Isu Toxic Masculinity dalam Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Jakarta: Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas akan tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai 2 Desember 2021. Sang sutradara, Edwin, mengungkapkan toxic masculinity yang menjadi fokus isu dalam film tersebut.
 
“Tumbuh besar di masa kejayaan rezim militer, cerita dan mitos mengenai heroisme dan kejantanan lelaki menjadi sangat familiar bagi saya. Kejantanan adalah tolok ukur kelelakian” ujar Edwin.
 
“Budaya toxic masculinity memaksa lelaki untuk tidak terlihat lemah,” tambahnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menekankan bahwa budaya toxic masculinity memaksa pria untuk tidak terlihat lemah di banding pria lainnya. Menurutnya, hal tersebut masih terjadi di Indonesia hingga hari ini, di tengah masyarakat yang seharusnya memiliki pemikiran demokratis dibandingkan tahun 1980-an.
 
“Saya melihat Indonesia berusaha keras mencoba untuk mengatasi rasa takutnya akan impotensi. Ketakutan yang membawa kita kembali ke budaya kekerasan yang dinormalisasi,” paparnya.
 
Edwin pun sepaham dengan novel karya penulis yang telah meraih penghargaan internasional, Eka Kurniawan. Hingga akhirnya, film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama.
 
Sementara itu, film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas menceritakan tentang Ajo Kawir (diperankan Marthino Lio), pria jagoan yang tak takut mati. Ia memiliki hasrat yang besar untuk bertarung dengan siapa pun. Hal itu didorong oleh rahasia, yakni dia impoten.
 
Kemudian, dia bertemu dengan perempuan bernama Iteung (diperankan oleh Ladya Cheryl) dan mereka bertarung. Ternyata, Ajo babak belur hingga jungkir balik. Mereka pun saling jatuh cinta. Namun, sejumlah permasalahan hidup menghantui mereka.
 

 
 

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *