Sinopsis dan Review Josee, The Tiger and The Fish (2003)

Tsuneo sudah sering mendengar rumor tentang seorang nenek yang mendorong kereta bayi misterius. Di satu pagi yang masih sepi, tanpa sengaja dia akhirnya bertemu dengan nenek tersebut.

Tsuneo menikmati sarapan yang disediakan dan dimasak oleh Kumiko, cucu perempuan si nenek yang cacat, yang terus-menerus dia sembunyikan dari orang-orang.

Tsuneo semakin sering berkunjung dan makan di rumah keduanya. Dia menaruh iba dan ingin menolong Kumiko serta neneknya hingga lama-lama perasaan lain tumbuh di hatinya.

Tsuneo mendapat pertentangan dari nenek Kumiko tapi setelah sang nenek meninggal, Tsuneo kembali merasa terpanggil untuk menemui gadis itu. Bagaimana kisah romantis dua orang beda keberuntungan ini? Sinopsis dan ulasan Josee, the Tiger and the Fish (2003) berikut wajib disimak!

Baca juga: Sinopsis dan Review Josée (2020), Kisah Gadis Kesepian

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun Rilis: Desember 2003
  • Genre: Drama
  • Produksi: Asmik Ace Entertainment Inc.
  • Sutradara: Isshin Inudo
  • Pemeran: Satoshi Tsumabuki, Chizuru Ikewaki, Juri Ueno, Hirofumi Arai

Tsuneo yang bekerja di sebuah tempat khusus bagi orang-orang yang ingin bermain mah-jong terlihat kecewa karena taruhan yang dia menangkan tidak bisa dia dapatkan karena dirinya hanya pemain pengganti. Tsuneo lalu diminta membawa anjing milik atasannya jalan-jalan. Tiba-tiba sebuah kereta bayi meluncur tanpa terkendali.

Seorang nenek yang susah payah mengejar dari belakang meminta tolong pada Tsuneo untuk melihat apakah Kumiko baik-baik saja. Begitu membukanya, Tsuneo mendapati seorang gadis dengan pisau di tangan. Pisau itu mendadak dia arahkan pada Tsuneo yang tak tahu apa-apa.

Tsuneo lalu mengantar nenek dan gadis itu pulang. Dalam perjalanan si nenek bercerita kalau Kumiko mengalami kelumpuhan tapi tiap dokter memberikan vonis yang berbeda. Dengan keadaan seperti itu Kumiko tetap ingin ditemani jalan-jalan.

Di sisi lain sang nenek tak ingin orang-orang tahu dia memiliki cucu seperti itu, sehingga sang nenek hanya membawa Kumiko jalan-jalan saat suasana sedang sepi. Kumiko juga otomatis bersembunyi setiap berpapasan dengan orang lain.

Sampai rumah Tsuneo ditawari sarapan oleh nenek. Pemuda itu makan dengan sangat lahap sampai-sampai nambah porsi nasi. Di tengah-tengah sedang menikmati makanan dia melihat Kumiko berjalan dengan menyeret tubuhnya.

Pemuda itu memuji omelet buatan Kumiko tapi reaksi gadis itu di luar dugaan; dia menyombongkan dirinya dengan mengatakan apa pun yang dia buat pasti enak.

Di kampus, Tsuneo terlihat bicara dengan akrab bersama Kanae. Sampai di rumah selesai bercinta dengan seorang wanita, mereka membicarakan Kanae. Rupanya gadis itu ingin mendapat informasi tentang kesempatan menjadi pekerja sosial. Saat bekerja Tsuneo mendengar para pelanggannya membicarakan tentang si nenek dan kereta bayinya yang misterius.

Mereka sangat penasaran dengan isi kereta bayi yang selalu didorong si nenek itu. Atasannya memerintahkan Tsuneo untuk mengingatkan si nenek agar berhati-hati karena orang-orang semakin penasaran. Dia tahu Tsuneo sempat makan di rumah si nenek tersebut beberapa waktu lalu.

Hari itu Tsuneo kembali ke rumah nenek saat Kumiko sedang memasak. Tsuneo ingin tahu apakah ada orang yang mengejarnya atau tidak, karena khawatir pelakunya adalah salah satu pelanggan di tempatnya bekerja. Tsuneo menyarankan Kumiko agar tidak melalui jalan yang sama untuk menghindari penyerangan.

Kumiko menolak karena saat berjalan di jalan itu dia bisa menikmati bunga-bunga dan bertemu kucing. Tsuneo menertawakannya karena alasan gadis itu sangat sederhana.

Sang nenek yang sedang tidur pun sempat terbangun mendengar keributan di dapur. Di kampus Tsuneo lalu membicarakan Kumiko pada Kanae yang ingin menjadi pekerja sosial.

Baca juga:

Kanae tampak memahami seluk-beluk kebutuhan penyandang cacat serta bantuan yang seharusnya mereka terima dari pemerintah. Kanae akan memeriksa apakah Kumiko dan neneknya terdaftar dalam bantuan pemerintah.

Saat sedang bicara dengan Kanae, wanita yang tidur dengannya tempo hari mengganggu konsentrasi Tsuneo dengan memperlihatkan gesture mesum. Tsuneo coba merayu Kanae dengan mencumbunya tapi gadis itu menolak.

Tsuneo kembali ke rumah si nenek, kali ini dengan membawa beberapa sayuran yang didapat dari saudaranya, Takashi. Saat membantu Kumiko masak, Tsuneo bertanya nama gadis itu.

Kumiko menjawab Josee. Josee gadis yang berwawasan luas karena suka sekali membaca buku yang dipungut sang nenek dari tempat sampah.

