Prajurit AS di Jepang Diminta Hindari Kontak dengan Warga Lokal

Tokyo: Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengaku telah mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat, bahwa pasukan AS di Negeri Sakura harus menghindari aktivitas non-esensial di luar markas di tengah pandemi Covid-19. Kesepakatan tercapai usai para prajurit AS di Jepang dituduh menyebarkan Covid-19 di kalangan warga lokal.
 
Kishida mengatakan kepada Japan Broadcasting Corporation (NHK) pada Minggu, 9 Januari 2022, bahwa pemerintah “secara prinsip sudah mencapai kata sepakat dengan AS” mengenai aktivitas prajurit di dalam dan luar markas.
 
Dalam perjanjian disebutkan bahwa aktivitas luar markas semua tentara AS di Jepang harus dikontrol dan jika diperlukan, dilarang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Pemerintah Jepang secara resmi meminta AS untuk memastikan semua prajuritnya tetap berada di markas mereka pada Kamis lalu. Permintaan disampaikan saat Jepang mengimplementasikan kembali berbagai pembatasan Covid-19 di beberapa wilayah dekat markas AS.
 
Dugaan penularan Covid-19 dari prajurit AS ke warga lokal telah memicu kemarahan di Jepang. Banyak warga lokal geram karena militer AS cenderung kurang memerhatikan protokol kesehatan dalam menekan risiko penyebaran Covid-19.
 
Bulan lalu, 227 orang di pangkalan marinir AS Camp Hansen di Okinawa dinyatakan positif Covid-19. Menteri Luar Negeri Yoshimasa Hayashi melayangkan protes, dengan mengatakan bahwa aturan Covid-19 di markas-markas AS “tidak sejalan dengan kebijakan di Jepang.”
 
Pekan ini, Gubernur Okinawa Denny Tamaki mengeluhkan bahwa “penyebab utama penyebaran varian Omicron adalah infeksi dari markas-markas militer AS.”
 
Gubernur Hiroshima dan Yamaguchi juga melayangkan protes serupa kepada markas-markas militer AS.
 
Baca:  Pangkalan Militer AS di Okinawa Lockdown Akibat Wabah Covid-19
 
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.