Sinopsis & Review Scarface (1983), Karya Ikonik Tahun 80-an

Setiap orang pasti mempunyai keinginan dalam hidupnya. Keinginan itu dianggap sebuah kesuksesan yang ingin dicapai. Untuk mencapai kesuksesan tersebut, setiap orang mempunyai cara masing-masing. Ada yang mau mengikuti prosesnya secara alami, ada yang mengambil jalan pintas, bahkan ada yang menggunakan cara-cara yang illegal.

Seseorang yang ambisius lebih rentan untuk menghalalkan segala cara untuk meraih kesuksesan. Bahkan beberapa ada yang masuk ke dunia kriminal untuk mendapatkan kesuksesan versinya. Film Scarface menceritakan tentang perjuangan Tony Montana menuju kesuksesan tapi dengan cara mafia. Ceritanya bisa diintip dulu melalui sinopsis dan review film Scarface berikut ini!

Sinopsis

Sinopsis & Review Scarface (1983), Karya Ikonik Tahun 80-an 1
  • Tahun Rilis: 1983
  • Genre: Crime, Drama
  • Produksi: Universal Pictures
  • Sutradara: Brian De Palma
  • Pemain: Al Pacino, Steven Bauer, Michelle Pfeiffer, Mary Elizabeth Mastrantonio, Robert Loggia

Pada Mei 1980, Kuba sedang mengalami krisis ekonomi. Fidel Castro membuka gerbang pelabuhan agar orang-orang Kuba dapat mengungsi di negara lain sampai mendapatkan izin tinggal. Sekitar 125.000 penduduk Kuba tiba di Florida dengan 25.000 di antaranya memiliki catatan kriminal. Angka yang nggak sedikit dengan potensi bahaya mengikutinya.

Tony bersama tiga temannya yaitu Manny, Ray Angel dan Chi Chi diberi misi oleh kriminal kelas atas, Frank Lopez. Mereka diminta untuk membunuh seorang jenderal. Imbalannya, mereka akan diberi kartu hijau. Untuk menyambung hidup Tony dan teman-temannya bekerja sebagai pencuci piring restoran kecil di Florida.

Dia merasa datang ke Amerika untuk tujuan yang lebih besar bukan bekerja serabutan. Dia pun menerima tugas dari Omar, tangan kanan Frank untuk transaksi kokain dari pengedar asal Kolombia. Sayangnya transaksi berakhir buruk, Angel harus tewas sementara Manny dan Chi Chi berhasil menyelamatkan Tony sebelum membunuh geng asal Kolombia.

Merasa dijebak oleh Omar, Tony mengembalikan uang serta membawa sejumlah kokain ke Frank. Ketika bertemu dengan Frank, Tony tertarik dengan Elvira, wanita simpanan Frank. Frank kemudian merekrut Tony dan Manny. Tony kembali ke rumahnya untuk bertemu sang ibu dan adiknya, Gina. Ibu Tony enggak mau menerima uang haram.

Tony dan Omar ditugaskan oleh Frank untuk menemui anggota kartel kokain, Alejandro Sosa. Tony melakukan negosiasi dengan Sosa tanpa sepengetahuan Frank. Omar pun marah besar.

Sosa menuduh Omar sebagai polisi yang menyamar. Omar pun tewas digantung menggunakan helicopter. Sosa setuju bekerja sama dengan Tony dengan satu syarat, Tony enggak boleh berkhianat.

Di Miami, Frank marah besar karena Omar menghilang dan Tony justru mengajukan harga yang mahal untuk barang dari Sosa. Tony pun mulai beroperasi sendirian. Di sebuah klub malam, Bernstein, seorang polisi korup yang bekerja sama dengan Frank mencoba memeras Tony. Sebagai gantinya, Bernstein akan melindungi bisnis Frank.

Tony melihat adiknya sedang digerayangi oleh seorang lelaki. Dia kemudian menghajar lelaki itu. Di tengah keributan, ada yang mencoba membunuh Tony. Tony berhasil lolos walau terluka.

Kemudian, dia menghampiri Frank dan Bernstein dan mengatakan bahwa merekalah otak di balik upaya pembunuhan. Setelah ditodong senjata, Frank mengakui perbuatannya. Tony dan Manny pun membunuh Frank dan Bernstein.

Tewasnya Frank membuat Tony bebas mendekati Elvira. Dia pun menikahi Elvira serta menjadi distributor dari kokain buatan Sosa. Bisnis yang menanjak itu membuat Tony bergelimang harta. Dia membangun sebuah rumah mewah lengkap dengan sistem keamanan tertinggi. Hal itu dilakukan karena dia khawatir ada orang yang ingin menjatuhkannya.

Tahun 1983, pemerintah Amerika mencurigai Tony melakukan penggelapan pajak dan dia terancam hukuman penjara. Sosa memberi tawaran agar Tony enggak dipenjara dengan syarat Tony membunuh seorang aktivis yang mencoba mengungkap bisnis Sosa ke publik. Pada saat makan malam, Tony menuduh Manny sebagai biang keladi atas kecurigaan pemerintah kepadanya.

Tony pergi ke New York untuk misi pembunuhan. Dia ditemani oleh Shadow, orang suruhan Sosa. Mereka menempelkan bom di mobil sang aktivis. Ketika sang aktivis itu datang, Tony melihatnya bersama istri dan anaknya.

Tony pun menghabisi Shadow sebelum berhasil memicu bom meledak. Sosa jelas enggak senang dengan tindakan Tony dan merasa dikhianati. Bisakah Tony lolos dari jeratan hukum dan Sosa?

Porsi Drama dan Crime yang Berimbang

Sinopsis & Review Scarface (1983), Karya Ikonik Tahun 80-an 3

Sebagai film yang menceritakan tentang mafia, nggak akan lengkap rasanya kalau nggak ada adegan pembunuhan sebagaimana itulah cara mereka mendapatkan kekayaan dan kejayaan. Scarface pun nggak melupakan hal tersebut. Banyak adegan yang menampilkan cara-cara mafia untuk melanggengkan bisnisnya, bahkan nggak segan-segan untuk menghabisi nyawa orang lain.

Baca juga:

Keistimewaan Scarface adalah ceritanya mendukung adegan-adegan kekerasan yang ada. Cerita yang solid dan penggambaran karakter yang kuat membuat segala tindakan jahat itu terasa mempunyai alasan yang kuat. Terlebih semua tokoh utamanya punya ambisi yang kuat apalagi Tony yang jeli melihat peluang baginya untuk meraih kesuksesan.

Sebenarnya cerita dalam film ini bukanlah barang baru. Seperti kebanyakan film bertema mafia yang lain, ada juga unsur-unsur macam hubungan sesama anggota kriminal, cara berurusan dengan oknum korup sampai tindakan yang tercium oleh pemerintah. Untungnya, dalam film ini semua dikemas dengan cara yang seru dengan penokohan yang kuat.

Penampilan Ikonik Al Pacino

Sinopsis & Review Scarface (1983), Karya Ikonik Tahun 80-an 5

Keberhasilan Scarface menjadi film pop kultur adalah relevansinya dengan hasrat manusia. Tony Montana adalah cerminan dari apa yang diinginkan orang-orang. Dia ingin bisnis yang menghasilkan keuntungan besar, rumah mewah, mobil mahal serta istri yang cantik. Hal-hal itulah yang mendorongnya menjadi sosok ambisius, berani melabrak norma bahkan mengambil resiko.

Pemilihan Al Pacino sebagai Tony Montana merupakan keputusan yang tepat. Dia mengubah aksennya agar mirip orang Kuba, menunjukkan emosi yang nggak stabil serta melafalkan dialog secara meyakinkan bahwa dia merupakan orang dengan ambisi tinggi.

Adegan-adegan ketika dia ketakutan serta frustasi dirundung masalah merupakan beberapa bukti kualitas akting aktor kelahiran New York itu.

Visualisasi yang Menawan

Sinopsis & Review Scarface (1983), Karya Ikonik Tahun 80-an 7

Scarface menyajikan visualisasi yang menawan. Secara sinematografi, pengambilan angle kamera dilakukan dengan sangat baik. Ketika adegan kekerasan, kamera benar-benar menyorot bagaimana para karakter bertarung sehingga adegan itu terasa intens.

Ketika memperlihatkan sudut-sudut rumah Tony, kamera dengan pintar menyoroti sudut-sudut yang penuh dengan kemewahan untuk menunjukkan keberhasilan Tony dalam bisnis kokain.

Visualisasi menawan juga ditampilkan dari gaya berpakaian karakter-karakter di Scarface terutama ketika Tony mulai merintis kesuksesan. Dia menggunakan jas serta kemeja-kemeja yang enggak biasa seperti memperlihatkan sosoknya yang nyentrik. Pun dengan kendaraan serta interior di rumah Tony yang menguatkan kita pada visualisasi seorang mafia.

Scarface dianggap sebagai cult film karena mampu menyajikan cerita seru selama 170 menit, lengkap dengan adegan-adegan khas film mafia. Sebuah karya ikonik dari tahun 80-an ini merupakan salah satu karya yang wajib ditonton minimal sekali seumur hidup. Ada rekomendasi film serupa? Bagikan di kolom komentar yuk!

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *