Review Film Last Night in Soho (2021): Mainan Baru Edgar Wright

Review Film Last Night in Soho (2021): Mainan Baru Edgar Wright

Genre horor/thriller mungkin bukan “mainan baru” bagi Edgar Wright sebab sang sutradara sudah menyelaminya dalam beberapa karya sebelumnya. Namun, dalam Last Night in Soho, sineas yang sudah dikenal andal dalam komedi ini mencari mainan baru dalam membuat teror yang mencekam tanpa unsur andalannya.

Mengenai horor, nama Wright justru dikenal lewat film keduanya, Shaun of the Dead (2004), yang membuat namanya melesat. Film ini berkisah tentang sekelompok orang yang terjebak dalam kiamat zombi, tetapi bukan cuma mencekam, lebih banyak tawa karena kekonyolan Simon Pegg, Nick Frost, dkk.

Thriller pun bukan ranah baru baginya. Hot Fuzz (2007), karya lanjutannya yang juga masuk dalam kategori ini, memuat unsur slasher. Selain itu, sama juga seperti pendahulunya, duet Pegg dan Frost yang jadi andalannya dilengkapi dengan The World’s End (2013) yang jadi penutup trilogi Cornetto yang takkonvensional.

Walaupun demikian, Last Night in Soho bisa dikategorikan sebagai “ranah baru” bagi Wright. Dalam film terbarunya, sang sineas asal Inggris mendalami horor psikologis dengan balutan thriller sedikit slasher. Kali ini ia pun takmenderaskan unsur komedinya walau dalam beberapa kesempatan menyelipkan candaan-candaan Inggris yang sudah jadi khasnya.

Satu Sisi Sangat Eksperimental, Di Sisi Lain Sangat Konvensional

Film ini berkisah tentang Ellie (Thomasin McKenzie), perempuan remaja akhir yang baru diterima di jurusan mode di London. Penerimaan ini seakan menjadi mimpi yang terwujud bagi Ellie yang selalu memimpikan tinggal di London dan meromantisasi keindahan dari kehidupan kota tersebut. Seakan-akan, ia hidup di era 1960-an.

Realita pun berkata lain. Ellie sulit beradaptasi, terutama dalam menghadapi begitu padatnya daerah perkotaan. Ia pun mulai mengalami mimpi aneh ketika dirinya berada dalam tubuh perempuan lain yang hidup di era ’60-an. Hal ini awalnya menawarkan pengaburan bagi kesulitan Ellie, tetapi lama kelamaan makin buram kala realita menerpa.

Dalam bagian awal film, pembangunan karakter Ellie ditampilkan dengan cara yang sangat konvensional dan kerap kali murahan. Ada beberapa hal yang terlalu formulaik, seperti Ellie yang berasal dari desa mengalami kesulitan hidup di kota; ia dirundung teman-teman barunya sambil ditemani musik miris.

Hal ini mungkin lahir dari kecintaan Wright terhadap film-film horor klasik kelas B dan memang usaha menstimulasinya sangat terlihat dalam film. Dalam usaha ini, sang sineas justru kelupaan jati dirinya, terjebak dalam drama klise yang sebenarnya ia bisa perbaiki jika ia tetap memasukkan gaya komedi satirnya tanpa perlu terlalu komikal.

Bagaimanapun, melihat dan mengharapkan Last Night in Soho sebagai film horor konvensional akan menjadi kesalahan bagi penonton. Film ini takkan mengejutkan Anda dengan jumpscare konyol atau nuansa supermenakutkan. Wright seakan takingin menakut-nakuti penonton, tetapi mengajak kita dalam suasana intens yang di satu sisi seakan mabuk dan terbang ke alam lain.

Berbeda dari Baby Driver (2017) karya Wright sebelumnya yang menggunakan musik sebagai struktur utama film, Last Night in Soho takmelakukannya. Musik jadi faktor penting, tetapi di sini Wright lebih banyak menggunakannya sebagai pembangun nuansa dan menjadi teman yang manis untuk eksperimen visualnya.

Permainan visual jadi kunci utama film, terutama dalam bagian akhir yang brilian. Pengambilan gambarnya begitu gila, banyak menggunakan teknik yang riskan mengundang kesalahan. Namun, timnya berhasil melakukannya dengan cemerlang: terus-menerus menggunakan refleksi kaca untuk menampilkan dua tokoh utamanya dalam sisi yang berbeda hingga berulang kali menggunakan texas switch.

Pewarnaannya pun menghadirkan dualisme tersendiri, banyak penggunaan warna hijau-merah yang seakan menjadi penanda baik-buruk atau lebih tepat disebut sebagai “kewarasan dan kegilaan” dalam film ini. Dalam perjalanannya, batas tersebut semakin blur dan menyatu, mempertanyakan kewarasan dan jati diri Ellie yang semakin tergerus dalam hiruk-pikuk kehidupan di London.

Pengemasan ini mungkin sudah kita temui dalam film-film horor eksperimental sebelumnya, tetapi Wright mendorongnya semakin jauh lagi. Ia seakan membuat art film yang dibalut dengan pengemasan ala blockbuster. Selain visual gila yang banyak menggunakan efek digital, penyuaraannya pun dibuat bombastis yang mampu menggetarkan kursi.

Jika Last Night in Soho dilihat sebagai pesan cinta terhadapi horor klasik kelas B dan kota London pada tahun 1960-an, ada benarnya. Pesan cinta ini kadang menjebak Wright untuk manut terhadap romantisasinya tersendiri. Namun, pengemasan gila-gilaannya justru mendorong kita ke arah horor eksperimental yang sangat modern. Dua sisi ini bertentangan sehingga sedikit membuat film ini campur-aduk.

Baca juga: Baby Driver – Perpaduan Asik Aksi dan Musik

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *