Pemerintah Lambat Tangani Banjir, Warga Malaysia Bersatu Beri Bantuan

Kuala Lumpur: Warga Malaysia disebut tengah bersatu untuk mengatasi kesulitan, dari apa yang secara resmi disebut hujan paling lebat dalam 100 tahun.
 
Dilansir dari The Straits Times, Jumat, 24 Desember 2021, selain mengorganisir misi independen untuk menyelamatkan mereka yang masih terdampar, beberapa warga Malaysia dari seluruh negeri menawarkan layanan gratis kepada korban banjir
 
Ibu rumah tangga di Shah Alam, Selangor, Malaysia, Ika Fikri mengatakan, ia terdorong untuk menawarkan layanan binatu setelah melihat pascabanjir

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



“Saya tidak punya banyak uang tapi saya punya sedikit tenaga, jadi ini saya berkontribusi untuk masyarakat karena ‘kita jaga kita’ (kita jaga diri kita sendiri),” kata ibu satu anak berusia 29 tahun tersebut.
 
Fikri mengacu pada ungkapan Melayu yang digunakan oleh orang Malaysia sebagai pengingat bahwa, pada akhirnya, terserah pada masyarakat untuk secara kolektif melindungi dirinya sendiri.
 
Gerakan “Kita Jaga Kita” pun diluncurkan pada puncak pandemi oleh pengguna media sosial, menyusul dugaan inefisiensi pemerintah dalam menahannya.
 
Kali ini, pemerintah juga menghadapi kritik karena tidak mengeluarkan peringatan dini, serta lambatnya respon dalam upaya penyelamatan dan bantuan. Hal ini mendorong individu untuk turun tangan.
 
Relawan pengendara pengiriman makanan, Azhan Mat Alif diketahui menawarkan layanan pengiriman gratis untuk orang yang ingin mengangkut makanan dan barang ke korban banjir.
 
“Saya memutuskan untuk menawarkan diri saya sebagai pengendara yang ditunjuk di pusat bantuan di Klang juga, karena itu yang paling tidak bisa saya lakukan. Faktanya, ada banyak dari kita (penunggang) melakukan bagian kita bersama-sama,” ujar laki-laki berusia 23 tahun itu.
 
Hujan pada Rabu pagi, dilaporkan menaikkan ketinggian air di beberapa bagian Selangor. Para pejabat memohon kepada para pengungsi untuk tidak kembali ke rumah. Hingga Kamis, jumlah korban tewas akibat banjir besar yang melanda Malaysia mencapai 37 orang, sedikitnya 10 orang belum ditemukan.
 
Sejauh ini, lebih dari 68 ribu orang dari lebih 18 ribu rumah tangga di Semenanjung Malaysia diketahui telah mengungsi. Enam negara bagian, Perak, Selangor, Negeri Sembilan, Melaka, Pahang, Kelantan, dan Kuala Lumpur terkena dampak parah.
 
Perusahaan layanan IT, Topone Technology juga telah datang dengan inisiatif yang menyediakan layanan perbaikan komputer gratis.
 
“Kami mulai pada 21 Desember, dan responnya bagus, tapi sejauh ini baru 20 komputer yang dikirim ke pengguna. Sisanya menunggu banjir surut,” tutur seorang perwakilan perusahaan.
 
Ibu rumah tangga lain, Nadiah Rosdi mengatakan, total 1.160 paket sembako dan kebutuhan seperti obat-obatan, selimut, dan pembalut telah dibagikan kepada para korban di Shah Alam dan Klang, Selangor.
 
“Dengan bantuan keluarga dan orang asing yang baik hati, teman-teman saya dan saya berhasil mengumpulkan lebih dari Rp135 ribu untuk upaya ini. Kami berharap mimpi buruk ini akan segera berakhir,” jelas wanita berusia  38 tahun tersebut. (Nadia Ayu Soraya)
 
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.