Pada pertemuan itu Tsuneo dan Kumiko sudah lebih akrab. Tsuneo bahkan inisiatif mencarikan buku yang ingin dibaca Kumiko sampai ke toko buku bekas.

Setelah berhasil mendapatkannya, Tsuneo baru tahu kalau nama Josee adalah nama tokoh utama di buku tersebut. Tsuneo sudah seperti keluarga bagi si nenek dan Kumiko karena selalu mampir dan makan.

Kumiko yang sangat tertarik dan mendambakan buku tersebut benar-benar terhanyut dalam ceritanya. Hal itu membuat Tsuneo ikut senang. Tsuneo lalu merenovasi kereta bayi Kumiko dengan menambahkan papan skateboard yang memudahkannya meluncur. Hari itu Tsuneo mengajak Kumiko keluar tanpa sepengatahuan sang nenek.

Tanpa merasa malu dan peduli pada pendapat orang lain, Tsuneo membawa Kumiko berlari sampai keduanya terjatuh. Kumiko lalu meminta Tsuneo mengantarnya ke sebuah bengkel menemui Koji yang dia akui sebagai anak.

Pulang ke rumah Tsuneo dan Kumiko dimarahi habis-habisan oleh nenek. Nenek bahkan sampai mengeluarkan kata-kata kasar pada Kumiko.

Di kesempatan lain, Tsuneo kembali bertemu Koji. Pemuda itu lalu bercerita tentang masa lalunya dengan Kumiko yang sama-sama berasal dari panti asuhan. Koji dan Kumiko kabur dari panti asuhan. Dia menggendong Kumiko lari dari sana. Sejak itulah Kumiko menyebut dirinya ibu bagi Koji.

Tsuneo berhasil merayu nenek agar merelakan rumahnya direnovasi oleh dinas sosial. Beberapa pekerja terlihat mulai sibuk tapi Josee bersembunyi. Tsuneo yang tahu tempat persembunyian Josee mengajak gadis itu bicara.

Keduanya tanpa sengaja bersentuhan dan membuat Josee kurang nyaman, tapi Tsuneo memberanikan diri memegang tangan gadis itu sebelum Kanae datang. Apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka?

Kisah Cinta Gadis Cacat dan Pemuda Tampan

Kisah Cinta Gadis Cacat dan Pemuda Tampan

Josee, the Tiger and the Fish (2003) dibuat berdasarkan cerita pendek berjudul serupa karya Seiko Tanabe. Film berdurasi 1 jam 56 menit ini mengantarkan sang sutradara, Isshin Inudo, meraih penghargaan New Director Award for Fine Art dari Minister of Education.

Sang aktor utama, Satoshi Tsumabuki mendapat penghargaan sebagai Best Actor dari Kinema Junpo. Prestasi tersebut tak lepas dari premis film, lebih tepatnya, cerita milik Seiko Tanabe yang indah.

Josee, the Tiger and the Fish (2003) bukan sekadar menampilkan hubungan percintaan biasa, melainkan penerimaan apa adanya seorang pria tampan dengan fisik sempurna terhadap gadis cacat yang membuatnya terkesan.

Lebih Terasa Emosional

Lebih Terasa Emosional

Kisah cinta Josee dan Tsuneo dalam film ini terdengar mustahil dan menjual mimpi, tapi dengan eksekusi yang baik, emosi di antara mereka berdua mengalir seperti alurnya. Keindahan film ini bahkan diadaptasi oleh Kim Jong Kwan sehingga lahirlah Josee (2020) yang diperankan Han Ji Min dan Nam Joo Hyuk.

Kedua film yang berangkat dari premis yang sama tersebut suka tidak suka akan sering dibandingkan. Terutama dari detail-detail penting yang ditampilkan sehingga dapat menyuguhkan emosi dengan kekuatan berbeda.

Jika kamu sudah nonton Josee versi Korea terasa sekali perbedaan dua film ini. Mulai dari atmosfer, tone, detail pada plot, dan emosi.

Josee, the Tiger and the Fish (2003) terasa lebih emosional dan detail. Chemistry antara dua pemainnya dibangun secara natural, pelan dan bertahap sehingga membuat jalan cerita lebih masuk akal dan terasa dramatisnya. Penggambaran karakter di film Josee versi Jepang juga tidak berlebihan, berbeda dengan Josee versi Korea yang terlalu gloomy.

Tone Terang dan Sinematografi yang Detail

Tone Terang dan Sinematografi yang Detail

Kehidupan Josee atau Kumiko yang terasa suram karena kondisi, salah satu daya tarik film ini. Menariknya kesan suram tersebut justru dikemas dengan tone yang cukup terang; tidak menggunakan tone yang gelap dan sumpek, sehingga membuat kurang nyaman dan melelahkan tapi emosinya tetap tidak tersampaikan.

Sinematografi film ini juga terlihat detail dan di beberapa bagian terlihat cantik. Salah satunya scene saat Kumiko digendong Tsuneo pergi ke laut; kamu akan melihat kamera bergerak-gerak, seolah diambil dari sudut pandang Kumiko. Bagian yang terkesan sepele tersebut nyatanya mampu menambah nilai rasa di sana. 

Baru-baru ini Josee, the Tiger and the Fish (2003) juga diadaptasi menjadi sebuah film animasi. Tepatnya disutradarai oleh Kotaro Tamura dan rilis pada 30 Desember 2020 di Busan.

Apakah versi animasinya bisa sebagus versi Jepang atau adakah penyesuaian lain yang dilakukan? Apa pun itu, secara tidak langsung anime tersebut menunjukkan bahwa film ini sangat bertenaga hingga berulang kali diadaptasi. Penasaran dengan versi asli dari Josee ini? Agendakan segera menontonnya!

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *