Bayangan Perundingan Wina; Keraguan atas Niat Baik Pihak Barat

Babak kedua dari putaran kedelapan perundingan untuk mencabut sanksi dimulai hari Senin (3/1/2022) setelah tiga hari terhenti karena liburan tahun baru. Perundingan ini digelar di Wina dengan dihadiri diplomat Iran dan Kelompok 4+1.

Mengingat negosiasi putaran kedelapan terus berlanjut, untuk saat ini belum ada rencana untuk menggelar sidang Komisi Bersama JCPOA, tapi lobi di berbagai sektor terus dilanjutkan baik dalam bentuk bilateral maupun multilateral.

Iran sampai saat ini dengan niat baik dan di level tertinggi kerja sama berusaha untuk membuat perundingan ini berakhir dengan hasil yang memuaskan. Selama beberapa hari lalu, delegasi Iran dengan fleksibel dan serius memajukan pembicaraan mengenai agenda kerja perundingan, tapi pihak seberang dengan pendekatan yang dipertanyakan keseriusannya menolak menunjukkan fleksibilitas dan interaksi yang diperlukan untuk membahas isu sanksi.

Sanksi anti-Iran

Juru runding senior Rusia di perundingan Wina, Mikhail Ulyanov Selasa (4/1/2022) saat diwawancarai Televisi Alarabiya seraya mengisyaratkan bahwa sanksi Amerika terhadap Iran masih menjadi kendala perundingan menambahkan, “Saya heran dengan keraguan pihak Barat terkait keseriusan Iran di perundingan.”

Sejak tahun 2018 ketika Amerika Serikat keluar dari perjanjian nuklir, dan pelaksanaan komitmen JCPOA troika Eropa diabaikan; Iran belum pernah mengajukan tuntutan di luar JCPOA dan juga menolak melaksanakan komitmen di luar kesepakatan nuklir. Selama tahun-tahun ini, mengingat sabotase Amerika, bagi Iran JCPOA dari sisi ekonomi tak ubahnya sebuah cangkang kosong. Sementara pihak Eropa, dengan janji-janji kosongnya merekomendasikan Iran untuk komitmen terhadap JCPOA secara sepihak.

Sepertinya, di fase perundingan ini, perwakilan Amerika juga berusaha menekan delegasi Iran untuk mundur dari sikapnya dan mengabaikan hak-hak rakyat Iran melalui propaganda represi media dan sebuah permainan yang menunjuk Iran sebagai pihak yang bersalah. Padahal perundingan beberapa hari lalu mengalami kemajuan signifikan dan pandangan kedua pihak untuk melanjutkan agenda dan mengurangi friksi semakin dekat. Tapi wakil troika Eropa setelah bertemu dengan wakil Amerika, mulai mengambil sikap yang berbeda dan kembali melontarkan tudingan media terhadap Iran.

Fluktuasi ini menunjukkan bahwa pihak lain, alih-alih mengambil langkah positif untuk menebus masa lalu, atas nama Amerika Serikat, sebenarnya telah menawarkan sesuatu yang kurang dari JCPOA di bidang sanksi dan telah meminta sesuatu yang lebih dari JCPOA tentang masalah nuklir. Dan hal ini membuat kemajuan perundingan menghadapi tantangan.

Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian 23 Desember 2021 dalam sebuah jumpa pers seraya mengkritik sikap sejumlah negara Eropa, khususnya Prancis menilai kendala lain perundingan adalah tidak adanya inisiatif baru dari pihak Eropa.

Menlu Iran, Hossein Amir-Abdollahian

Penekanan Iran adalah menolak sesuatu yang kurang dari JCPOA, seperti di bidang sanksi, Iran juga tidak meminta lebih dari JCPOA. Proyeksi yang diluncurkan seiring dengan dimulainya putaran kedelapan perundingan Wina menunjukkan bahwa pihak Barat dengan menyandera isu sanksi dan mengulur waktu di perundingan, berusaha menekan delegasi Iran.

Perhitungan seperti ini muncul dari kekeliruan dan sekedar membuktikan tidak adanya niat baik dan keseriusan pihak seberang di perundingan. Mengingat pendekatan yang berubah dan sikap tak menentu pihak-pihak di perundingan, maka kemajuan negosiasi tergantung pada niat baik pihak seberang. Iran sebelumnya memperingatkan pihak seberang bahwa pendekatan negatif dan sabotase membuat pencapaian kesepakatan menghadapi kendala serius. Perlu juga dicatat bahwa kesabaran Iran dalam menghadapi tuduhan dan menyeret negosiasi ke tingkat media ada batasnya. (MF)

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *