Pemberontak Houthi Sepakat Hentikan Penggunaan Tentara Anak

New York: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa pemberontak Houthi asal Yaman sepakat menghentikan penggunaan tentara anak, yang selama ini mtelah ikut bertempur bersama ribuan orang dewasa sejak tujuh tahun terakhir.
 
Houthi telah menandatangani rencana aksi untuk menghindari dan mencegah perekrutan serta penggunaan anak-anak dalam konflik bersenjata. Mereka juga sepakat menghentikan serangan yang berpotensi membunuh atau mencelakai anak-anak serta yang dapat merusak sekolah dan rumah sakit.
 
Salah satu diplomat tinggi Houthi, Abdul Eluh Hajar, menandatangani perjanjian tersebut. Sejumlah perwakilan dari PBB berfoto dengan pejabat Houthi dalam acara peresmian perjanjian di ibu kota Yaman, Sanaa. Pihak Houthi menyebutnya sebagai rencana untuk melindungi anak-anak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Pemerintah Yaman yang diakui internasional, yang kini terasing di Arab Saudi, membuat komitmen serupa melalui beberapa dokumen sejak 2014.
 
Virginia Gamba, pejabat tinggi PBB yang mengawasi anak-anak di zona perang, menyebut keputusan Houthi sebagai “langkah positif dan menggembirakan.” Tapi ia juga menekankan bahwa “bagian tersulit dari perjalanan dimulai sekarang.”
 
“Rencana aksi harus sepenuhnya diimplementasikan dan mengarah pada tindakan nyata untuk peningkatan perlindungan anak di Yaman,” kata Gamba, yang menandatangani perjanjian di New York sebagai saksi, dikutip dari Yahoo News, Selasa, 19 April 2022.
 
PBB mengungkapkan data bahwa hampir 3.500 anak telah direkrut dan dikerahkan dalam perang saudara di Yaman. Pejabat senior militer Houthi mengatakan pada 2018 bahwa kelompoknya telah merekrut 18.000 anak ke dalam pasukannya. Serang mantan tentara anak pernah mengatakan bahwa usia termuda yang direkrut adalah 10 tahun,
 
Saat itu, juru bicara militer Houthi membantah adanya perekrutan sistematis untuk usia di bawah 18 tahun. Houthi juga secara resmi mengaku bahwa ada perintah untuk menolak anak-anak yang mencoba bergabung.
 
Menurut PBB, tercatat lebih dari 10.200 anak tewas atau luka-luka selama perang di Yaman. Tidak diketahui berapa banyak di antaranya yang merupakan tentara.
 
Perang saudara di Yaman meletus pada 2014 ketika Houthi yang didukung Iran merebut Sanaa dan memaksa pemerintahan resmi terasing ke Arab Saudi. Koalisi pimpinan Arab Saudi, termasuk di dalamnya Uni Emirat Arab (UEA), turut serta dalam perang sejak awal 2015 dengan tujuan mengembalikan kekuasaan pemerintahan resmi
 
Pemantau perang memperkirakan konflik Yaman telah menewaskan lebih dari 14.500 warga sipil. Totalnya mencapai 150.000 orang jika tentara turut dihitung. Pertempuran tersebut juga memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di era modern.
 
Kedua pihak yang berperang awal bulan ini sepakat menerapkan gencatan senjata nasional, kali pertama dalam enam tahun. Kesepakatan yang berlaku dua bulan itu dilaksanakan sejak bulan suci Ramadan dan mengangkat harapan untuk membangun momentum dalam mencapai perdamaian permanen.
 
Presiden Yaman, Abed Rabbo Mansour Hadi, mengundurkan diri pekan lalu dan menyebut dewan kepresidenan baru akan menjalankan fungsi pemerintahan serta memimpin negosiasi dengan Houthi.
 
Arab Saudi dan sejumlah negara lain menyambut baik pergantian kepemimpinan di Yaman. Namun seorang juru bicara Houthi menentang pergantian tersebut sebagai keputusan yang “tidak sah.” (Kaylina Ivani)
 
Baca:  PBB: 30 Ribu Warga Sipil Yaman Telantar dalam 3 Bulan Terakhir
 
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.