Review dan Sinopsis Pirates of the Caribbean: At World’s End

Film ini merupakan seri ketiga dalam franchise Pirates of the Caribbean, yang pertama kali rilis pada tahun 2003 silam dengan judul The Curse of the Black Pearl. Secara singkatnya, At World’s End mengisahkan tentang perjalanan Will Turner, Elizabeth Swann, Hector Barbossa, dan para awak kapal The Black Pearl untuk menyelamatkan Kapten Jack Sparrow dari Loker Davy Jones, dan bersiap melawan Perusahaan Perdagangan India Timur, yang dipimpin oleh Cutler Beckett.

Pirates of the Caribbean: At World’s End menjadi film terlaris sepanjang tahun 2007 dengan menghasilkan pendapatan lebih dari 960 juta dollar di seluruh dunia. Film ini masuk nominasi dalam kategori Best Makeup, dan Best Visual Effects di ajang Academy Awards ke-80. Aktor Johnny Depp, yang berperan sebagai Jack Sparrow, berhasil meraih Favorite Movie Actor pada Kids’ Choice Awards tahun 2008.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun rilis: 2007
  • Genre: Fantasy, Action, Adventure
  • Rumah produksi: Walt Disney Pictures dan Jerry Bruckheimer Films
  • Sutradara: Gore Verbinski
  • Pemeran utama: Johnny Depp, Orlando Bloom, Keira Knightley, Bill Nighy, dan Geoffrey Rush

Dalam upanya untuk menguasai lautan, Cutler Beckett akan mengeksekusi siapa saja yang melakukan aksi pembajakan di Port Royal. Ia lalu memerintahkan Davy Jones, Kapten kapal The Flying Dutchman yang kini diperbudak oleh Becket, untuk menghancurkan seluruh kapal bajak laut.

Di tempat lain, Hector Barbossa, Will Turner, Elizabeth Swann, Penyihir Tia Dalma, dan kru kapal Black Pearl pergi menuju Singapura untuk mencari peta navigasi ke Loker Davy Jones, yang menjadi tempat keberadaan Kapten Jack Sparrow. Mereka selanjutnya bertemu dengan Kapten Sao Feng, Raja Bajak Laut Laut Cina Selatan, yang ternyata memiliki benda peta tersebut.

Will secara diam-diam berjanji untuk memberikan Jack kepada Feng sebagai imbalan, dan berniat menggunakan kapal Black Pearl untuk menyelamatkan ayahnya, Bootstrap Bill Turner, dari kapal Flying Dutchman

Akhirnya, mereka berhasil menemukan Jack, dan mendapatkan Black Pearl lagi. Saat semuanya berlayar di lautan, mereka menemukan perahu dengan nyawa-nyawa yang telah mati, termasuk ayah Elizabeth, Gubernur Swann, yang telah dieksekusi oleh Beckett. Tia Dalma mengungkapkan bahwa Dewi Calypso menugaskan Davy Jones untuk membimbing jiwa-jiwa mereka yang mati di laut ke dunia berikutnya.

Black Pearl lalu berhenti di sebuah pulau, namun mereka diserang oleh anak buah Sao Feng dan Beckett. Elizabeth lalu ditangkap, dan diserahkan kepada Feng, yang percaya bahwa dia adalah Calypso. Jack Sparrow ternyata punya niat lain, ia kemudian melempar Will dari kapal Black Pearl sebagai bagian dari rencananya untuk menghadapi The Flying Dutchman, Davy Jones.

Sao Feng kemudian memberi tahu Elizabeth bahwa pada sidang “The Brethren Court” pertama, seluruh anggota majelis mengikat Calypso dalam bentuk manusia setelah dia mengkhianati kekasihnya, Davy Jones. Feng berencana untuk membebaskannya untuk mengalahkan Beckett.

Kondisi selanjutnya menjadi semakin genting, karena Davy Jones melakukan penyerangan kepada kapal bajak laut milik Feng. Di saat itu, Feng lalu menunjuk Elizabeth sebagai penggantinya untuk menjadi Raja Bajak Laut sebelum dirinya meninggal.

Masih Terasa Seru Meski Durasinya Panjang

Masih Terasa Seru Meski Durasinya Panjang

Tidak ada yang terlalu spesial dalam Pirates of The Caribbean: At World’s End jika dibandingkan dengan dua film sebelumnya, The Curse of the Black Pearl (2003), dan Dead Man’s Chest (2006). Film ketiga ini masih menggunakan formula yang sama dalam menampilkan keseluruhan ceritanya. Semuanya disajikan dengan atmosfer petualangan yang menyenangkan, sekaligus menegangkan.

Petualangan, dan petarungan yang dialami oleh Jack Sparrow bersama teman-temannya memang terasa seru, tetapi durasi waktu yang hampir tiga jam membuat film ini terlalu panjang, dan lama. Apalagi, tidak terlalu banyak momen-momen mengejutkan yang membuat At World’s End terlihat lebih menarik dari film sebelumnya. Meski begitu, alur cerita pada film ini sebenarnya masih tetap terasa asyik untuk diikuti.

Di sekuel ketiga ini, naskah cerita At World’s End masih tetap ditulis oleh Ted Elliott, dan Terry Rossio. Pirates of The Caribbean: At World’s End juga menjadi film garapan terakhir sutradara Gore Verbinski dalam menangani franchise ini setelah sukses membuat dua film sebelumnya.

