5 Petugas Akui Ada Praktik Kekerasan di Lapas Klas IIA Narkotika Sleman

Yogyakarta: Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kanwil Kemenkum HAM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Budi Argap Situngkir menyatakan lima petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Yogyakarta mengakui ada praktik kekerasan terhadap warga binaan. Para petugas itu menyampaikan dalam proses pemeriksaan yang dilakukan internal Kanwil Kemenkum HAM DIY.
 
“Beberapa sudah mengakui, termasuk mungkin ya kekerasannya ada,” kata Budi di Kanwil Kemenkum HAM DIY Jalan Gedongkuning Yogyakarta, Kamis, 11 November 2021.
 
Meski sudah mengakui, Budi melanjutkan, proses pemeriksaan masih berlanjut. Ia belum mengetahui identitas lima petugas yang kini telah dicopot dari jabatannya itu. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Menurut dia, hasil pemeriksaan sementara itu belum bisa untuk dijadikan kesimpulan, meskipun pengakuan itu sudah sesuai laporan eks napi yang melapor ke kantor Ombudsman. Ia mengatakan tim investigasi internal masih melanjutkan serangkaian proses sebelum membuat kesimpulan.
 
“Nanti dirumuskan karena pemeriksaan itu tidak bisa kami ambil kesimpulan dari terlapor atau petugas saja. Kami harus buktikan dengan warga binaan,” ungkapnya.
 
Baca: Ombudsman Pastikan Masih Selisik Dugaan Kekerasan Seksual di Lapas Narkotika
 
Budi menyebut sanksi akan dijatuhkan kepada siapapun yang terbukti melanggar prosedur lembaga. Pihaknya berjanji akan membuat pembinaan di Lapas Narkotika lebih humanis.
 
Terpisah, Vincentius Titih Gita Arupadatu, eks napi pelapor, berharap ucapan Budi bisa direalisasikan. Ia tak ingin napi yang sudah berusaha untuk menjadi baik itu justru berada dalam tekanan, seperti adanya kekerasan dan pelecehan seksual saat menjalani pidana.
 
“Harapannya (pembinaan) di Lapas (Narkotika) bisa lebih baik. Banyak petugas (di Lapas Narkotika) yang baik,” ucapnya.
 
Ia mengingatkan jangan sampai Lapas menjadi tempat lahan subur praktik tindakan kekerasan. Ia menilai, tindak kekerasan dan pelecehan seksual di Lapas Narotika sudah mencoreng institusi tersebut.
 
“Jangan sampai Lapas yang baik ada tindakan kelewatan. Kami mengapresiasi respon (laporan ke ombudsman) sudah ada kemajuan,” kata Vincent.
 
Kasus dugaan kekerasan dan pelecehan seksual dilaporkan ke ombudsman pada awal November lalu. Kasus itu didalami oleh Ombudsman dan juga Komnas HAM. Pihak ombudsman juga mengonfirmasi hasil sementara pengumpulan informasi, tindak kekerasan ada di internal Lapas Narkotika. Adapun Komnas HAM masih akan melaporkan hasil penyelidikan di Yogyakarta ke pimpinan lembaga tersebut.

 

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *