Sinopsis & Review Film Triple Threat, Aksi Tiga Tentara Bayaran

Tiga orang tentara bayaran harus menyelamatkan seorang putri miliarder yang diburu oleh kaki tangan tokoh kriminal. Semua ini terjadi karena dia siap menggelontorkan dana yang besar untuk menyapu sindikat kejahatan di Maha Jaya.

Salah satu tentara bayaran bernama Jaka memiliki agenda balas dendam pribadi dengan berusaha membunuh pelaku penyerangan di kampungnya satu persatu.

Triple Threat adalah film action karya Jesse V. Johnson yang dirilis oleh Well Go USA pada 19 Maret 2019. Film ini dibintangi oleh tiga bintang laga Asia, yaitu Tony Jaa dari Thailand, Iko Uwais dari Indonesia, dan Tiger Chen dari Cina.

Mengusung tema balas dendam, kita akan disuguhkan aksi bela diri dari para aktor laga ini di sebuah negara fiktif di Asia Tenggara bernama Maha Jaya.

Apakah film ini akan memuaskan penikmat film action, terutama penggemar ketiga bintang laganya? Simak review berikut untuk mengetahuinya.

Baca juga: Inilah 13 Film Terbaik yang Dibintangi oleh Iko Uwais

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun Rilis: 2019
  • Genre: Action, Thriller
  • Produksi: Hamilton Entertainment, Kungfuman Culture Media
  • Sutradara: Jesse V. Johnson
  • Pemeran: Tony Jaa, Iko Uwais, Tiger Chen, Celina Jade, Scott Adkins

Jaka tersadar dari tidur ketika pasukan bersenjata menyerang kampungnya dan membunuh istrinya. Mengambil senjata, dia berusaha melawan pasukan tentara bayaran ini sendirian.

Jaka kemudian bertemu dan berkelahi dengan salah satu dari mereka. Setelah ledakan besar, dia terjatuh dan tidak sadarkan diri.

Sementara itu, pasukan tentara bayaran tersebut bermaksud melepaskan seorang tawanan bernama Collins yang dianggap sebagai teroris yang sadis. Setelah menemukannya, mereka meledakkan dan membakar kampung itu.

Setelah mengubur seluruh korban keganasan pasukan tersebut, Jaka mendatangi lokasi arena pertarungan ilegal untuk membalaskan dendam kepada Payu dan rekannya, Long Fei.

Masuk ke dalam arena, Jaka berhadapan dengan Long Fei. Ketika Long Fei menyadari bahwa Jaka adalah salah satu penduduk kampung yang mereka serang, dia mengalahkannya dengan cepat.

Jaka dibawa oleh Long Fei dan Payu ke rumah mereka. Setelah disembuhkan lukanya dan diberi makan, mereka sepakat untuk menyusun rencana pembalasan dendam kepada Collins dan rekan-rekannya.

Rupanya, Payu dan Long Fei yang menjadi pemandu pasukan itu ditinggalkan di kampung tersebut karena menyadari bahwa mereka telah ditipu. Beruntung mereka bisa selamat dari ledakan.

Tetapi, keesokan paginya mereka mendapati Jaka sudah pergi dan sepasukan polisi datang menangkap mereka.

Sementara itu, Collins dan pasukannya berusaha melakukan penyerangan kepada Xiao Xian, putri seorang miliarder yang menggelontorkan dana untuk menumpas sindikat kejahatan di Maha Jaya.

Aksi mereka nyaris berhasil jika saja Xiao Xian tidak pergi dari lokasi baku tembak itu. Dengan mengendarai tuk tuk, Xiao Xian sampai di kantor polisi.

Karena tidak ada yang mengerti bahasa Mandarin, Long Fei yang berada di dalam tahanan diminta menerjemahkannya.

Tapi Collins dan pasukannya yang mendapat informasi dari Jaka sudah sampai dan langsung menyerang kantor polisi. Payu yang berada di ruang interogasi berhasil keluar lalu melarikan diri bersama Long Fei dan Xiao Xian.

Jaka membantu pelarian mereka dengan menghalangi beberapa anggota pasukan dan membunuh salah satunya dengan senapan besar. Collins yang kesulitan melakukan pengejaran bertemu Jaka yang menawarkan diri untuk membantunya.

Payu, Long Fei dan Xiao Xian kemudian mencuri sebuah mobil dan menuju ke kedutaan besar Cina. Tapi terjadi kemacetan yang disebabkan karena adanya kabar tentang bom di sana.

Baca juga:

Rupanya semua hanyalah rekayasa dari Collins dan kelompoknya. Menyadari ini, mereka langsung mengebutkan mobil keluar dari kemacetan dan dikejar lagi oleh Collins hingga terjadi kecelakaan.

Mereka kemudian bersembunyi di sebuah warung makan di pasar yang sudah tutup. Lalu, mereka membuat rencana untuk menyerang Collins dengan skema pura-pura menyandera Xiao Xian dan meminta tebusan.

Sebelum ke lokasi pertemuan, mereka meminjam persenjataan dari boss lama Payu. Sementara Collins dan rekan-rekannya sudah siap menunggu di lokasi.

Payu dan Long Fei sudah sampai dan menjalankan rencananya. Sementara itu, Jaka pun memulai aksi balas dendamnya dengan berusaha mengalahkan Deveraux.

Berhasilkah mereka menuntaskan misi masing-masing? Tonton terus film yang seru ini sampai selesai untuk mengetahui jawabannya!

Muay Thai, Silat dan Kung Fu Bersatu dalam Aksi

Muay Thai, Silat dan Kung Fu Bersatu dalam Aksi

Apa yang kalian bayangkan ketika nama Tony Jaa disandingkan dengan Iko Uwais dalam sebuah film? Tentu saja kehadiran adegan pertarungan yang dahsyat diantara mereka.

Meski sempat berkelahi di awal film, kedua bintang laga ini berposisi sebagai tokoh protagonis yang memburu musuh yang sama.

Aksi mereka dilengkapi dengan kehadiran Tiger Chen, aktor laga asal Cina. Mereka bertiga berhasil memamerkan keahlian bela diri dari negara masing-masing.

Tony Jaa dengan muay thai, Iko Uwais dengan silat, dan Tiger Chen dengan kung fu. Jaminan keseruan perkelahian yang mereka persembahkan lewat jurus-jurus mematikan menjadi andalan utama film berdurasi 1 jam 36 menit ini.

Masing-masing dari mereka diberikan porsi yang seimbang dalam menunjukkan keahlian bela diri masing-masing. Di sepanjang film kita akan terus disuguhkan oleh aksi mereka secara non-stop.

Satu adegan pertarungan yang terbaik adalah ketika Tony Jaa dan Iko Uwais berhadapan dengan Scott Adkins yang berperan sebagai Collins.

Mereka melancarkan jurus demi jurus dengan gerakan yang cepat dan keras. Scott Adkins berhasil memukau kita dengan jurus tendangan memutarnya yang bisa langsung mengenai Tony Jaa dan Iko Uwais sekaligus.

Dan di pertarungan akhir antara Tony Jaa dan Scott Adkins, adegan ini sepertinya dipersiapkan dengan serius, sehingga tampil sangat apik.

Tidak hanya koreografi pertarungannya saja, tetapi juga dari sisi sinematografi yang nyaris di sepanjang film tidak diperhatikan sama sekali.

Adegan Aksi Brutal yang Kurang Logis

Adegan Aksi Brutal yang Kurang Logis

Meski kuat di seluruh adegan pertarungan, namun film ini justru memiliki kelemahan pada setiap adegan baku tembak.

Sungguh tidak ada yang spesial dengan rentetan peluru yang dimuntahkan dari senapan mereka, bahkan sekalipun itu berasal dari senjata besar yang dipegang oleh Iko Uwais.

Memang wajar terjadi, karena sutradara Jesse V. Johnson adalah sineas yang biasa menggarap film-film action seperti itu. Dan film ini merupakan kolaborasi ketiganya dengan Scott Adkins.

Padahal film produksi internasional ini bisa membuatnya naik kelas, apalagi dengan dukungan para bintang laga populer yang bermain di dalamnya.

Tapi sungguh disayangkan, Johnson tidak bisa memaksimalkan peluang ini dengan baik. Sebagai mantan stuntman, dia tidak bisa menampilkan adegan aksi yang berbahaya dan menegangkan.

Bahkan adegan car chase ditampilkan seadanya dan tidak seru sama sekali. Banyak hal kurang logis terlihat di film yang menggunakan empat bahasa ini.

Saat adegan pembuka ketika pasukan tentara bayaran merambah hutan, Deveraux bilang bahwa GPS tidak berguna di daerah tersebut. Padahal GPS terhubung dengan satelit yang selalu berfungsi selama mereka berada di luar ruangan.

Saat terjadi penyerangan di kantor polisi, tidak ada satupun polisi yang meminta bantuan dari kantor polisi lain. Dan mereka menembak di area terbuka, tanpa bersembunyi atau berlindung.

Saat Xiao Xian, Payu dan Long Fei terjebak kemacetan, Xiao Xian meminjam ponsel Payu untuk menghubungi polisi wanita yang ditugaskan menjaganya. Anehnya, polisi itu langsung tahu bahwa itu Xiao Xian!

Saat mereka mengebutkan mobil dari kemacetan, Collins mengejar mereka dengan berlari di jalan lain yang berada di samping mobil yang sedang dipacu.

Uniknya, Collins berhasil mencegat mobil dan meloncat ke atasnya. Secepat itukah kemampuan lari Collins? Kemudian mereka bertiga sempat bersembunyi di ventilasi udara di atas kompor sebuah warung makan saat menghindari kejaran Collins.

Uniknya, pakaian mereka tidak kotor sama sekali setelah keluar dari ventilasi tersebut. Kekonyolan lainnya adalah ketika Payu dan Long Fei datang ke lokasi pertukaran.

Seharusnya Collins dengan mudah menembak Xiao Xian mengingat Payu dan Long Fei datang tanpa bala bantuan. Dan sejumlah orang sewaan yang dipersenjatai tidak berguna sama sekali.

Saat Deveraux sesumbar bahwa ada delapan senapan mengarah kepadanya, nyatanya orang-orang sewaan itu belum di posisi mereka.

Setelah mengalahkan Collins, Payu berjalan menghampiri Xiao Xian. Menyadari Joey masih hidup dan ingin menyerang Payu, Xiao Xian menembakkan pistolnya hingga pelurunya habis.

Sungguh menakjubkan! Padahal Xiao Xian diceritakan belum pernah menembakkan pistol, dan posisi Joey berada di belakang Payu.

Besar kemungkinan bagi penembak pemula tidak akan bisa mengenai targetnya dengan tepat. Jaka menghubungi kedutaan besar Cina tentang lokasi Xiao Xian berada dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Kecil kemungkinan duta besar itu mengerti bahasa Indonesia dan percakapan telepon yang singkat itu tidak direkam pula, tapi pasukan dari kedutaan besar berhasil sampai di lokasi yang dimaksud Jaka. Itulah beberapa kesalahan di film ini yang cukup mengganggu kenikmatan menontonnya.

Minim Pendalaman Karakter

Minim Pendalaman Karakter

Semua kesalahan di atas terjadi karena kelemahan naskah yang ditulis oleh Joey O’Bryan, Fangjin Song dan Paul Staheli. Selain mereka tidak memperhatikan secara detail hal-hal kecil dalam alur cerita, naskah yang mereka tulis juga tidak memiliki kedalaman dan pengembangan karakter.

Meski sisi emosional Jaka sempat diungkit dan ditampilkan dalam adegan tersendiri, kita masih tidak diberi tahu alasan Jaka membawa istrinya dalam menjalankan misi berbahaya seperti itu.

Payu dan Long Fei pun diberikan waktu untuk membuka latar belakang kisah mereka, tapi sangat minim, klise dan tidak bisa dijadikan pondasi emosi yang bagus.

Triple Threat beruntung memiliki Tony Jaa, Iko Uwais, Tiger Chen, dan Scott Adkins sebagai pemeran utamanya. Jika bukan karena mereka, film ini akan terjatuh ke dalam film action kelas B yang biasanya langsung masuk jalur distribusi video atau VOD.

Meski ditayangkan secara sangat terbatas di bioskop Amerika, film ini cukup menuai respon positif, terutama karena performa para aktornya.

Jika kalian adalah penikmat film action sejati, maka film ini tidak akan mengecewakan. Layak menjadi pilihan utama untuk mengisi waktu luang, terutama bagi fans sejati Tony Jaa dan Iko Uwais, film ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Selamat menonton, ya!

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.