Rahbar: AS Sangat Memusuhi Republik Islam Iran karena Lahir dari Agama

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar mengatakan, orang-orang yang meneriakkan “Mampus Amerika” menjadi sebab permusuhan abadi kubu imperialis terhadap Republik Islam Iran.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Minggu (9/1/2022) dalam pertemuan virtual dengan sejumlah lapisan masyarakat Qom untuk memperingati Kebangkitan 19 Dey (9 Januari 1978) menuturkan, “Amerika Serikat sangat memusuhi pemerintahan Republik Islam Iran, karena negara ini lahir dari agama dan merupakan manifestasi keyakinan agama dari sebuah bangsa.”

Menurut Rahbar, Republik Islam Iran adalah perwujudan dari Islam, dan kedaulatan umat Islam, dan warga Ahlu Sunnah di berbagai negara dunia menunjukkan kecintaan pada Republik Islam Iran.

Ia menambahkan, “Acara-acara besar mengenang Syahid Qassem Soleimani di berbagai negara Muslim, adalah salah satu bukti kecintaan, dan dukungan umat Islam terhadap Republik Islam Iran, mulai dari timur Asia hingga ke barat Afrika.”

Menurut Ayatullah Khamenei, acara pemakaman bersejarah Syahid Soleimani merupakan bukti menyalanya semangat masyarakat yang akan menjadi pembuka berbagai peluang.

“Di acara pemakaman Syahid Soleimani, rakyat Iran sekali lagi menunjukkan persatuan, identitas agama dan revolusi mereka, dan jika jenazah suci itu dibawa ke Suriah, Lebanon serta Pakistan, ia pun akan mendapatkan sambutan luas bangsa-bangsa Muslim, layaknya di Iran dan Irak,” paparnya.

Ayatullah Khamenei menyebut gugurnya Jenderal Soleimani sebagai bukti berlanjutnya kalkulasi keliru AS. Para teroris ingin membuat sirna Haj Qassem sebagai simbol gerakan besar, tapi gerakan besar, tekad dan kecintaan masyarakat Iran serta masyarakat negara lain yang nampak pada peringatan tahun kedua gugurnya Syahid Soleimani, serta lahir dari kekuatan Tuhan, membuktikan bahwa mesin kalkulasi AS, benar-benar cacat dan rusak.

Rahbar menilai tidak tunduk pada penjajah dan arogan, adalah salah satu prinsip revolusi. Menurut Ayatullah Khamenei, jika pada satu waktu berunding, berdialog dan berinteraksi dengan musuh, itu bukan berarti tunduk pada musuh, sebagaimana sampai sekarang tidak tunduk, dan ke depannya juga akan seperti itu. (HS)

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.