Sinopsis dan Review Film Indonesia Yuni (2021)

Sebuah film yang menggambarkan kehidupan seorang remaja yang hampir menginjak usia 17 tahun. Yuni (2021) menjadi film yang menunjukkan, bahwa wanita tidak hanya memiliki tiga tugas “Dapur, Sumur dan Kamar”. Tapi lebih dari itu, wanita juga berhak memiliki kebebasannya sendiri untuk menentukan bagaimana mereka akan menjalani hidup.

Disutradarai dan ditulis sendiri oleh Kamila Andini, proyek film ini sebenarnya sudah dibuat sejak tahun 2017. Yuni (2021) memang bukan film sembarangan, tayang perdana di Kanada hingga menyabet banyak penghargaan bergengsi. Film ini juga akan membuat kita sadar, realita apa yang sedang dihadapi oleh anak-anak perempuan di luar sana?

Baca juga: 20 Film Indonesia Terbaru yang Wajib Ditonton di 2021

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun Rilis: 2021
  • Genre: Coming of Age, Drama
  • Sutradara: Kamila Andini
  • Pemeran: Arawinda Kirana, Kevin Ardilova, Dimas Aditya
  • Produksi: Fourcolours Films, Kharisma Starvision Plus, Akanga Film Asia, Manny Films

Seorang gadis tengah bersiap-siap di kamarnya. Ia memakai pakaian dalam hingga seragam sekolahnya dengan rapi. Mengendarai sepeda motor matik berwarna ungu, Yuni (Arawinda Kirana) sampai di sekolah dalam keadaan basah kuyup.

Hari itu sedang ada kunjungan dari Wakil Bupati Banten, wanita itu mengutarakan akan melakukan tes keperawanan pada para siswi demi keamanan mereka. Yuni tidak ambil pusing soal isu ini, gadis ini malah disibukkan dengan permintaan Bu Lies (Marissa Anita) untuk mengembalikan ikat rambut ungu yang diambilnya.

Belum lagi anak-anak band mengatakan bahwa sekolah akan melarang setiap kegiatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Makin runyam lah isi pikiran Yuni, bagaimana bisa kegiatan menyanyi dilarang dan dianggap membuka aurat?

Yuni sendiri adalah murid yang berprestasi di sekolah. Tapi, menjelang kelulusannya ia masih belum tahu akan melakukan apa di masa depan. Tawaran beasiswa kuliah ada di hadapannya, dan Ayahnya sangat menginginkan Yuni untuk kuliah.

Tapi Yuni masih bingung, mau ambil jurusan fisika atau musik. Yang penting baginya adalah tidak mau berakhir jadi guru PAUD atau bekerja di pabrik. Tapi melihat kehidupan teman-temannya yang berpacaran, hamil, menikah lalu sibuk mengurus anak tanpa suami, jelas hal ini juga bukan hal yang diinginkannya.

Sayangnya, lingkungan Yuni mengatakan bahwa “anak gadis tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena nantinya pasti balik ke dapur”. Hal ini menjadi beban pikiran tersendiri baginya. Sejak saat itu Yuni mulai mencari apa yang diinginkannya.

Suatu hari sepulang sekolah, Yuni dikagetkan dengan rombongan tamu yang datang ke rumahnya. Ternyata itu adalah rombongan yang ingin melamar Yuni, tapi Yuni menolaknya. Pasalnya, ia tidak mengenal pria yang melamarnya dan hanya pernah bertemu satu kali. Berita ini langsung tersebar luas, dan Yuni dikatakan sebagai anak muda pembangkang serat banyak mau.

Yuni kesal dan marah, tapi ia tidak bisa melakukan apapun selain dengan mencari pelampiasan. Tapi tak lama setelah itu lamaran kedua datang. Yuni dilamar oleh paman temannya untuk jadi istri kedua.

Pria itu memberikan uang panjer 25 juta dan akan menambah uang lagi jika Yuni masih perawan. Untuk yang kedua kalinya Yuni menolak lamaran ini, hingga sebuah mitos kini ditempelkan padanya.

Perempuan yang menolak lamaran lebih dari dua kali, maka perempuan itu akan dijauhkan dari jodohnya. Tertekan dengan hal ini, Yuni mulai mendapatkan kenyamanan dari sosok Yoga (Kevin Ardilova), sosok pria manis yang sangat pemalu.

Namun hidup memang penuh misteri, karena tiba-tiba saja Pak Damar (Dimas Aditya) – guru sastra favoritnya – datang melamar Yuni. Apakah Yuni akan menerima lamaran ini?

Bagus dari Segala Sisi

Bagus Baik dari Segi Cerita Hingga Penggarapannya

Di penghujung tahun 2021, saya dikejutkan dengan dua film yang memiliki kualitas mumpuni. Salah satunya adalah Yuni (2021), film yang memberikan kesan seperti sedang menonton kisah orang terdekat atau diri sendiri. Jujur saja, saya sangat kagum dengan Kamila Andini karena bisa memberikan sebuah film yang terasa “well directed”.

Saya menyukai bagaimana Kamila Andini bisa membuat Yuni (2021) tanpa peran antagonis. Caranya menyoroti berbagai isu sosial tanpa menghakimi. Ia hanya menggambarkan bagaimana isu itu terjadi di masyarakat. Herannya, saya baru menyadari hal ini setelah selesai menonton filmnya bahwa film ini tidak ada satu pun karakter antagonis.

Baca juga:

Selain itu, saya juga sempat membaca bahwa Yuni (2021) benar-benar melibatkan para pemain dan kru lokal. Bagi saya hal ini sangat penting, karena merekalah yang bisa memberikan kesan nyata untuk sebuah film yang mengangkat isu sosial.

Meski mengambil gaya bahasa vernakular (bahasa sehari-hari suatu golongan masyarakat), filmnya tidak terasa menyulitkan. Saya tahu, akan sulit untuk menikmati keseluruhan filmnya jika mata kita juga disibukkan untuk membaca translate bahasa.

Tapi, jika Yuni tidak memakai bahasa daerah Jawa-Banten dan Sunda-Banten, maka sisi naturalnya tidak akan terasa oleh penonton. Sisi natural ini juga diperlihatkan dengan tata busana dan riasan yang benar-benar pas di setiap karakternya.

Teoh Gay Hian sebagai sinematografer, berhasil memberikan gambar-gambar yang luar biasa memanjakan mata. Setiap sudut pengambilan gambarnya benar-benar bikin penonton makin masuk dengan cerita yang sedang diangkat. Yang paling saya sukai adalah ketika Yuni dan Yoga berdua di rumah kosong, serta adegan penutupnya yang terasa hangat.

Hampir terlupakan, skenario yang ditulis oleh Kamila Andini dan Prima Rusdi patut untuk diacungi jempol. Pasalnya mereka bisa menyatukan puisi-puisi karya Djoko Damono sebagai pembatas setiap stage yang sedang dialami oleh Yuni. Bait-baik puisi ini berhasil dieksekusi dengan baik, diperkuat dengan tata musik yang bikin hati makin terenyuh.

Kehidupan Yuni Sangat Dekat dengan Realita

Kehidupan Yuni Sangat Dekat dengan Realita

Mengambil latar kehidupan seorang remaja di Banten, Yuni (2021) terasa sangat dekat dengan realita. Saya pikir untuk perempuan dewasa yang hidup di perkampungan pinggiran kota, memiliki nasib yang sama seperti Yuni dan kawan-kawannya. Ketika anak perempuan sudah memasuki usia baligh, orang tua mereka akan langsung mencarikan jodoh untuk putrinya.

Tentu saja dengan alasan menghindari perbuatan zina sampai mendapatkan jodoh yang pas dan tepat. Bukankah ini menjadi sebuah pemaksaan dan eksploitasi pada anak di bawah umur? Meski niatnya baik.

Apalagi kalau mendengar kisah hidup Suci Cute (Asmara Abigail), kita bisa melihat bagaimana wanita hanya dipandang sebagai objek oleh pria dan keluarganya.

Pada akhirnya, hal ini akan terus menumbuhkan praktik patriarki dari generasi ke generasi. Bagaimana pria lebih tinggi harkatnya dari pada wanita, bagaimana wanita dilarang memiliki mimpi selain jadi ibu rumah tangga.

Jujur saya merasa miris dengan kenyataan ini. Sampai sekarang banyak orang tua yang memaksakan kehendak mereka agar putrinya menikah dan melupakan cita-citanya.

Bahkan budaya menikahkan anak demi menutupi aib kehamilan, seakan menjadi hal yang lumrah. Lalu, menjadikan teknologi dan karakter sebagai kambing hitam, tentu saja hal ini cukup memuakkan. Makanya saya juga menyoroti soal bagaimana anak-anak bisa terjerumus dengan pergaulan bebas.

Dilihat dari film ini, segalanya berasal dari rasa ingin tahu dan kurangnya penyuluhan pada anak. Di Indonesia sendiri pendidikan seks masih menjadi hal yang tabu, padahal hal ini sangat penting untuk perkembangan mereka.

Sehingga, anak-anak akan tahu, melakukah hubungan seks di usia muda memiliki resiko yang sangat besar dan bisa merusak masa depannya. Alhasil anak-anak ini menggunakan teknologi untuk mencari tahu segalanya, hingga terjerumus ke arah yang salah.

Arawinda Kirana Layak Dianugerahi Pemeran Perempuan Terbaik

Arawinda Kirana Layak Dianugerahi Pemeran Perempuan Terbaik

Pertama kali saya mendengar soal film ini adalah saat menonton ajang Festival Film Indonesia tahun 2021. Saya melihat Yuni (2021) menjadi salah satu film yang masuk dalam banyak kategori, bahkan berhasil menyabet penghargaan untuk Pemeran Utama Perempuan Terbaik.

Memang tidak bisa dipungkiri, Arawinda Kirana memerankan karakter Yuni dengan sangat luar biasa. Bagi saya tidak ada satu pun aktris Indonesia yang bisa memerankan karakter Yuni sebaik Arawinda Kirana. Pembawaannya sebagai seorang gadis ABG yang penuh semangat, tapi hidup dalam lingkungan orang-orang yang tradisional.

Padahal, gadis kelahiran Jakarta tahun 2001 ini baru terjun ke dunia akting di tahun 2020. Penampilannya sebagai Yuni seakan-akan seperti bunga yang baru mekar namun kelopaknya dikelupas secara perlahan.

Arawinda Kirana sangat menonjol sebagai karakter utama, yang hebatnya tidak akan membuat orang bosan untuk melihatnya. Secara perlahan namun pasti, selalu saja ada hal baru yang ditunjukkan dari karakter Yuni.

Arawinda Kirana memperlihatkan kestabilan dirinya untuk memahami karakter Yuni yang sedang mengenal kehidupan. Bahkan, saya tidak merasa seperti sedang menonton seorang aktris yang berakting, tapi benar-benar menonton Yuni. Caranya berbicara dalam logat Jawa-Banten terdengar fasih dan luwes. Anehnya logatnya agak kaku ketika sedang berbicara bahasa Indonesia.

Hal ini merujuk pada karakter Yuni yang memang mendapatkan nilai buruk di pelajaran Bahasa Indonesia. Tidak hanya cara bicaranya, body language Arawinda Kirana juga ikut berbicara mengikuti perkembangan karakter Yuni.

Dramatis dan real, Arawinda Kirana berhasil menjalankan tugasnya dengan sangat baik dan menantikan karyanya di masa depan. Yuni (2021) menjadi salah satu film penutup tahun yang wajib sekali untuk ditonton, terutama oleh para perempuan muda.

Saya sendiri menyayangkan film ini dilabeli 17+, padahal film ini sangat penting untuk ditonton oleh remaja berusia 15 tahun ke atas. Kalau menurutmu bagaimana? Bagikan pendapat mu mengenai film ini di kolom komentar di bawah ini.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.