Dalam 2 Bulan, 60 Pertemuan Virtual Isu Myanmar Dilakoni Utusan Khusus ASEAN

Jakarta: Menteri Luar Negeri Brunei Darussalam, Erywan Yusof menceritakan pengalamannya melakukan diplomasi digital di tengah menjalankan tugas sebagai Utusan Khusus ASEAN untuk Myanmar. Ia mengatakan, dalam dua bulan telah melakukan pertemuan yang berfokus pada Myanmar sebanyak 60 kali.
 
“Karena hampir semua konsultasi ini dilakukan keseluruhan secara virtual, memungkinkan saya untuk berdiplomasi dalam waktu singkat dengan lebih dari 60 kali pertemuan berfokus pada Myanmar,” kata Erywan dalam pidato di Konferensi Internasional Diplomasi Digital (ICDD), Selasa, 16 November 2021.
 
Erywan ditunjuk sebagai Utusan Khusus ASEAN untuk Myanmar pada Agustus lalu. Kehadirannya untuk membantu mengembalikan demokrasi di Myanmar pasca kudeta militer pada 1 Februari tahun ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



April lalu, para kepala negara ASEAN dan juga pemimpin junta Myanmar melakukan pertemuan darurat. Dari pertemuan tersebut, dihasilkan lima poin konsensus.
 
Salah satu isi lima poin konsensustersebut adalah memberikan akses kepada Utusan Khusus ASEAN ke berbagai pihak di Myanmar, termasuk pemimpin sipil yang digulingkan, yang kini menjadi tahanan rumah.
 
Baca juga: Diplomasi Digital Mampu Dorong Pelaku Ekonomi Kreatif ke Pasar Global
 
“Saya tidak hanya berkomunikasi dengan sesama anggota ASEAN, namun juga komunitas internasional, organisasi regional dan internasional,” terang Erywan.
 
“Upaya ini bukan tanpa keterbatasan (karena dilakukan virtual). Tapi saya rasa, membangun kepercayaan dan keyakinan hanya mungkin dilakukan melalui pertemuan fisik,” lanjut dia.
 
Ia mengatakan, walaupun masa jabatannya sebagai Utusan Khusus ASEAN berakhir nanti, ia akan tetap berupaya mengamankan keterlibatan dengan semua pihak untuk memenuhi mandat lima poin konsensus tersebut.
 
“Saya menyadari dampak pertumbuhan media sosial, akan semakin banyak digunakan sebagai alat diplomasi publik ke depan,” imbuh dia.
 
Meski demikian, ia juga memperingatkan agar waspada atas efek yang ditimbulkan. Untuk itu, kata Erywan, kemungkinan efek itu akan menjadi diskusi kebijakan ASEAN ke depannya.
 
ICDD merupakan pertemuan yang membahas mengenai diplomasi digital. ICDD sebelumnya hanya digelar secara regional pada 2019, tepat sebelum pandemi Covid-19. Karenanya banyaknya negara yang tertarik dengan inisiatif Indonesia ini, maka terciptalah ICDD.
 
ICDD digelar secara hibrida, dengan pertemuan tatap muka dilaksanakan di Bali. Pertemuan ini diharapkan dapat juga membantu perekonomian Bali yang baru dibuka kembali untuk wisatawan internasional.
 
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *