Perundingan Wina Berlanjut, Pemerintah Biden Membuang Kesempatan

Perundingan Wina antara Iran dan kelompok 4+1 (Rusia, Cina, Inggris, Prancis dan Jerman) tentang pencabutan sanksi terhadap Iran berlanjut pada hari Jumat (14/01/2022) dengan berbagai pertemuan di tingkat politik dan ahli.

Pada hari Kamis (13/01), pembicaraan Wina diikuti pada dua tingkat oleh kepala delegasi dan ahli.

Ali Bagheri, Kepala Perunding Iran dalam dua pertemuan bilateral bertemu dengan Enrique Mora, koordinator Eropa Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan Deputi Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, dan Mikhail Ulyanov, Kepala Tim Perunding Rusia.

Ali Bagheri, Kepala Perunding Iran

Pertemuan juga dilakukan antara Bagheri dengan negosiator senior dari tiga negara Eropa; Inggris, Prancis, dan Jerman.

Pencabutan sanksi terhadap Iran serta masalah verifikasi dan penerimaan jaminan bagi para pihak untuk mematuhi kewajiban mereka adalah salah satu masalah paling penting dan sensitif yang dibahas antara semua pihak dalam beberapa pekan terakhir.

Perundingan Wina telah mengalami beberapa kemajuan karena inisiatif tim perunding Iran. Namun keengganan pemerintah Biden untuk mengkompensasi tindakan ilegal mantan pemerintah AS dan kelanjutan dari kampanye tekanan maksimum telah menimbulkan keraguan pada keseriusan negara itu, sekaligus berkepanjangannya proses perundingan.

Baca juga: Optimisme Menguat, Pertemuan Komisi Bersama JCPOA di Wina Berlanjut

Tampaknya pemerintah AS bermaksud meluncurkan kampanye media untuk menceritakan pembicaraan Wina dan memperkenalkan pemerintahan Trump sebagai penyebab situasi saat ini.

Sekalipun demikian, harus diingat bahwa meskipun pemerintahan Trump, sebagai negara yang melanggar hukum, dan dengan keluar secara sepihak dari JCPOA memainkan peran kunci dalam membentuk keadaan kesepakatan nuklir saat ini, tetapi pemerintah Biden juga tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab atas situasi saat ini.

Begitu juga ketika pemerintahan Biden jujur ​​dalam kritiknya terhadap kebijakan tekanan maksimum dan penarikan Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir, maka pembicaraan Wina telah memberi pemerintahan saat ini kesempatan untuk mengakhiri kebijakan ini dan mengambil pendekatan baru.

Perundingan Wina antara Iran dan kelompok 4+1 (Rusia, Cina, Inggris, Prancis dan Jerman) tentang pencabutan sanksi terhadap Iran berlanjut pada hari Jumat (14/01/2022) dengan berbagai pertemuan di tingkat politik dan ahli.

Dalam sebuah surat kepada Joe Biden, 110 anggota Partai Republik di Kongres AS sekali lagi menentang kembalinya negara itu ke JCPOA, dan menyerukan penghentian pembicaraan Wina. Surat itu diprakarsai oleh Michael McCowell, anggota senior Komite Urusan Luar Negeri DPR.

Surat ini, serta pernyataan sebelumnya oleh anggota Kongres AS yang menentang kemungkinan kesepakatan di Wina, menggambarkan dengan baik desakan delegasi Iran untuk menerima jaminan yang diperlukan.

Pemilu sela dan pemilihan umum presiden AS di depan, dan mengingat pengalaman yang diperoleh dari syarat implementasi perjanjian 2015, desakan Iran untuk mendapatkan jaminan yang diperlukan dan memastikan keberlanjutan perjanjian bukan hanya dapat dibenarkan dan logis, tetapi juga suatu keharusan.

Delegasi Iran di Wina sudah pasti menekankan perlunya memverifikasi tindakan pihak lain dan menerima jaminan yang diperlukan untuk memastikan bahwa tidak ada sabotase dalam pelaksanaan perjanjian (seperti yang terjadi di pemerintahan Obama) dan penarikan diri dan perjanjian (seperti dalam pemerintah Trump) tidak akan terulang serta kesepakatan yang dicapai dan efeknya akan bertahan lama.

Baca juga: Sikap Barat Mencari-cari Alasan di Perundingan Wina

“Kami mencari kesepakatan yang berkelanjutan dan dapat diandalkan, dan kesepakatan yang tidak memiliki dua komponen ini tidak ada dalam agenda kami. Kita semua perlu memastikan bahwa kembalinya Amerika Serikat disertai dengan verifikasi dan jaminan, dan bahwa siklus pencabutan sanksi harus dilakukan. Semua ini tidak dapat dicapai dengan kesepakatan sementara,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh.

Jelas bahwa dalam konteks saat ini, ada keraguan tentang keseriusan Amerika Serikat. Tidak jelas apakah Washington benar-benar berusaha untuk mencabut sanksi atau mencoba menggunakan negosiasi sebagai pembenaran untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.

Pembatalan sanksi AS

Sementara itu, Iran telah datang ke pembicaraan dengan inisiatif dan proposal yang jelas. Iran menyatakan tidak akan pernah melepaskan garis merah dan tuntutan prinsipnya. Bila pihak lain memiliki kemauan yang kuat untuk menerima mekanisme yang diinginkan oleh Republik Islam Iran dalam pencabutan sanksi yang efektif, maka kesepakatan akhir akan dimungkinkan.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *