Khalifa Haftar Calonkan Diri Sebagai Presiden Libya, Lawan Anak Moamar Khadafi

Tripoli: Orang kuat di timur Libya, Khalifa Haftar mengatakan, Selasa 16 November 2021 bahwa dia akan mencalonkan diri sebagai presiden dalam pemilihan 24 Desember. Sebelumnya putra mantan pemimpin Libya Moamar Khadafi, Seif al-Islam Khadafi juga mencalonkan diri.
 
“Saya menyatakan pencalonan saya untuk pemilihan presiden, bukan karena saya mengejar kekuasaan tetapi karena saya ingin memimpin rakyat kita menuju kejayaan, kemajuan dan kemakmuran,” katanya dalam pidato yang disiarkan langsung di televisi Libya, seperti dikutip AFP, Selasa 16 November 2021.
 
Pengumumannya datang dua hari setelah pencalonan Seif al-Islam Kadhafi — putra diktator Moamar Khadafi — yang dituduh melakukan kejahatan perang oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Keduanya adalah tokoh kontroversial. Haftar, yang didukung oleh Rusia, Mesir dan Uni Emirat Arab, dibenci oleh banyak orang di Libya barat dan dituduh berusaha membangun kediktatoran militer.
 
Pada April 2019, Tentara Nasional Libya (LNA) gadungannya melancarkan serangan di ibu kota Tripoli dengan dalih membasmi kelompok-kelompok militan.
 
Perang selama setahun meninggalkan pinggiran ibu kota dalam reruntuhan dan Libya lebih terpecah dari sebelumnya, tetapi gencatan senjata yang ditengahi PBB Oktober lalu membuka jalan bagi proses perdamaian yang mengarah ke pemilihan yang ditetapkan pada 24 Desember.
 
Dalam pidatonya Selasa, Haftar menegaskan bahwa jajak pendapat adalah “satu-satunya cara untuk menarik Libya keluar dari kekacauan”.
 
Pada 22 September, dia untuk sementara pensiun dari perannya sebagai kepala LNA sesuai dengan undang-undang pemilihan untuk memungkinkan dia mencalonkan diri sebagai presiden.

Intimidasi atau lebih buruk

Minggu lalu, pasukannya mengatakan 300 tentara bayaran yang bertempur di pihaknya akan meninggalkan Libya atas permintaan Prancis dalam “gerakan sepihak”, mengharapkan tidak ada imbalan dari pemerintah di Tripoli.
 
Tetapi pasukan pro-Haftar tetap mengendalikan sebagian besar Libya timur dan selatan, dan beberapa analis telah menyuarakan skeptisisme atas kemungkinan pemungutan suara yang bebas dan adil.

 

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *