Jelang Berakhir PON Papua, Bagaimana Nasib Infrastruktur Olahraga?

Jakarta: Preseden penggunaan infrastruktur pascapelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) di beberapa daerah selalu menjadi pertanyaan. Pasalnya, venue di beberapa daerah yang pernah menjadi tuan rumah PON seperti Riau, Kalimantan Timur, dan Palembang kerap terbengkalai.
 
Bahkan venue PON 2016 di Jawa Barat saat akan digunakan pada Asian Games 2018 ada beberapa yang harus direnovasi kembali. Hal itu karena tidak adanya perawatan dan pemanfaatan, yang kemudian menjadi tantangan utama menentukan bagaimana nasib infrastruktur olahraga jelang berakhirnya PON Papua, Jumat 15 Oktober 2021. 
 
Pada penyelenggaraan PON Papua, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Inpres No.10 Tahun 2017 tentang dukungan penyelenggaraan PON XX dan Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI Tahun 2020 di Provinsi Papua. Serta Inpres No.1 Tahun 2020 tentang percepatan dukungan penyelenggaraan PON XX dan Peparnas XVI Tahun 2020 yang ditangani Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
 
Ada tujuh venue yang menjadi tanggung jawab Kementerian PUPR, yakni Istora, venue akuatik, venue hoki (indoor dan outdoor), kriket, sepatu roda, panahan, dan dayung. Serta sarana dan prasarana seperti penataan kawasan, pembangunan rusun, dan pembangunan sarana jalan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

Biaya yang dikeluarkan untuk membangun venue itu pun sangat besar, karena harus sesuai dengan standar yang mengacu pada aturan federasi masing-masing cabang olahraga (cabor). Contohnya seperti ada beberapa item, misalnya timing system yang harus menggunakan merek tertentu di cabor tertentu. 
 
“Makanya konsekuensinya, kalau menggelar kejuaraan hanya PON tanpa ada pemanfaatan lain yang bisa mendapatkan revenue maka akan sulit,” ujar Direktur Prasarana Strategis Kementerian PUPR, Iwan Suprijanto saat berbincang di Media Center PON Papua di Jakarta, Rabu 13 Oktober 2021.
 
Pemanfaatan semua fasilitas pasca PON Papua pun sejak awal telah diingatkan Presiden Joko Widodo. Jokowi meminta fasilitas dan infrastruktur pascaperhelatan PON Papua agar tak boleh terabaikan, jangan sampai mubazir tak terurus. 
 
“Dalam setiap pesta, yang repot kan yang cuci piring. Makanya pada saat penunjukkan tuan rumah PON, daerah (Papua) juga dituntut punya konsep menyangkut komitmen keberlanjutan. Karena setiap fasilitas yang dibangun adalah aset pemerintah pusat yang pada akhirnya akan dihibahkan ke pemerintah daerah,” tambah Iwan. 
 
Diakui Iwan, Kementerian PUPR telah mendorong agar terjadi kerja sama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua dengan pihak tertentu untuk pengelolaan dan pemanfaatannya. Calon tuan rumah PON Sejak awal harus sudah punya hitungan biaya pembangunan, pemeliharaan, dan jumlah revenue yang bisa dihasilkan dari sarana dan prasarana tersebut.
 
“Harus di manage secara profesional. Jadi selain venue management, Pemda juga harus ada sport management membangun atmosfer olahraga yang kondusif agar stadion-stadion yang sudah ada dan bertaraf internasional itu bisa dimanfaatkan secara maksimal,” imbuhnya.
 
Dikatakan Iwan, Pemprov Papua juga sudah menunjuk tiga pengelola sarana dan prasarana olahraga dari kalangan swasta. Agar bisa memanfaatkan fasilitas tersebut bukan hanya untuk olahraga, tetapi juga untuk kegiatan non-olahraga. Seperti festival adat dan budaya, kuliner, musik, dan lainnya yang disukai kaum milenial.
 
“Kedepannya, ini bisa jadi investasi daerah. Jadi kebutuhan akan MICE (jenis kegiatan yang terdapat dalam industri pariwisata, termasuk sport tourism dan sport industry), bisa beriringan dengan pembangunan venue,” ujarnya.
 
Menurutnya selama ini, hal tersebut belum terlihat diterapkan oleh daerah penyelenggaran PON, seperti Kalimantan Timur dan Riau. Sehingga kondisi venue pasca PON di daerah tersebut menjadi tak terurus.
 
“Kalau pembangunan dari APBN, sisi bisnisnya tidak terlalu dipikirkan. Tetapi kalau dari awal daerah sudah ada perencanaan soal apa pemanfaatannya, maka bisa mendatangkan pendapatan untuk daerah tersebut,” kata Iwan.
 
“Contohnya di luar negeri. Pengelola stadion sepak bola bisa mengadakan tur stadion, lalu menyentuh sisi merchandise, dan lain-lain yang bisa mendapatkan pemasukan. Jadi selain ada venue management, harus ada sport management-nya juga,” tutup Iwan. 
 
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *