Pengalaman anggota keluarga isoman dibagikann mantan pejabat WHO

Penanganan isolasi mandiri di rumah sama seperti prinsip yang sudah dikenal luas. Semua terpisah dan tidak ada kontak dengan penghuni lain yang sehat

Jakarta (ANTARA) – Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama berbagi pengalaman seputar anggota keluarganya yang menjalani isolasi mandiri (isoman) karena terinfeksi COVID-19.

“Pada Sabtu 5 Februari 2022 dimulai dengan enam orang yang positif COVID-19 di rumah saya, yakni cucu saya, pengasuhnya, dan lalu empat orang staf lain di rumah,” katanya melalui pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

Dalam waktu sepekan, kata dia, jumlah pasien COVID-19 di tengah keluarga bertambah dua orang lagi, yaitu anak dan menantu. Sehingga total menjadi delapan orang pasien.

Tjandra yang juga Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Jakarta itu mengatakan pada Ahad (13/2) semua keluarga yang terkonfirmasi COVID-19 dilakukan tes usap PCR ulang. Hasilnya, sebanyak empat di antaranya negatif serta empat lainnya masih tetap positif.

“Setidaknya ada tujuh pengalaman saya dalam sepekan ini menangani anggota keluarga yang isoman, yang mungkin ada gunanya bagi masyarakat yang anggota keluarganya ada yang positif di tengah kasus yang sedang meningkat ini,” katanya.

Pertama, katanya, anggota keluarga dengan nilai CT yang mendekati 30 di awal atau sudah di atas 30 telah dinyatakan negatif dalam sepekan berdasarkan hasil tes PCR.

Hal kedua, mayoritas anggota keluarga yang terinfeksi COVID-19 menunjukkan tanpa gejala apapun, kecuali sang cucu yang sempat demam 1×24 jam. Selain itu, sang ayah juga demam dalam beberapa jam.

“Penanganannya hanya antipiretik atau obat penurun panas. Mereka berdua sesudah sepekan, PCR-nya masih positif, walaupun sudah tanpa gejala sama sekali,” katanya.

Ketiga, nilai CT-PCR sang cucu dalam sepekan tidak banyak berubah. “Tapi memang pemeriksaan pertama dan kedua dilakukan di laboratorium berbeda. Yang pertama menilai E dan RdRp, sementara yang ke dua menilai ORF1b dan N2. Pekan depan saya akan ulang di laboratorium yang sama supaya lebih mudah komparasinya,” katanya.

Hal keempat yang dikisahkan Tjandra adalah penanganan isolasi mandiri di rumah sama seperti prinsip yang sudah dikenal luas. Semua terpisah dan tidak ada kontak dengan penghuni lain yang sehat.

“Tentu tidak ada kontak dengan saya dan istri yang sudah di atas 65 tahun, yang Alhamdulillah sehat-sehat saja,” katanya.

Adapun aktivitas rutin yang biasa dilakukan selama anggota keluarga isoman adalah berjemur di pagi hari, makan makanan bergizi, ngobrol lewat WhatsApp, dan lainnya.

Kelima, dari delapan yang positif COVID-19, enam di antaranya yang bergejala ringan merupakan reinfeksi yang sebelumnya dialami pada Desember 2020, dan lainnya telah divaksin lengkap. “Kecuali cucu saya yang memang baru berusia lima tahun sekarang ini,” katanya.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara periode 2018-2020 itu menduga cucu dan menantunya terkena Omicron berdasarkan karakter yang diketahui secara luas, seperti kemampuan menghindar dari efikasi vaksin.

“Anak dan mantu saya keduanya adalah dokter, sehingga sudah mendapat booster beberapa bulan yang lalu, tetap saja sekarang terkena COVID-19. Mungkin memang yang masuk ke tubuh sekarang adalah varian Omicron dengan segala karakteristiknya yang sudah dikenal luas,” demikian Tjandra Yoga Aditama.

Baca juga: Pakar: Telemedisin layanan penting bagi pasien isolasi mandiri

Baca juga: Pakar soroti protokol kesehatan yang mulai kendor di ruang publik

Baca juga: Pakar kedokteran UI: “Long COVID-19” harus menjadi perhatian

Baca juga: Isolasi terpusat diyakini cara efektif tekan kematian COVID-19

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.