Namun, ketiganya masih belum bisa memecahkan rekor box office dari Dead Man’s Chest, yang meraup pendapatan fantastis sebanyak lebih dari 1 milliar dolar di seluruh dunia. At World’s End sendiri menjadi film trilogi penutup yang disutradarai oleh Verbinski, dan ia juga masih berhasil membuat film ini tetap sukses karena menjadi film terlaris yang paling banyak ditonton sepanjang tahun 2007.

At World’s End juga memang masih pantas untuk mendapatkan pujian karena beberapa penampilan dari tiap karakternya masih sangat solid. Apalagi, adegan aksi, dan humor lelucon dari Sparrow serta kru kapal Black Pearl masih terasa menggelitik serta renyah untuk dinikmati. Lalu, skoring musik yang disusun oleh Hans Zimmer membuat suasana film ini cukup epik sepanjang jalan ceritanya.

Para Karakter Terlihat Begitu-Begitu Saja

Para Karakter Terlihat Begitu-Begitu Saja

Johnny Depp (Jack Sparrow), Bill Nighy (Davy Jones), Orlando Bloom (Will Turner), dan Keira Knightley (Elizabeth Swann) mampu memerankan perannya masing-masing dengan sangat solid. Namun, pengembangan karakter yang diperlihatkan terasa begitu-begitu saja, dan secara tidak langsung kita bisa mengetahui watak asli mereka semuanya, dan rencana apa saja yang mereka akan lakukan.

Baca juga:

Selain itu juga, film ini memiliki narasi yang bercabang lewat motif pribadi yang direncanakan oleh para karakter tersebut. Kisah romansa Will dan Elizabeth tidak sesederhana itu, dan ia harus sedikit “licik” untuk menyelamatkan ayahnya, Bootstrap Bill Turner (Stellan Skarsgard), dari kapal The Flying Dutchman. Lalu ada perseteruan tiada henti antara Jack dengan Barbossa, dan utangnya kepada Davy Jones.

Semua motif klasik tersebut sudah dibangun dari dua film sebelumnya, dan di sini hal itu diperlihatkan kembali lewat cara yang tidak berbeda. Satu-satunya elemen baru dalam At World’s End adalah adanya cerita menarik antara Davy Jones dan Tia Dalma (Naomie Harris), seorang penyihir yang ternyata adalah Dewi Laut Calypso yang berubah dalam bentuk manusia.

Di sisi lain, Hector Barbossa (Geoffrey Rush) juga kembali lagi setelah sebelumnya muncul di The Curse of The Black Pearl. Tetapi, di film ini ia bukanlah sosok penjahat yang menjadi ancaman, motifnya hanya ingin kembali menjadi Kapten kapal The Black Pearl.

Meski At World’s End menambahkan aktor Chow Yun-Fat sebagai Raja Bajak Laut Sao Feng, namun ia memberikan penampilan yang tidak pasti, dan menghilang dari segala macam aksi pertikaian di setengah jalan cerita.

Hal yang harus patut diberikan apresiasi adalah kemunculan cameo gitaris Rolling Stones, Keith Richards, yang memainkan peran sebagai Edward Teague, Penguasa Bajak Laut Madagaskar sekaligus ayah dari Jack Sparrow. Walaupun tidak mendapatkan waktu tampil yang banyak, kehadirannya cukup membuat film ini sedikit “mengejutkan.”

Klimaks Menjelang Akhir

Klimaks Menjelang Akhir

Dengan anggaran sekitar 300 juta dollar, Pirates of The Caribbean: At World’s End menawarkan efek visual, serta desain kostum yang menawan. Sejak dari dua film terdahulunya, film ini memang secara konsisten menghadirkan hal tersebut dengan maksimal, dan memuaskan. Dari menit awal hingga akhir, kita akan banyak melihat pemandangan lautan yang indah, serta kota-kota bajak laut yang eksotis.

Beberapa adegan berusaha memamerkan desain properti yang menarik, dan artistik. Kita juga diajak untuk melihat bagaimana kehidupan kerasnya para perompak ditengah-tengah badai lautan, serta aksi pertarungan saat ancaman musuh sewaktu-waktu datang menyerang.

Dalam hal pertarungan, film ini menghadirkan sajian efek visual yang memuaskan, terutama ketika berada di sekitar 45 menit terakhir. Pada bagian tersebut, kita bisa melihat pertempuran laut penuh aksi diantara para awak kapal Black Pearl, dan Flying Dutchman. Semua karakter terlibat dalam pertempuran berbahaya di antara hidup dan mati.

Momen 45 menit tersebut menghasilkan beberapa urutan adegan yang mengesankan, serta klimaks dengan memperlihatkan bentrokan sengit antara Jack Sparrow, dan Davy Jones saat kedua kapal mereka Black Pearl, dan Flying Dutchman tersedot ke dalam pusaran raksasa, yang dibuat oleh Tia Dalma alias Dewi Calypso.

Walaupun film ini terasa sangat panjang durasinya, namun At World’s End terasa sangat menggigit pada bagian akhir. Pertarungan epik yang ditunggu-tunggu akhirnya terjadi juga, dan penantian lama selama tiga jam setidaknya bisa terpuaskan dengan momen-momen tersebut. Pirates of The Caribbean: At World’s End secara singkatnya masih tetap seru, dan menyenangkan untuk diikuti dari awal hingga akhir.                                                                                      

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *