Sinopsis & Review Pulp Fiction (1994), Sisi Lain Para Penjahat

Pulp Fiction secara harfiah berarti fiksi yang cair. Sementara itu, ada juga definisi lain yaitu majalah yang pernah populer dari tahun 1896 sampai 1950 yang menggunakan kertas dengan kualitas buruk.

Quentin Tarantino, sebagai sutradara film Pulp Fiction sama sekali enggan menjelaskan lebih jauh mengapa judul tersebut yang dipilih.

Melihat dari cerita, film ini bisa jadi memenuhi dua definisi di atas. Fiksi yang cair bisa diartikan sebagai sebuah film fiksi yang nggak kaku dan berlawanan dengan arus.

Kertas yang kualitasnya buruk bisa diartikan sebagai sesuatu yang nggak begitu dilirik tapi punya isi yang kuat. Nah, buat lebih jelasnya kita bahas di sinopsis dan review filmnya berikut ini!

Baca juga: Sinopsis & Review Fight Club, Drama Kehidupan Modern

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun RIlis: 1994
  • Genre: Black Comedy, Crime
  • Produksi: A Band Apart, Jersey Films
  • Sutradara: Quentin Tarantino
  • Pemain: John Travolta, Uma Thurman, Samuel L. Jackson, Bruce Willis, Harvey Keitel

Adegan dibuka dengan sepasang kekasih yang menamai dirinya Honey Bunny dan Pumpkin. Mereka mencoba merampok di sebuah kedai makan.

Honey Bunny mempertanyakan keputusan Pumpkin yang memilih untuk merampok di tempat tersebut. Pumpkin merasa orang-orang di kedai, nggak akan menyangka akan dirampok.

Jules Winnfield dan Vincent Vega adalah duo pembunuh yang bekerja untuk bos mafia, Marsellus Wallace. Mereka berdua ditugaskan untuk mengambil koper milik Marsellus dari rekannya, Brett. Setelah melihat isi dari koper, Julius menembak anak buah Brett.

Dia mengutip ayat dari Injil kemudian membunuh Brett karena berkhianat pada Marsellus. Mereka kemudian membawa koper itu pada Marsellus. Marsellus menyuap Butch Coolidge, seorang petinju untuk mengalah dalam pertandingan.

Keesokan harinya, Vincent membeli heroin dari seorang bandar bernama Lance. Dia kemudian bertemu dengan Mia, istri Marsellus. Vincent setuju menemani Mia selagi Marsellus pergi ke luar kota.

Mereka berdua pergi ke sebuah restoran dengan nuansa tahun 50-an dan ikut dalam kompetisi dansa. Mereka kemudian pulang. Sesampainya di rumah Marsellus, Vincent langsung ke kamar mandi.

Mia menemukan heroin milik Vincent dan mengiranya sebagai kokain. Dia pun mengonsumsinya dalam jumlah yang banyak. Alhasil, dia mengalami overdosis. Vincent membawa Mia ke rumah Lance.

Lance yang sudah paham mengenai masalah ini, menyuntikan semacam obat ke jantung Mia. Mia pun tersadar. Dia kemudian diantarkan Vincent pulang dan keduanya berjanji nggak akan membahas insiden itu pada Marsellus.

Butch mempertaruhkan uang suap yang didapatnya dari Marsellus. Alih-alih mengalah, dia malah mengalahkan lawannya sehingga mendapatkan uang yang lebih banyak.

Dia bersiap-siap kabur bersama Fabienne, pacarnya. Fabianne lupa membawa jam tangan yang sudah turun-temurun diwariskan keluarganya.

Sesampainya di apartemen, Butch menemukan senapan dan ada orang berada di toilet. Begitu orang itu keluar, Butch menembaknya dan kabur.

Marsellus tanpa sengaja bertemu Butch di jalan. Dia menabrakkan mobil ke mobil Butch. Butch kabur ke sebuah toko gadai.

Ketika Butch akan menembak Marsellus, mereka berdua dibawa ke ruang bawah tanah oleh pemilik toko gadai, Maynard dan anak buahnya, Zed. Mereka berdua mencoba memperkosa Marsellus sementara Butch masih belum sadarkan diri dan akan diperkosa juga.

Ketika Vincent dan Jules membunuh Brett, seorang pria muncul dan menembaki mereka berdua. Tembakan itu nggak ada yang tepat sasaran, Vincent dan Jules pun menghabisi pria itu. Mereka kemudian kabur bersama Marvin, anak buah Brett.

Jules merasa dia baru saja mengalami keajaiban karena lolos dari maut. Vincent nggak setuju dan tanpa sengaja menembak Marvin sampai tewas. Bagaimana upaya Vincent dan Jules lolos dari polisi? Bagaimana juga hubungan dengan perampok di kedai makan?

Penggunaan Alur Non-Linear dan Dialog Panjang

Penggunaan Alur Non-Linear dan Dialog Panjang

Quentin Tarantino dikenal sebagai sutradara yang kerap menggunakan alur non-linear dalam film-film yang digarapnya. Pulp Fiction merupakan salah satunya dan menjadi yang kedua setelah Reservoir Dogs.

Tapi yang membuat Pulp Fiction lebih diingat adalah karena keberanian Tarantino membuat tujuh sekuens yang disusun secara acak.

Kita sebagai penonton akan dibawa mengarungi cerita yang melompat-lompat. Karakter-karakter baru akan bermunculan di setiap sekuennya.

Baca juga:

Tapi banyaknya karakter nggak serta-merta membuat cerita menjadi membingungkan karena setiap sekuen akan langsung mendapatkan solusinya. Kita tinggal mengingat lalu memikirkan sekuen itu akan masuk ke dalam kepingan puzzle yang mana.

Secara pendalaman karakter, masing-masing mendapat porsi yang cukup kuat. Nggak ada latar belakang yang didalami tapi digantikan dengan tujuan mereka masing-masing setelah melakukan tindakan kriminal.

Pendalaman karakter itu dilakukan dengan dialog-dialog yang panjang walau kemudian berubah seiring cerita yang nggak bisa ditebak tapi masih dalam porsi yang masuk akal.

Sinematografi Unik

Sinematografi Unik

Pulp Fiction mungkin akan terus dibicarakan karena sangat brilian dalam mengalirkan cerita. Apalagi film ini dirilis tahun 1994. Di masa itu, referensi film belum sebanyak sekarang.

Begitu pula dengan penonton filmnya. Pulp Fiction adalah salah satu film terbaik yang dimiliki dekade itu. Bahkan masih sering dibicarakan sampai hari ini, lebih dari dua puluh tahun sejak perilisannya.

Dari segi sinematografi, film ini juga memberikan sajian yang unik. Ada adegan ketika Butch bertemu Marsellus. Teknik over the shoulder shot digunakan berbeda dari yang lain.

Pasalnya, Butch dibuat menjadi blur kemudian kamera lebih fokus pada kepala bagian belakang Marsellus lengkap dengan plester di belakang leher. Cara ini efektif untuk membuat sosok Marsellus terasa misterius.

Salah satu adegan paling ikonik dari film ini adalah dansa yang dilakukan John Travolta sebagai Vincent dan Uma Thurman sebagai Mia. Mereka ikut dalam kompetisi dansa di Jack Rabbit Slim.

Ketika mereka berdansa diiringi You Never Can Tell milik Chuck Berry, adegan diambil dengan wide shot. Itu merupakan gaya Tarantino dalam menyelipkan referensi film yang pernah ditontonnya yaitu Bande a part.

Adegan yang juga nggak boleh dilupakan adalah ketika Jules meminum soft drink sebelum membunuh. Kamer menyoroti Jules dalam waktu yang cukup lama seperti meningkatkan tensi ketegangan yang tengah dihadapi oleh korbannya. Sementara mata Jules nggak menunjukkan sorot yang tegang.

Satir Dunia Kriminal

Satir Dunia Kriminal

Selain penggunaan alur non-linear, Pulp Fiction ini juga menjadi cetak biru Tarantino dalam film-filmnya. Dialog panjang dan terkesan nggak penting-penting amat, turut disertakan.

Sebagaimana film ini bergenre black comedy, dialog itu digunakan sebagai satir sekaligus penguatan karakter bahwa para penjahat itu pun manusia biasa yang bisa membahas hal-hal yang nggak terpikirkan oleh kebanyakan orang.

Film karya Tarantino ini seperti ingin membalikan persepsi tentang penjahat. Jules dan Vincent membicarakan mengenai burger sampai pijatan kaki sebelum membunuh.

Marsellus nyaris menjadi korban pemerkosaan dua pria. Vincent dan Jules terpaksa menggunakan baju kaos yang membuat mereka nggak terlihat menyeramkan.

Pulp Fiction merupakan salah satu cult film yang berhasil membelah penonton antara membencinya atau mencintainya. Durasi selama 154 menit akan terasa begitu panjang tapi apabila berhasil mengikutinya dengan seksama, akan ada kepuasan ketika film selesai.

Tertarik menonton salah satu masterpiece Tarantino ini? Setelah nonton, bagikan pendapat kamu tentang film ini di kolom komentar, yuk!

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.