LBH Makassar Sebut Rumah Anak Korban Pemerkosaan di Lutim Kerap Didatangi Polisi

Makassar: Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar mempertanyakan kedatangan personel Polres Luwu Timur yang sering mendatangi rumah korban pemerkosaan oleh ayah kandungnya. Padahal, saat ini kasus tersebut belum dibuka kembali usai dihentikan pada 2019 lalu. 
 
Wakil Direktur LBH Makassar, Azis Dumpa, mengatakan kedatangan baik itu dari pihak kepolisian maupun P2TP2A Luwu Timur ke kediaman korban dan pelapor menyalahi prinsip perlindungan terhadap anak korban yang diatur dalam undang-undang. 
 
“Tindakan tersebut menunjukkan kembali Polres Luwu Timur dan P2TP2A Luwu Timur, tidak memiliki perspektif perlindungan korban dalam menangani kasus anak,” katanya, di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa, 12 Oktober 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

Dari catatan LBH Makassar, pihak kepolisian dalam hal ini Polres Luwu telah mendatangi korban dan ibunya beberapa kali usai kasus ini mendapat perhatian publik. Pertama pada 7 Oktober 2021, Polres Luwu Timur dan P2TP2A Luwu Timur pertama kali datang ke rumah korban. 
 
Mereka datang dengan dalih untuk melakukan pengecekan terhadap kondisi anak korban. Hanya saja, upaya tersebut dihalangi oleh keluarga korban sehingga, pihak kepolisian dan P2TP2A Luwu Timur batal untuk menemui anak korban dan ibunya. 
 
Baca: LBH Makassar Temukan Kejanggalan Penyelidikan Kasus Bapak Rudapaksa 3 Anak di Luwu Timur
 
Namun, keesokan harinya tepatnya pada 8 Oktober 2021, pihak kepolisian yang dipimpin langsung oleh Kapolres Luwu Timur dengan berseragam lengkap mendatangi korban dan ibu korban tanpa berkordinasi dengan kuasa hukum korban. 
 
“Ibu korban yang saat itu tanpa ditemani kuasa hukum, diminta bicara dengan direkam keterangannya untuk menjelaskan ke media supaya tidak ada kesimpangsiuran,” jelasnya. 
 
Tidak sampai disitu, besoknya lagi personel Polres Luwu Timur kembali mendatangi keluarga korban dengan alasan untuk membahas soal ramainya fakta yang tidak berimbang dalam pemberitaan kepada keluarga besar korban.
 
Tekanan terhadap korban dan anaknya yang seharusnya mendapatkan perlindungan kembali didatangi oleh polisi dengan membawa sejumlah orang, bahkan ada yang bertugas mengambil gambar. Hanya saja, diusir oleh ibu korban yang juga pelapor dalam kasus inii. 
 
“Ibu korban menolak kedatangan mereka dan menyuruh mereka pulang. Ibu korban sempat menegur salah satu dari orang yang datang karena mengambil gambar/video ibu
korban secara diam-diam,” jelasnya. 
 
Kondisi ini membuat penasehat hukum mengambil langkah dengan mengamankan korban dan ibunya, untuk menghindari tekanan yang dilakukan oleh pihak Polres Luwu Timur dengan membawa banyak orang dan mengambil gambar yang bisa menyebabkan identitas anak korban terekspos. 
 
“Polres Luwu Timur menurut kami tidak mengerti menangani kasus anak berhadapan hukum dalam sistem pidana anak. Karena mengundang orang mengundang keramaian. Identitas anak ini bisa terbuka padahal dalam undang-undang pidana anak itu harus ditutup,” jelasnya lagi. 
 
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *