Kurniawan Dwi Yulianto Resmi Jadi Asisten Pelatih Klub Serie B Italia

Jakarta: Mantan striker Tim Nasional Indonesia era 1990-an Kurniawan Dwi Yulianto resmi menjadi asisten pelatih klub Serie B Liga Italia, FC Como. Kabar tersebut seperti diungkapkan si Kurus, julukan Kurniawan, di kanal Youtube, Akurasitv, baru-baru ini.
 
Berawal, Kurniawan ditelepon Nirwan Bakrie saat FC Como promosi ke Serie B, Juli, tahun 2021. Nirwan bilang ingin ada asisten pelatih sepak bola dari Indonesia di klub Italia FC Como, yang sudah dibeli Michael dan Robert Hartono (Djarum Group).
 
Saat itu Kurniawan bilang, dirinya masih harus menghormati sisa kontraknya bersama FC Sabah, klub Malaysia, yang baru Desember 2021 kontraknya habis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Akhirnya sejak 2 Desember 2021, Kurniawan mendapat kepastian untuk menjadi asisten pelatih. Karena ada wabah Omricron, Italia menurut Kurniawan belum mengeluarkan work permit (izin kerja).
 
Untungnya, FC Como memiliki kerja sama di program Garuda Select. Untuk sementara, nantinya si Kurus akan diperbantukan di Garuda Select.
 
Kurniawan mengaku tidak menyangka dan tidak pernah bermimpi menjadi asisten pelatih di Eropa. Karena sudah mendapat kesempatan, Kurniawan akan memanfaatkannya untuk belajar banyak.
 
“Saya ke sana tidak hanya menjadi assistent coach. juga minta rekomendasi dari FC Como untuk bisa mengambil lisensi kepelatihan UEFA-Pro,” ujar Kurus.
 
“Ini kesempatan yang tidak akan datang dua kali,” lanjut pria kelahiran Magelang, 17 Juli 1976 itu.
 
Ya, ini bukan hal baru bagi Kurus berkiprah di Negeri Pizza, Italia. Tahun 1990-an, Kurniawan pernah magang bersama tim primavera di klub Serie A Italia, Sampdoria. Tepatnya tahun 1994, Kurniawan bermain untuk tim remaja, primavera, di klub Sampdoria.
 
Kemudian Kurniawan pernah membela klub liga utama Swiss, FC Luzern. Meski hanya setahun, yakni dari tahun 1994–1995, Kurniawan saat itu menjadi pemain Asia Tenggara kedua yang bermain di Eropa. Sebelumnya Fandi Ahmad dari Singapura tahun 1983 bermain di klub Eredivise, FC Groningen.
 
Menurut Kurniawan, sepengetahuannya yang pernah menimba ilmu sepak bola di Italia, yang membuat sepak bola Eropa unggul adalah pemain mudanya tahu value mereka. Mereka tahu bakal menjadi pemain profesional di kemudian hari.
 
“Waktu itu (1993–1994), pemain muda Sampdoria di Baretti (15 tahun ke bawah) tahu makanan apa yang boleh di makan atau tidak. Makanya mereka tak ada kata malas-malasan, santai-santai” beber Kurniawan.
 
Mereka tahu akan menjadi pesepak bola profesional dalam waktu yang tidak lama. Disiplin dan kerja keras sudah menjadi keharusan.
 
Kurniawan berharap pengalamannya nanti menjadi asisten pelatih di benua biru bisa menjadi nilai plus di dunia sepak bola. Semoga.
 
Video: Prediksi Sekjen PSSI di Piala AFF U23

 
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.