Korut Tembakkan ‘Proyektil Tak Dikenal’ Usai Peluncuran Rudal Hipersonik

Seoul: Korea Utara (Korut) sekali lagi meluncurkan sebuah proyektil yang diduga merupakan rudal balistik, ucap Kementerian Pertahanan Jepang pada Selasa, 11 Januari 2022. Peluncuran ini terjadi kurang dari sepekan usai Korut menembakkan proyektil yang diklaimnya sebagai senjata “hipersonik.”
 
Korea Selatan (Korsel) juga mengonfirmasi adanya peluncuran dari negara tetangganya, dengan mengatakan bahwa sebuah proyektil tak dikenal telah ditembakkan ke perairan antara Korut dan Jepang.
 
Peluncuran rudal dilakukan Korut di saat enam negara, termasuk Amerika Serika (AS) dan Jepang, meminta Pyongyang untuk menghentikan “aksi yang dapat mengganggu stabilitas” dalam sebuah pernyataan gabungan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Keenam negara juga meminta Korut “terlibat dialog bermanfaat demi mencapai tujuan denuklirisasi penuh” di Semenanjung Korea.
 
“Aksi-aksi (Korut) ini meningkatkan risiko miskalkulasi dan eskalasi, serta dapat menjadi ancaman signifikan bagi stabilitas kawasan,” kata Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield, dikutip dari The Japan Times.
 
“Setiap peluncuran rudal tidak hanya akan memajukan kapabilitas DPRK, tapi juga mengembangkan derean persenjataan untuk dikirim ke klien dan penjual senjata ilegal di seluruh dunia,” sambungnya.
 
Pekan kemarin, Korut mengklaim telah berhasil meluncurkan sebuah “rudal hipersonik.” Jika klaim itu benar, maka Korut telah memiliki tambahan senjata yang berpotensi menghindari sistem pertahanan rudal.
 
Baca:  Korea Utara Akui Luncurkan Rudal Hipersonik
 
Dalam beberapa bulan terakhir, Korut telah melakukan uji coba sejumlah sistem senjata terbaru, yang meliputi rudal jelajah jarak jauh. Senjata tersebut memiliki kapabilitas untuk membawa bom nuklir ke Jepang. Terdapat juga senjata yang dapat diluncurkan dari kapal selam dan kereta api.
 
Semua persenjataan itu dinilai sejumlah pengamat sebagai misi Korut dalam mengalahkan sistem-sistem pertahanan rudal.
 
Program senjata Korut memicu kekhawatiran Jepang, dan sejumlah pejabat tinggi — termasuk Perdana Menteri Fumio Kishida — melontarkan wacana bahwa Negeri Sakura harus mendapatkan kapabilitas serang, bukan hanya bertahan.
 
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.