Startup Arutala percepat implementasi metaverse di Indonesia

Alih-alih harus pergi ke rumah sakit, kami hadirkan rumah sakit kepada para nakes untuk kemudahan praktikum

Jakarta (ANTARA) – Istilah “metaverse” ramai diperbincangkan belakangan ini, khususnya sejak CEO Facebook Mark Zuckerberg mengubah nama perusahaannya menjadi Meta Platforms Inc, atau disingkat Meta pada akhir Oktober 2021 lalu.

Pesatnya perkembangan metaverse direspon oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui penguatan ekosistem digital dari hulu ke hilir lewat percepatan pembangunan infrastruktur jaringan telekomunikasi. Tak hanya itu, dukungan pemerintah Indonesia dalam menyambut metaverse pun disampaikan oleh Presiden Joko Widodo yang menyebut metaverse bisa untuk sarana dakwah dan pengajian virtual.

Sejalan dengan perkembangan metaverse, Arutala, perusahaan rintisan berbasis teknologi VR dan AR berkomitmen untuk terus berinovasi dan mempercepat sekaligus memperluas implementasi metaverse di Indonesia.

Baca juga: FIK UI kembangkan virtual reality solusi praktikum masa pandemi

Sepanjang tahun 2021, Arutala berfokus pada kolaborasi VR dan AR di industri teknologi kesehatan, pertambangan, dan alat berat. Perusahaan yang berkantor pusat di Yogyakarta ini telah berhasil mengembangkan produk-produk inovatif bagi berbagai perusahaan di dalam maupun luar negeri.

“Di Arutala, salah satu nilai yang kami kembangkan adalah teknologi dapat memberikan solusi di berbagai lini sektor kehidupan, salah satunya pelatihan yang bersifat high risk dan high cost,” ujar CEO Arutala Indra Haryadi menjelaskan dalam keterangan pers diterima Selasa.

Indra mengatakan setelah melakukan riset dan mengamati pola kebutuhan klien, pihaknya berkesimpulan pelatihan yang paling relevan dengan tantangan tersebut adalah di bidang medical dan engineering base.

“Dengan menciptakan ruang baru melalui teknologi VR dan AR, kita dapat menekan angka risiko dan biaya di pelatihan pada kedua sektor tersebut untuk mencapai hasil yang optimal. Sektor kesehatan sendiri berisiko tinggi bagi pelatihan nakes (tenaga kesehatan) sejak pandemi COVID-19,” tambah Indra.

Baca juga: Menristek desak virtual reality dikembangkan hadapi era 4.0

Indra mencontohkan, salah satu kendala pelatihan calon nakes saat pandemi adalah memandikan pasien secara langsung di rumah sakit akibat risiko penularan Covid-19. Dengan menggunakan VR, risiko penularan dapat ditekan karena pelatihan tidak harus dilakukan di rumah sakit.

“Alih-alih harus pergi ke rumah sakit, kami hadirkan rumah sakit kepada para nakes untuk kemudahan praktikum. Tentu hal ini juga dapat meningkatkan efisiensi pelatihan melalui apa yang kita sebut teknologi VR dan AR,” tuturnya.

Hingga saat ini, Arutala menawarkan beberapa servis unggulan di antaranya VR, AR, MR, PC Simulator, hingga 360° Video. Startup yang didirikan pada tahun 2019 ini juga telah memiliki tujuh mitra institusi pendidikan dari tingkat SMK hingga perguruan tinggi dan lebih dari 25 pengembangan produk.

Baca juga: British Airways akan uji layanan hiburan berbasis VR

Tak hanya itu, pada tahun 2020 Arutala resmi bergabung dalam program Oculus Independent Software Vendor (ISV). Oculus merupakan anak perusahaan dari Meta yang membuat dan mengembangkan produk alat VR seperti Oculus Quest, Oculus Rift, dan Oculus Go. Melalui kerja sama ini, Arutala memiliki peluang untuk berkolaborasi langsung dengan tim dari Oculus dan membantu adopsi VR di Indonesia maupun kawasan Asia Pasifik.

Meski fokus pada tiga sektor pelatihan, Arutala tetap membuka peluang untuk mengembangkan di sektor lainnya. Beberapa teknologi pengembangan lainnya di antaranya adalah drone passenger VR untuk Frogs Indonesia, virtual store VR untuk Ecodoe, automotive virtual web, Gamelan VR, hingga Artda, yaitu lagu dan tarian nasional anak-anak dalam bentuk AR hasil kolaborasi dengan Lab Sarisworo yang didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Arutala memiliki beberapa misi ke depannya, antara lain menjadi menjadi mitra dalam digitalisasi akademik dan vokasi terutama di tingkat SMK dan perguruan tinggi, menjadi pionir pengembangan inovasi metaverse di Indonesia, menjadi mitra riset dan pengembangan di institusi pendidikan dan perusahaan terutama dalam bidang kesehatan, pertambangan, dan alat berat, mengubah pelatihan yang sifatnya high cost, high risk, menjadi pelatihan yang affordable safe and provide maximum result, dengan teknologi imersif,” papar Indra.

Baca juga: Harga aset kripto disebut ikut terdongkrak “hype” Metaverse

Baca juga: Facebook tes VR untuk kerja jarak jauh

Baca juga: Facebook bentuk tim baru untuk VR “metaverse”

Pewarta: Maria Rosari Dwi Putri
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.