BRIN kukuhkan empat profesor riset

Jakarta (ANTARA) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengukuhkan empat profesor riset di lingkungan instansi tersebut sehingga menambah jumlah profesor pada tingkat nasional menjadi 7.833 orang.

Keempat profesor riset yang dikukuhkan tersebut yakni Prof Irtanto dari Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa TImur, Prof Agus Haryono dari Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik, Prof Siswanto dari Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Humaniora, dan Prof Muhammad Rokhis Khomaruddin dari Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa.

“Semangat dan selalu fokus dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang periset menjadi modal utama untuk dapat meraih prestasi hingga menjadi profesor,” kata Kepala BRIN Laksana Tri Handoko dalam acara virtual Orasi Pengukuhan Profesor Riset di Lingkungan BRIN Tahun 2021 di Jakarta, Kamis.

Kepala BRIN menuturkan untuk menjadi seorang profesor tidaklah mudah, ketekunan dan semangat yang tinggi dalam melakukan riset menjadi kunci keberhasilan.

Handoko berpesan kepada para profesor riset tersebut agar mampu membina para periset di bawahnya untuk dapat bekerja lebih baik sehingga penelitian yang dilakukan dapat memberikan hasil yang maksimal dan bermanfaat bagi masyarakat.

Dengan demikian di masa datang, kualitas sumber daya manusia (SDM) ilmu pengetahuan dan teknologi BRIN terus meningkat dan mampu bersaing dengan para periset di tingkat global.

Dalam orasinya, Profesor ke-626, Irtanto dari bidang Politik menuturkan perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi telah melahirkan otonomi daerah.

Baca juga: BRIN ciptakan banyak skema penguatan dan pemanfaatan riset dan inovasi

Baca juga: BRIN sebut generasi muda sebagai tonggak pembangunan bangsa

Otonomi daerah diharapkan dapat memelihara hubungan yang serasi, baik antara pusat dan daerah maupun antardaerah sehingga dapat meningkatkan pembangunan daerah dan kinerja birokrasi pelayanan publik.

“Namun, dalam pelaksanaannya, otonomi daerah justru menimbulkan berbagai konflik antar daerah otonom kabupaten/kota dan konflik internal daerah otonom,” ujar Irtanto.

Menurut Irtanto, konflik dalam otonomi daerah perlu direspons dengan penyelesaian konflik dan perlu dikonstruksi demi masa depan kelangsungan pemerintahan daerah.

Penanganan konflik perlu melibatkan pihak yang berkonflik dengan mempertimbangkan win-win solution (penyelesaian yang menguntungkan dan memuaskan semua pihak) untuk mengakomodasi semua kepentingan.

Profesor ke-627, Agus Haryono dari bidang Kimia Makromolekul, dalam orasinya mengatakan isu permasalahan sampah yang timbul akibat dari pemakaian plastik yang tidak ramah lingkungan.

Fenomena mikroplastik yang mencemari lautan Indonesia mengakibatkan juga cemaran terhadap biota laut yang bersifat karsinogen menjadikan bukti pentingnya pengembangan kemasan ramah lingkungan.

Sedangkan Profesor ke-628, Siswanto yang merupakan pakar bidang Ilmu Politik menyampaikan orasi masalah perubahan kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) dalam sengketa Irian Barat dari pasif netral menjadi aktif mediasi dipengaruhi oleh faktor internal dan dan eksternal.

Di samping itu, Model Aktor Rasional (MAR) dan Model Pilihan Rasional (MPR) dinilai kandidat menjadi konsep yang relevan untuk memahami pengambilan keputusan yang menghasilkan perubahan kebijakan AS dalam sengketa Irian Barat.

Menurut Siswanto, faktor internal adalah rekomendasi para elite dan pergantian pejabat di era pemerintahan AS yang dipimpin Presiden JF Kennedy.

Faktor eksternal adalah meningkatnya eskalasi konflik Irian Barat pada awal 1962 sehingga berpotensi menjadi perang terbuka dan masuknya pengaruh Uni Soviet ke Indonesia.

Ia mengatakan studi kebijakan luar negeri AS perlu dikembangkan di universitas atau lembaga riset di Indonesia agar dampak politik global AS tidak merugikan kepentingan nasional Indonesia.

Profesor ke-629, Muhammad Rokhis Khomaruddin dengan kepakaran bidang Teknologi Penginderaan Jauh dan Geomatika, menyampaikan orasi tentang deteksi permasalahan lingkungan difokuskan pada pemanfaatan data penginderaan jauh yang selanjutnya dapat digunakan untuk mitigasi bencana.

Baca juga: BRIN akomodasi riset eksplorasi kekayaan alam maritim Indonesia

Baca juga: BRIN sediakan skema fasilitasi riset untuk akuisisi pengetahuan lokal
 

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.