Hubungan Iran-Cina; Hubungan Strategis dengan Efek Timbal Balik

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Hossein Amir-Abdollahian yang berkunjung ke Beijing bersama delegasi tinggi atas undangan sejawatnya, Wang Yi, Jumat (14/1/2022) di tweetnya menulis, “Kedua pihak di kunjungan ini mencapai kesepakatan bahwa hari Jumat adalah awal pelaksanaan kesepakatan kerja sama strategis kedua negara.”

Kunjungan ini penting dari dua sisi mengingat agenda perundingan di Beijing dan kesepakatan Iran dan Cina:

Pertama, level tinggi hubungan ekonomi Iran dan Cina dalam koridor dokumen komprehensif kerja sama sangat urgen.

Hubungan Iran-Cina bersifat berlapis dan mendalam serta memiliki dimensi yang berbeda. Dokumen komprehensif kerja sama Iran-Cina dalam hal ini adalah peta jalan yang lengkap. Dalam dokumen ini, perhatian khusus diberikan pada sektor ekonomi, yang merupakan poros utama dokumen, dan ada perhatian khusus di berbagai bidang, dan partisipasi Iran dalam gagasan “One Belt One Road” (OBOR) Cina. Iran adalah penghubung antara Laut Kaspia dan Teluk Persia dan Laut Oman. Posisi istimewa ini telah membuat partisipasi dalam rencana ekonomi jangka menengah dan panjang Iran menarik dan memotivasi investor asing, termasuk Cina.

Peta proyek OBOR Cina

Dimensi kedua urgensitas kunjungan ini; Adanya level tinggi kerja sama di hubungan politik Tehran dan Beijing. Irand an Cina sebagai dua negara pentingd an berpengaruh di sistem internasional, memiliki kepentingan dan tujuan bersama untuk memperluas kerja sama di berbagai bidang dan menjaga stabilitas serta keamanan kawasan dan menentang unilateralisme. Dengan demikian, isu-isu penting menjadi agenda kerja diplomasi kedua negara di tingkat regional dan internasional.

Menlu Iran hari Jumat usai pertemuan dengan Wang Yi menyatakan, Tehran dan Beijing meraih konsensus penting di berbagai isu penting termasuk program kerja sama komprehensif dan konsultasi terkait perundingan Wina.

Level ini sejatinya muncul dari kepercayaan timbal balik di interaksi regional dan internasional yang memiliki potensi untuk berkembang karena dua alasan.

Pertama adalah kebutuhan untuk menggunakan kapasitas secara cerdas dan mengubah ancaman menjadi peluang untuk membangun hubungan multilateral. Pengalaman menunjukkan bahwa ketergantungan pada satu atau dua kutub ekonomi, dalam jangka panjang, akan menyebabkan ketergantungan ekonomi dan perdagangan dan kerentanan terhadap fluktuasi politik atau ekonomi.

Alasan kedua adalah perlunya peningkatan kekuatan manuver politik seiring dengan peningkatan andil ekonomi dalam hubungan dengan negara-negara di kancah internasional dan khususnya dalam kebijakan “melihat ke timur” dalam rangka keseimbangan hubungan politik.

Zohreh Elahian, anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran saat menganalisa urgensitas hubungan Iran dan Cina mengatakan, Republik Islam Iran membutuhkan interaksi dan hubungan dengan semua kapasitas internasional dan keseimbangan di kebijakan luar negeri, di mana ini adalah kebijakan yang dikejar pemerintah Tehran.

Ia menjelaskan, kapasitas besar ekonomi Cina di tingkat internasional sangat menentukan dan interaksi dengan negara ini dapat memudarkan dan mematahkan banyak isu yang berkaitan dengan sanksi sepihak Amerika Serikat.

Hasil logis dari pendekatan ini adalah meningkatkan kekuatan untuk melawan ancaman politik-ekonomi dan menjaga kepentingan strategis di hubungan luar negeri.

Kesimpulannya dapat dikatakan bahwa perluasan kerja sama dengan negara-negara besar Asia seperti Cina akan berujung pada penciptaan peluang baru bagi investasi di bidang infrastruktur termasuk minyak dan gas, pelabuhan, transportasi dan pertukaran teknologi modern di samping memanfaatkan interaksi politik yang kuat. Selain itu, Iran di bidang diplomasi telah menunjukkan seluruh jalan tidak harus berhenti ke Washington dan perundingan Wina.

Peta OBOR

Iran dan Cina melalui pendekatan ini telah mengembangkan hubungannya di tiga sektor macro, “politik-ekonomi”, “keamanan-pertahanan” dan “geopolitik-strategis”, serta implementasi Dokumen Strategis 25 tahun merupakan langkah penting untuk menyempurnakan proses ini. (MF)

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *