Sinopsis & Review Japan Sinks: People of Hope (2021)

Drama Japan Sinks: People of Hope (2021) merupakan sebuah drama yang diadaptasi dari novel karya Sayako Komatsu dengan judul Nihon Chinbotsu yang telah dipublikasikan pada 1973.

Novel Nihon Chinbotsu karya Sayako Komatsu ini tidak hanya diadaptasi ke dalam drama Japan Sinks: People of Hope (2021) tapi, diadaptasi ke dalam film yang dibuat pada 1973 dan 2006, drama pada tahun 1974 dan 2021. Selain itu ada juga adaptasi dalam animasi seri Japan Sinks (2020).

Berbeda dengan seri animasinya, untuk seri drama Japan Sinks: People of Hope (2021) selain menceritakan tentang bencana yang terjadi di Jepang, tapi juga penanggulangan yang dipengaruhi oleh isu politik. Diperankan oleh beberapa pemain kawakan seperti Shun Oguri, Kenichi Matsuyama dan masih banyak lagi pemain kawakan lainnya. Penasaran dengan jalan ceritanya? Berikut ini sinopsis dan review  drama Japan Sinks: People of Hope (2021).

Sinopsis

Drama Japan Sinks People of Hope
  • Tahun Rilis: 2021
  • Genre: Drama, Sci-Fi, Political
  • Produksi: Tokyo Broadcasting System (TBS)
  • Sutradara: Nobuhiro Doi, Shunichi Hirano
  • Pemeran: Shun Oguri, Watanabe Anne, Kagawa Teruyuki
  • Jumlah Episode: 10 Episode

Episode 1-8

Pada Oktober 2023, Higashiyama Eiichi (Toru Nakamura) adalah seorang Perdana Menteri yang peduli terhadap lingkungan. PM Higashiyama mengadakan sebuah Konferensi Lingkungan Dunia dan mempromosikan proyek sumber daya alam di bawah laut yang dikenal dengan sebutan “CMOS” kepada orang-orang penting di dunia.

Ada sebuah organisasi yang dikenal dengan Japan Future Promotion Council yang beranggotakan orang muda yang dibagi kedalam beberapa kementerian dan lembaga. Adalah Amami Keishi (Shun Oguri) yang merupakan anggota Japan Future Promotion Council  yang bertanggungjawab pada isu lingkungan hidup.

Suatu hari, seorang peneliti bernama Tadokoro Yusuke (Kagawa Teruyuki) seorang ahli dibidang geofisika yang menyebarkan isu Kanto akan tenggelam. Bermula dengan tenggelamnya pulau kecil di pantai Izu dan Hinoshima yang menyebabkan awal mula pertanda tenggelamnya Kanto. Ucapannya tersebut membuat orang-orang Jepang panik dan meminta pemerintah untuk menanggapi isu tersebut.

Pada keesokan harinya sebuah gempa terjadi di Izu sesuai dengan prediksi Dr. Tadokoro. Tak lama dari kejadian gempa di Izu, pulau di Hinoshima benar-benar tenggelam yang menyebabkan Dr. Tadokoro semakin takut dengan penelitian yang selama ini ia lakukan. Namun, meskipun pulau Hinoshima tenggelam, teori profesor Tadokoro tidak diterima.

Setelah dilakukan survei lapangan ke dasar laut pun, prediksi dan teori Dr. Tadokoro tetap ditolak. Bakhan Profesor Sera (Kunimura Jun) seorang ahli geologi dan juga merupakan teman dari Dr. Tadokoro dengan sengaja merubah hasil survei lapangan. Tapi, akhirnya setelah data survei dasar laut yang sesungguhnya ditemukan, diketahui bahwa tenggelamnya Kanto diperkirakan akan terjadi dalam satu tahun atau kurang dari satu tahun.

Untuk mencari sumber yang lebih terpercaya, akhirnya dimintalah seorang ahli geologi dunia Dr. Jenkins untuk menganalisa data survei tersebut. Kemudian Dr. Jenkins pun setuju dengan prediksi dari Dr. Tadokoro, dengan persentase tenggelamnya Kanto adalah 70%.

Namun, terbagi dua kubu antara pihak yang menuntut untuk mengungkapkan informasi secepatnya kepada masyarakat sedangkan yang lainnya memilih untuk menginformasikan secara bertahap untuk meminimalisir kepanikan di kalangan masyarakat. Kemudian Amami yang mementingkan kepentingan keselamatan masyarakat bekerja sama dengan seorang jurnalis bernama Minori Shiina (Watanabe Anne).

Kemudian Shiina menerbitkan sebuah artikel tentang kebenaran isu tenggelamnya Kanto. Artikel yang muncul di surat kabar itu menyebabkan perekonomian Jepang menjadi kacau, harga saham pun menurun. Akibat dari bocornya informasi tersebut, Minori dirumahkan oleh atasannya dan Amami diberhentikan dari Japan Future Promotion Council .

Evakuasi masyarakat yang tinggal di Kanto dimulai, istri dan anaknya Amami juga ibunya Shiina ikut dievakuasi menggunakan bus. Setelah keberangkatan para warga yang dievakuasi, terjadi sebuah gempa besar yang mengakibatkan gedung-gedung runtuh, jalanan rusak dan tenggelamnya Kanto benar-benar terjadi.

Mengetahui bus yang dinaiki oleh istri dan anaknya Amami juga ibunya Shiina terjebak dan mengalami kecelakan di daerah Matsuba, Amami dan Shiina pergi menuju ke kota Matsuba.

Sesampainya di tempat evakuasi di Matsuba, Amami mengetahui kalau pasokan bantuan belum sampai kesana. Kemudian Amami menghubungi Ishizuka Taira (Eiji Wentz) tentang situasi disana yang belum mendapatkan bantuan untuk para korban dikarenakan jalan dan komunikasi yang terputus.

Takut terjadi gelombang kedua yang lebih besar, Amami menghubungi Dr. Tadokoro untuk mencari kepastian. Dr. Tadokoro mengabarkan, kalau dari prediksi awal hanya 10% wilayah Kanto yang tenggelam dan pergeseran lempengan sudah tidak terjadi lagi. Setelah itu, Perdana Menteri bersama beberapa orang dari Japan Future Promotion Council  datang ke tempat bencana dan memberikan bantuan secara langsung.

Baca juga:

Koichi (Kenichi Matsuyama) meminta maaf kepada Amami karena ia telah meragukan keyakinan Amami untuk menyegerakan evakuasi warga. Kemudian bersama Perdana Menteri, Amami diminta untuk kembali menjadi anggota Japan Future Promotion Council .

Terjadi sebuah konflik antara Perdana Menteri dengan Wakil Perdana Menteri Satoshiro Gen (Ishibashi Renji) yang menekankan rekonstruksi ekonomi. Belum selesai konflik antara Perdana Menteri dengan Wakil Perdana Menteri, Dr. Tadokoro tiba-tiba mengabarkan analisis baru tentang tenggelamnya Jepang dalam waktu setengah tahun.

Japan Future Promotion Council  mengusulkan untuk melakukan pemindahan 120 juta orang ke luar negeri, namun butuh negosiasi yang tepat agar pihak luar negeri bisa menerima. Satoshiro menentang usul tersebut, mengatakan kalau Jepang tidak akan tenggelam, kemudian membeberkan fakta bahwa Dr. Tadokoro membocorkan informasi nasional ke D Plans dan menerima uang dari D Plans. Sehingga Dr. Tadokoro ditangkap oleh Kejaksaan Distrik Tokyo.

Profesor Sera kemudian diminta untuk menganalisis tentang “tenggelamnya Jepang” untuk menggantikan Dr. Tadokoro. Kemudian, Profesor Jenkins menyatakan kalau Jepang tidak akan tenggelam. Belakangan diketahui kalau Profesor Jenkins menerima data yang salah dari Kepala Sekretaris Kabinet Naganuma (Sugimoto Tetta) dan mengancam Profesor Jenkins untuk tidak berhubungan dengan orang Jepang siapapun itu.

Dr. Tadokoro akhirnya dibebaskan dan kembali melakukan analisa bersama profesor Sera. Sementara itu  Perdana Menteri bersama Koichi mencoba negosiasi kepada Amerika Serikat. Sedangkan Amami bersama Wakil Perdana Menteri melakukan negosiasi dengan China. Mereka akan memilih negara yang bisa menampung sebanyak mungkin imigran Jepang.

Setelah terjadi beberapa isu yang cukup menegangkan antara Amerika dengan China sehingga upaya pemindahan warga Jepang akan sulit. Amami kemudian mengusulkan untuk membuat Japan Town di negara-negara yang akan ditinggali kelak.

Dan untuk menarik simpati dari negara lain, Amami meminta Satoshiro untuk melakukan negosiasi kepada mantan presiden China. Setelah China mengumumkan akan menerima imirgan Jepang, negara lain pun mulai membuka diri untuk menerima imigran Jepang.

Episode 9-10

Episode 9-10

Setelah China menerima imigran Jepang dan muncul harapan baru bagi warga Jepang, terjadi sebuah insiden pengeboman di kantor Perdana Menteri Higashiyama. Profesor Sera meninggal setelah berhasil melindungi Perdana Menteri Higashiyama dari serangan bom. Sedangkan perdana Menteri Higashiyama mengalami luka berat.

Sementara itu, Presiden perusahaan Ikushima Motor ditunjuk sebagai Menteri Negara Imigrasi. Bersama dengan anggota Japan Future Promotion Council mereka melanjutkan perjuangan mencari negara lain yang bisa menerima imigran dari Jepang.

Sebagian warga Jepang sudah mulai dievakuasi ke negara lain, namun masih banyak warga yang menolak untuk pergi ke luar negeri. Setelah melakukan beberapa lobi sekarang sudah ada 100 juta orang yang mendaftar untuk melakukan imigrasi. Perkembangan pesat pendaftaran imigrasi tersebut karena adanya aturan baru yakni bisa pindah berdasarkan wilayah.

Namun, ketika jumlah pendaftar semakin bertambah muncul masalah baru. Dibeberapa daerah tenggelamnya wilayah Jepang terjadi infeksi bakteri ruby. Bakteri ruby tersebut telah bermutasi sehingga mengakibatkan beberapa orang meninggal, bahkan beberapa orang yang telah pindah ke luar negeri pun ada yang terkena penyakit tersebut. Hal ini menyebabkan negara luar mulai melarang imigran Jepang untuk melakukan proses imigrasi.

Tersisa 90 juta jiwa di Jepang, Profesor Tadokoro mengabarkan kemungkinan tenggelamnya Jepang bisa terjadi lebih cepat, yaitu dalam kurun waktu empat bulan. Baik anggota pemerintahan dan anggota Japan Future Promotion Council  semakin dibuat sibuk sekaligus tegang dengan informasi terbaru juga dengan isu bakteri ruby.

Suatu hari, ditemukan obat untuk mengatasi penyebaran bakteri ruby, yaitu dengan menggunakan kombinasi obat dari Tokiwa Medical dan Hata Pharmaceutical. Perdana Menteri kemudian mengumumkan informasi tersebut kepada dunia dan mengajak dunia untuk bersama-sama membuat obat tersebut untuk mencegah penyebaran penyakit ruby. Hal tersebut disambut baik dan berhasil membuat imigran Jepang mulai diterima kembali.

Dua bulan kemudian, masyarakat sudah banyak yang bermigrasi ke luar negeri, sedangkan pemerintahan sementara pindah ke Hokkaido sambil menunggu informasi lebih lanjut terkait bencana yang akan melanda Jepang. Beberapa orang dari Japan Future Promotion Council masih berada di wilayah Tokyo, kemudian Profesor Tadokoro menyuruh Amami untuk segera pergi dari sana secepatnya, karena sudah mulai muncul pertanda wilayah Kanto akan tenggelam.

Amami dan Koichi sedang dalam pesawat menuju Hokkaido, kemudian bencana tenggelamnya Kanto pun terjadi bahkan Gunung Fuji pun meletus. Beruntung mereka selamat dan sampai di Hokkaido. Tapi, warga Hokkaido masih banyak yang tidak mau dievakuasi. Sementara peringatan untuk evakuasi semakin mendesak dan dipercepat dalam waktu tiga hari.

Lalu tiba-tiba terjadi sebuah gempa besar akibat dari runtuhnya Fossa Magna yang mengakibatkan Honshu tenggelam. Kembali terjadi sebuah keajaiban, dimana gempa besar yang mengakibatkan sebagian besar negara Jepang tenggelam itu menyebabkan lempengan baru muncul.

Karena pergerakan dari lempengan baru itu, wilayah di sekitar Kyushu, Hokkaido dan utara Aomri sudah tidak berpotensi tenggelam lagi. Sebagian daratan Jepang masih ada dan Jepang tidak seutuhnya tenggelam.

Mengangkat Isu Perubahan Iklim, Isu Politik dan Mental Masyarakat

Mengangkat Isu Perubahan Iklim, Isu Politik dan Mental Masyarakat

Drama Japan Sinks: People of Hope (2021) ini berpusat pada cerita tentang bencana yang terjadi di Jepang. Awalnya bencana tersebut terjadi di sebagian daerah Jepang yaitu Kanto, namun bencana semakin membesar yang melanda seluruh pulau Jepang. Bencana besar yang melanda Jepang tersebut adalah tenggelamnya Jepang.

Di drama ini tidak hanya diperlihatkan tentang bencana yang melanda Jepang, tapi diperlihatkan juga dari sisi politik. Baik politik dari dalam negara dan politik di luar negara Jepang.

Bagi para politikus yang ada di negara Jepang sendiri diperlihatkan terdapat dua kubu, dimana kubu yang ingin segera menyelamatkan masyarakat Jepang dan yang memilih untuk menyelamatkan perekonomian Jepang. Sedangkan politik luar negerinya diperlihatkan ketika mengharuskan negosiasi yang tidak mudah demi menyelamatkan banyak masyarakat Jepang.

Selain itu, diperlihatkan juga mental dari para masyarakat modern ketika mendapatkan informasi dari pemerintahan mengenai isu bencana. Dimana terjadi sebuah penolakan, merasa dibohongi, menganggap sebuah konspirasi dan juga diperlihatkan ego dari masing-masing karakter.

Baca juga: Pemain di Drama Japan Sinks: People of Hope (2021)

Perjuangan untuk Menyelamatkan Manusia

Perjuangan untuk Menyelamatkan Manusia

Dalam durasi sekitar 1 jam di setiap episodenya, penonton diperlihatkan bagaimana sulitnya perjuangan untuk menyelamatkan masyarakat. Dengan terbagi dua bencana yang melanda, saat bencana yang melanda sebagian Jepang yaitu Kanto dan bencana yang melanda seluruh negara Jepang.

Jika saat bencana di Kanto, pemerintah dan anggota Japan Future Promotion Council  masih bisa mengevakuasi sebagian warga terdampak ke kota lain. Tapi ketika bencana melanda seluruh negara Jepang tentu membuat orang-orang bingung akan dievakuasi kemana masyarakatnya.

Pengambilan keputusan yang cukup sulit terutama untuk pemerintahan yang ingin menyelamatkan rakyatnya. Tapi tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menyelamatkan rakyat, terutama ketika akhirnya pemerintah meminta bantuan ke negara lain untuk mau menerima imigran Jepang. Ditambah lagi, negara yang dimintai tolong pun tidak mau menerima imigran Jepang begitu saja.

Diperankan oleh Pemain Kawakan

Diperankan oleh Pemain Kawakan

Drama Japan Sinks: People of Hope (2021) ini diperankan oleh beberapa pemain kawakan yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi para pecinta drama Jepang. Apalagi bagi yang merindukan akting dari para pemain tersebut, seperti aktor Shun Oguri, Kenichi Matsuyama, Watanabe Anne, Kunimura Jun, Nakamura Toru dan masih banyak lagi.

Pembawaan karakter protagonis maupun antagonis menurut saya bisa diacungi jempol. Ketika panik, sedih, marah, pasrah, hopeless dan emosi-emosi lainnya tersampaikan dengan jelas. Namun ketika scene terjadinya bencana diperlihatkan bisa dibilang efek yang diperlihatkan agak terasa biasa. Meskipun begitu, scene  ketika tenggelamnya Kanto bisa dibilang cukup menakutkan.

Dari segi alur cerita mungkin di awal-awal episode terasa agak lama dan agak membosankan, tapi ketika episode munculnya bencana awal sudah mulai menegangkan dan penasaran dengan tindakan yang akan diambil oleh para pemainnya, apakah memilih menyelamatkan nyawa atau lebih memilih perekonomian yang merupakan pilihan sulit.

Drama Japan Sinks: People of Hope (2021) ini direncanakan memiliki 10 episode, yang sampai saat ini sudah ada 9 episode yang dirilis. Sedangkan pada tanggal 12 Desember 2021 mendatang, rencananya akan ditayangkan episode terakhir dari drama Japan Sinks: People of Hope (2021).

Untuk yang mau menonton drama Japan Sinks: People of Hope (2021), bisa ditonton di situs resmi Netflix ya! Bagaimanakah kira-kira perjuangan akhir dari pemerintah Jepang untuk menyelamatkan rakyatnya? Apakah mereka berhasil mengevakuasi rakyatnya ke luar negeri? Dan apakah tenggelamnya Jepang benar-benar terjadi? Jangan lupa untuk mengikuti kelanjutan ceritanya hanya di bacaterus.

Bersatu untuk Masa Depan Bersama

Bersatu untuk Masa Depan Bersama

Ketika bencana semakin didepan mata belum lagi ditambah muncul sebuah penyakit yang tidak hanya terjadi di Jepang, tapi juga di seluruh dunia. Kejadian ini tentunya membuat semua orang khawatir, terutama bagi warga Jepang yang kala itu menghadapi dua isu sekaligus.

Tapi dengan bersatu saling membantu dan menyemangati satu sama lain, terbukti semua masalah bisa diselesaikan bersama-sama dengan saling bergotong royong. Apalagi ketika muncul isu penyebaran penyakit, tidak hanya anggota Japan Future Promotion Council  yang bekerja, bersama dengan Tokiwa Medical mereka bisa menemukan obat untuk penyakit yang sedang menyebar.

Dan karena isu penyakit ruby tidak hanya ada di Jepang, akhirnya Perdana Menteri Jepang pun memberikan resep obat penyakit ruby untuk diproduksi secara besar-besaran. Tidak hanya di Jepang, tapi di seluruh dunia dan pemerintah Jepang mengesampingkan dulu hak paten untuk obat tersebut, demi bisa secepatnya bisa menyelamatkan banyak manusia.

Drama yang Menyedihkan dan Menegangkan

Drama yang Menyedihkan dan Menegangkan

Pada dua episode terakhir ini kita benar-benar diperlihatkan bagaimana sulitnya untuk menyelamatkan manusia. Belum lagi betapa menyedihkannya ketika harus melihat wilayah Jepang yang tenggelam. Kemudian ada juga scene dimana Profesor Sera meninggal, Amami dan Koichi yang hampir terjebak oleh tenggelamnya Kanto, lalu Amami harus berpisah dengan anak dan ibunya merupakan scene yang menyedihkan.

Sedangkan ketika scene yang memperlihatkan wilayah Kanto yang tenggelam dan juga gempa besar yang terjadi akibat dari tenggelamnya beberapa wilayah Jepang ini sungguh menegangkan. Tapi pada akhirnya, ketika mendapati Jepang tidak seluruhnya tenggelam pun cukup membuat haru. Karena perjuangan Amami dan yang lainnya terbayarkan sudah setelah berhasil mengevakuasi banyak masyarakat Jepang.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *