Video Fiktif Bukti Kebingungan Arab Saudi di Perang Yaman

Arab Saudi yang harus menelan kekalahan di perang Yaman, sekarang terlihat kebingungan dengan blunder-blunder yang ditunjukkannya di media.

Tujuh tahun sudah agresi militer Koalisi Saudi dilancarkan terhadap Yaman, dan sepertinya mendekati berakhir. Di medan tempur, nampaknya perang sudah tidak berpihak lagi pada kubu Saudi.

Angkatan Bersenjata Yaman dalam perang darat, udara, dan laut terus mengalami kemajuan, dan baru-baru ini pasukan Yaman juga berhasil menahan sebuah kapal milik Uni Emirat Arab yang penuh dengan persenjataan di perairan negara ini.

Selain itu, wilayah utara Yaman sekarang sudah dibebaskan dari tangan pasukan bayaran Saudi. Di selatan Yaman, dua pemerintahan memegang tampuk kekuasaan, pemerintahan terguling pimpinan Abd Rabbuh Mansour Hadi, dan pemerintahan Dewan Transisi Selatan, dan sampai kini keduanya tak kunjung bersatu meski Saudi sudah bekerja keras.

Pada situasi seperti ini, Saudi mulai melancarkan perang media terhadap Yaman, Hizbullah Lebanon dan Republik Islam Iran. Pertama Saudi menayangkan video tentang kehadiran para komandan Hizbullah Lebanon di Yaman, namun tidak lama setelah dipublikasikan, terbukti bahwa video tersebut rekayasa.

Saudi pada 10 Januari 2022 kembali mengunggah sebuah video yang menampilkan lokasi yang diklaim sebagai gudang rudal balistik Iran di pelabuhan Al Hudaydah, Yaman. Alih-alih menguntungkan pihaknya, video tersebut justru mengungkap skandal yang lebih besar bagi Saudi.

Pasalnya dalam video tersebut diperlihatkan sebuah adegan film dokumentasi penyerangan pasukan Amerika Serikat ke Irak, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Republik Islam Iran atau Yaman.

Jubir Militer Yaman tunjukkan foto tanker UEA yang disita

Video-video yang menunjukkan blunder media Saudi terkait perang terhadap Yaman itu, pada kenyataannya membuktikan bahwa Riyadh sedang berusaha melancarkan perang media terhadap Hizbullah Lebanon dan Republik Islam Iran.

Dengan cara ini, Saudi berharap bisa menunjukkan bahwa pihaknya dalam perang Yaman tidak hanya berhadapan dengan orang-orang Yaman saja, tapi juga dengan Hizbullah dan Iran, atau dalam istilah media disebut pemain poros perlawanan.

Cerita fiktif yang dirangkai Saudi ini dari satu sisi dibuat untuk mengurangi rasa malu yang diderita Saudi karena kalah perang melawan orang-orang Yaman, dan di sisi lain dilakukan untuk menciptakan atmosfir yang menyudutkan Iran dan Hizbullah Lebanon.

Meskipun demikian, strategi ini dijalankan oleh Saudi dengan malu-malu dan canggung sehingga lebih dipandang sebagai lelucon oleh banyak kalangan.

Sehubungan dengan ini, Kepala tim juru runding Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman, Mohammed Abdulsalam mengatakan, “Ini adalah sebuah skandal besar ketika Juru bicara pasukan Koalisi Saudi mengklaim potongan video AS menunjukkan sebuah lokasi rudal Ansarullah di Al Hudaydah. Koalisi Saudi ingin menutupi kekalahan di medan tempur dengan kemenangan fiktif dan lelucon media.”

Setelah blunder media Saudi mendapat reaksi luas di media sosial, Jubir pasukan Koalisi Saudi, Turki Al Maliki yang baru saja berkunjung ke Provinsi Shabwa, Yaman secara resmi mengakui bahwa video yang memperlihatkan gudang rudal militer Yaman, adalah rekayasa.

Ia menuturkan, “Video-video kontroversial secara keliru jatuh ke tangan kami, dan kami berkomitmen untuk memeriksa validitas dan transparansi peristiwa-peristiwa operasi dan media.”

Perilaku Saudi ini semakin menjelaskan kekalahan negara itu dalam perang terhadap Yaman, dan memperlihatkan bahwa mereka sekarang kebingungan dan cemas, sampai-sampai kehilangan kemampuan memfilter media, dan dengan mudah menjadi bahan olok-olok. (HS)

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *