Kurs Rupiah Pagi Dibuka Tertekan ke Rp14.305/USD

Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Jumat pagi di akhir pekan terpantau kembali melemah ketimbang penutupan perdagangan di hari sebelumnya di posisi Rp14.287 per USD. Mata uang Garuda belum mampu menguat di tengah prediksi The Fed bakal mempercepat pengurangan pembelian aset.
 
Mengutip Bloomberg, Jumat, 26 November 2021, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka tertekan ke level Rp14.305 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.296 hingga Rp14.312 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.263 per USD.
 
Sementara itu, kurs dolar Amerika Serikat terpantau jatuh pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat pagi WIB), karena perdagangan pasar jauh lebih singkat pada kesempatan liburan Thanksgiving. Namun, para investor terus memantau rilis data ekonomi di Amerika Serikat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,09 persen pada 96,7743 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro meningkat menjadi USD1,1209 dari USD1,1199 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris turun menjadi USD1,3321 dari USD1,3323 pada sesi sebelumnya.
 
Sedangkan dolar Australia turun menjadi USD0,7185 dari USD0,7192. Dolar AS dibeli 115,36 yen Jepang, lebih rendah dari 115,43 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9357 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9341 franc Swiss, dan turun menjadi 1,2648 dolar Kanada dari 1,2671 dolar Kanada.

Dolar AS melonjak

Pada hari sebelumnya, dolar AS melonjak secara luas pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis pagi WIB). Dolar mencapai tertinggi 16-bulan terhadap euro dan hampir lima tahun tertinggi terhadap yen Jepang, karena investor bertaruh bahwa Federal Reserve AS akan memperketat kebijakan moneter lebih cepat daripada rekan-rekannya.
 
Pejabat Fed telah berkontribusi pada pandangan yang lebih hawkish bahwa Fed dapat bertindak lebih cepat untuk mencoba membendung kenaikan tekanan harga jika inflasi tidak moderat. Sementara ECB diperkirakan tetap lebih dovish karena pertumbuhan di wilayah tersebut tertinggal.
 
Beberapa pembuat kebijakan Fed mengatakan mereka akan terbuka untuk mempercepat penghapusan program pembelian obligasi mereka jika inflasi tinggi bertahan, dan bergerak lebih cepat untuk menaikkan suku bunga, risalah pertemuan kebijakan terakhir bank sentral yang dirilis menunjukkan.
 
“Penguatan dolar adalah refleksi dari sikap dovish yang ditunjukkan oleh kepemimpinan ECB, versus sedikit lebih banyak perhatian yang ditunjukkan oleh The Fed terhadap inflasi, jadi karena itu mungkin ada sedikit perbedaan dalam kebijakan,” kata Ahli Strategi Pasar DRW Trading Lou Brien, di Chicago.
 
 
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *