Nissan Berencana Tetap Kembangkan Mesin Bensin, Khusus untuk Negara Ini

Suara.com – Nissan dikabarkan telah memutuskan untuk berhenti melakukan pengembangan mesin baru pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE) untuk pasar di luar Amerika Serikat.

Menurut sebuah laporan dari Nikkei, pengembangan terbatas akan dilakukan oleh pabrikan mobil asal Jepang itu dan hanya akan dipasarkan untuk pasar Amerika Serikat. Utamanya untuk produk kategori truk pikap yang menjadi favorit warga Negeri Paman Sam.

Di luar negara ini, Nissan akan melanjutkan proyek untuk pengadaaan kendaraan listrik.

CEO Nissan Makoto Uchida dalam jumpa pers di Yokohama, Jepang, Kamis (28/5) waktu setempat, yang juga dipublikasikan di laman resminya [ANTARA/Nissan].
CEO Nissan Makoto Uchida dalam jumpa pers di Yokohama, Jepang, Kamis (28/5) waktu setempat, yang juga dipublikasikan di laman resminya [ANTARA/Nissan].

Apa yang dilakukan Nissan, yaitu menciptakan mesin baru ICE tentu bukan tanpa alasan. Sejauh ini para pengguna mobil kategori truk pikap di Amerika Serikat memang masih sulit untuk beralih ke kendaraan listrik. Utamanya bagi pengguna dengan kebutuhan sektor komersial.

Baca Juga: New Toyota Corolla Altis Meluncur, Tersedia dalam Dua Varian Mesin

Pasalnya kendaraan jenis ini harus mengirimkan barang dan membawa beban yang tidak ringan. Waktu pengisian daya yang memakan waktu dan ketersediaan stasiun pengisian yang belum merata menjadi alasan pengguna mobil komersial sulit beralih kepada kendaraan listrik.

Namun saat coba dikonfirmasi, Nissan menyatakan belum dapat memberikan komentar terkait rencana perusahaan.

“Kami belum memiliki komentar langsung untuk dibagikan tentang laporan spekulatif ini,” jelas Nissan.

Perbandingan mobil listrik murni, mobil listrik e-power, dan mobil hibrida. [Antara/Nissan]
Perbandingan mobil listrik murni dan mobil listrik e-power [Antara/Nissan]

Sebelumnya CEO Nissan, Makoto Uchida mengungkapkan rencana Nissan untuk menggarap kendaraan elektrifikasi pada 2030.

Ia yakin perusahaan akan mulai menjual mobil dengan baterai solid-state pada 2028.

Baca Juga: Pemerintah Amerika Serikat: Kekurangan Chip Semikonduktor Akan Tetap Ada

“Sampai saat itu, tidak ada yang mengungkapkan biaya baterai solid-state, dan tidak ada perusahaan yang melakukan hal yang sama sampai sekarang,” ujar Makoto Uchida, seperti dikutip dari Automotive News.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Nissan tidak hanya mengandalkan baterai solid-state tetapi teknologi e-POWER. Teknologi ini akan membantu Nissan berkembang dan mengurangi emisi karbon dengan cara yang berbeda, tergantung pada pasar.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.