Alasan Mengapa Saudi Gencar Menyerang Hizbullah Lebanon

Tuduhan dan klaim Arab Saudi terhadap Hizbullah terus berlanjut di tengah geliat kelompok-kelompok politik Lebanon untuk mempersiapkan diri menghadapi pemilu parlemen Mei 2022.

Serangan Arab Saudi terhadap Hizbullah dilakukan melalui dua pemain. Dua minggu lalu Raja Saudi Salman bin Abdulaziz dalam statemennya menyebut Hizbullah sebagai organisasi teroris yang perilaku militernya di kawasan mengancam keamanan nasional bangsa-bangsa Arab.

Di sisi lain, Duta Besar Saudi untuk Lebanon Walid Al Bukhari mengulang tuduhan-tuduhan yang dilemparkan Raja Saudi terhadap Hizbullah dan mengklaim bahwa aktivitas Hizbullah adalah aktivitas teroris, dan perilaku militer kelompok ini mengancam negara-negara Arab.

Al Bukhari menambahkan, aktivitas politik, militer, keamanan dan media Hizbullah mengganggu kedaulatan Saudi, dan negara-negara pesisir Teluk Persia.

Selain pejabat Saudi, boneka-boneka negara itu di dalam Lebanon juga melakukan langkah seragam dengan Riyadh, dan melemparkan tuduhan-tuduhan terhadap Hizbullah. Realitasnya mereka menjalankan skenario Saudi di dalam Lebanon, dan mencoba mengendalikan opini publik Lebanon untuk melawan Hizbullah.

Dalam kerangka skenario ini, mantan Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri mengeluarkan statemen anti-Sayid Hassan Nasrullah, Sekjen Hizbullah, dan menuduh Nasrullah memusuhi Arab Saudi.

“Sikap Anda yang bersikeras memusuhi Arab Saudi dan pejabat negara ini adalah pukulan kontinu terhadap Lebanon, perannya dan kepentingan putra-putranya. Saudi tidak mengancam pemerintah Lebanon, para buruh dan orang-orang Lebanon yang berpuluh-puluh tahun tinggal di tengah masyarakat Saudi,” paparnya.

Klaim Hariri ini dikeluarkan padahal ia pada tahun 2017 dipaksa tinggal di Saudi, dan pemerintah Riyadh kala itu memaksa Hariri mengundurkan diri dari posisinya sebagai PM, lalu mencegah dirinya pulang ke Lebanon.

Saad Hariri dan Putra Mahkota Saudi

Klaim dan tuduhan dari dalam dan luar negeri terhadap Hizbullah memiliki dua alasan pokok. Alasan pertama berhubungan dengan konflik identitas Hizbullah dan Saudi serta sekutu-sekutunya di dalam Lebanon. Hizbullah merupakan salah satu pemain asli dan berpengaruh poros perlawanan.

Tidak diragukan Hizbullah memainkan peran penting dalam upaya meraih banyak kemajuan bagi poros perlawanan selama satu dekade terakhir, dan turut menciptakan perubahan dalam perimbangan kekuatan yang menguntungkan kubu perlawanan, dan rezim Al Saud menganggap peran Hizbullah ini tidak menguntungkan dirinya.

Alasan berikutnya berhubungan dengan pemilu parlemen Lebanon yang rencananya akan digelar pada bulan Mei 2022 mendatang. Pemilu ini dinilai sangat penting bagi arena perpolitikan Lebanon, pasalnya parlemen mendatang negara ini harus memilih Presiden dan Perdana Menteri Lebanon yang baru.

Serangan-serangan Saudi terhadap Hizbullah dilakukan dalam kerangka kepentingan pemilu Lebanon, dan Riyadh berusaha agar koalisi perlawanan kalah dalam pemilu sebagaimana terjadi pada tahun 2018.

Sekutu-sekutu Saudi termasuk Saad Hariri yang sebelum ini gagal membentuk kabinet, sangat berambisi memenangkan pemilu parlemen Lebanon mendatang, karena semakin sedikit anggota koalisi perlawanan di Parlemen, maka peluang kemenangan mereka semakin besar.

Dalam hal ini, mantan Duta Besar Saudi untuk Lebanon Ali Awadh Asseri menuduh pergerakan Hizbullah dapat menyeret Lebanon ke arah perang saudara yang sama sekali tidak menguntungkan negara ini.

Asseri mengklaim bahwa seluruh Lebanon berada dalam bahaya, dan ia terang-terangan mengatakan, “Hegemoni Hizbullah di bidang politik harus dihapus, oleh karena itu rakyat Lebanon harus bangkit, dan pergi ke tempat-tempat pemungutan suara.” (HS)

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *