Ini Klaim Pentagon soal Misi Baru Militer AS di Irak

John Kirby, juru bicara Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) Selasa (4/1/2022) di sebuah jumpa pers mengatakan, “Kami memiliki misi baru di Irak yang mencakup pelatihan dan jasa konsultasi, dan misi ini dengan penekanan atas hak kami untuk membela diri.”

Meskipun Amerika mengklaim bahwa misi tempur pasukannya di Irak berakhir, tapi klaim Pentagon terkiat misi baru negara ini di Baghdad sama halnya dengan berlanjutnya kehadiran militer Washington di Irak dengan bentuk lain. Setelah teror pengecut terhadap Syahid Letjen. Qasem Soleimani, komandan pasukan Quds IRGC dan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil Hashd al-Shaabi bersama rekan-rekannya di dekat Bandara Udara Baghdad pada 3 Januari 2020 oleh Amerika, parlemen Irak pada 5 Januari 2020 meratifikasi resolusi penarikan pasukan Washington dari negara ini.

Namun demikian, Amerika melalui sikap ilegalnya masih bersikeras melanjutkan kehadiran militernya di Irak. Mengingat represi politik di dalam negeri Irak, akhirnya Presiden AS Joe Biden dan Perdana Menteri Irak, Mustafa al-Kadhimi di kesepakatan yang ditandatangani pertengahan musim panas 2021, berkomitmen bahwa misi tempur pasukan koalisi di bawah pimpinan AS di Irak akan berakhir sebelum akhir tahun 2021. Amerika di tahun terakhir periode Presiden Donald Trump, tahun 2020 mengurangi jumlah pasukannya di Irak mencapai 2500 personel.

Jend. McKenzie

Misi pasukan Amerika di Irak berakhir pada 31 Desember 2021. Meski demikian, Amerika dengan kedok lain masih melanjutkan penempatan pasukannya di Baghdad. Komandan CENTCOM, Jend. Kenneth Franklin McKenzie di sebuah wawancara mengatakan, “Meski misi tempur pasukan Amerika di Irak berakhir, namun pasukan ini masih akan memberi jasa dukungan udara dan berbagai bantuan militer kapada pemerintah Irak untuk melawan Daesh (ISIS).”

Klaim Amerika terkait memberi bantuan kepada Irak melawan kelompok teroris Daesh dirilis ketika Washington selama periode Presiden Barack Obama, memainkan peran langsung di pembentukan dan penyebaran kelompok teroris ini.

Irak Jumat 31 Desember 2021 secara resmi mengesahkan berakhirnya misi dan penarikan pasukan koalisi asing pimpinan AS dari negara ini. Pemerintah Irak seraya merilis pesan di akun Twitternya menyatakan bahwa misi koalisi asing di Irak untuk selanjutnya terbatas pada “Konsultasi dan dukungan sesuai dengan hasil perundingan strategis”. Meski demikian berbagai partai dan faksi Irak menilai sebuah kebohongan belaka penarikan pasukan AS dari Irak mengingat penekanan pemerintah Biden terkait penempatan 2500 militer AS di wilayah Irak.

Sabah al-Ardawi, anggota Gerakan Hakum Irak mengatakan bahwa pemerintah lalai terkait penarikan militer AS dari negara ini. Seraya mengisyaratkan statemen sebelumnya al-Kadhimi soal status konsultan militer AS, al-Ardawi menjelaskan jumlah pasukan yang ditempatkan di Irak tidak sesuai dengan misi konsultasi.

Ahmad Abdul Husein, anggota Biro Politik Gerakan Asaib Ahl Haq Irak menyatakan, pemerintah al-Kadhimi tidak berminat atas penarikan militer Amerika dari Irak meski ada permintaan berulang untuk merealisasikan kedaulatan Baghdad dengan penarikan pasukan ini.

Ahmad Ali, mantan anggota parlemen Irak mengatakan, penekanan pemerintah terkait penarikan pasukan AS dari Irak sebuah kebohongan, dan tidak ada perubahan yang terjadi terkait penarikan pasukan asing dari negara ini.

Militer AS di Irak

Menganalisa sikap petinggi Amerika dan Pentagon menunjukkan bahwa Amerika meski ada keputusan parlemen Irak yang menuntut penarikan pasukan Amerik dari negara ini, tapi kini dengan kedok penasihat dan instruktur militer masih tetap berencana bercokol terus di Irak. Masalah ini memicu respon keras warga Irak dan jawaban keras mereka, dan selama beberapa hari terakhir terjadi sejumlah serangan drone dan ledakan di pangkalan yang dihuni militer dan konvoi Amerika. (MF)

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *