedang berjalan di musim dingin, membuat kontras dengan interior kereta dan kejadian yang dihadapi Poirot.

Penggambaran segala keindahan itu tentu bukan diambil secara nyata melainkan menggunakan efek. Penggunaan efek yang optimal itu menjadi salah satu keunggulan film ini yang paling menonjol.

Kelebihan lain juga berasal dari cara musik mengiringi adegan-adegan di dalam film. Pemilihan musik disesuaikan dengan mood yang ditampilkan lewat cerita. Ada musik yang terdengar menyenangkan, tegang, hingga sedih.

Murder on the Orient Express cukup berhasil menyajikan tema yang cukup berat yaitu pemecahan misteri dengan cara yang ringan.

Visualisasi penuh warna di dalam kereta sedangkan musim dingin di luar, menjadi sebuah ironi bahwa Poirot sedang memecahkan kasus pembunuhan. Sebuah twist di akhir menjadi kelebihan lain dari film garapan Kenneth Branagh ini. Film adaptasi karya Agatha Christie favorit kamu apa, guys? Tulis di bawah yuk!

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.