Review Film Dune (2021): Villeneuve

Review Film Dune

Frasa yang paling pas untuk menggambarkan film Dune (2021) terbaru ini memang “Denis Villeneuve”. Film yang diadaptasi dari novel epik Frank Herbert ini merupakan limpahan dari segala yang kita lihat dari sineas asal Kanada tersebut. Tempo yang lambat, gambar tajam yang fokus pada estetika, serta nuansa yang menghantui sekaligus mencekam.

37 tahun setelah kekacauan David Lynch dan Universal serta 21 tahun setelah serial televisi yang medioker, Denis Villeneuve mencoba untuk menjadi sang mesias bagi kisah fiksi-sains yang epik ini. Misi pertama ialah meyakinkan masyarakat untuk menawarkan hal baru, setidaknya bisa membuat masyarakat melupakan karya Dune (1984) yang bahkan takdianggap oleh Lynch.

Mengingat skalanya yang begitu masif, film ini harus dijadikan blockbuster mengingat dana produksinya sudah pasti besar. Targetnya pendapatannya pun harus tinggi dan ini jadi masalah lainnya yang harus dihadapi Villeneuve. Pasalnya, sang sutradara punya catatan yang kurang baik dalam produksi dana besar dengan target box office. Blade Runner 2049 gagal di pasaran walau banyak dipuji kritik.

Jajaran pemerannya pun masif, gabungan aktor blockbuster seperti Jason Momoa, Rebecca Ferguson, Josh Brolin serta aktor “metode” seperti Oscar Isaac dan bintang muda dengan sinar paling terang di Hollywood, Timothée Chalamet. Dune Villeneuve bukan hanya ditakdirkan untuk sukses, tetapi memang harus sukses, baik dari segi finansial maupun kritik.

Bagaimanapun, mengingat begitu besarnya beban film ini, kita pun jadi memaklumkan jika film ini gagal di box office layaknya Blade Runner 2049. Setidaknya, kita akan dihibur dengan karya apik yang bisa dinikmati selama bertahun-tahun layaknya beberapa film Villeneuve sebelumnya.

Begitu menonton filmnya, memang benar: ini karya Villeneuve. Walaupun takabsolut, kita bisa melihat adanya kebebasan dari Warner Bros untuk sang sutradara mengekspresikan filmnya semaunya. Namun, di samping itu, ada sedikit juga keterburu-buruan yang terasa seperti bukan gaya Villeneuve.

Durasinya 2 jam 35 menit dan sepertinya bisa lebih lama mengingat besar dan banyaknya hal yang harus diceritakan. Dalam 30 menit awal, terasa ada beberapa pengeditan yang tergesa-gesa, perpindahan adegan yang taklazim. Hal ini bisa membuat penonton awam sedikit kesulitan memahami konflik.

Sedikit tergesa-gesa memang pada awalnya, tetapi takperlu khawatir dengan perkenalan karakternya karena ada porsi pas dan akting kuat para jajaran pemeran bertabur bintang ini. Chalamet seakan terlahir untuk memerankan Paul Atreides, Ferguson memberikan salah satu performa terbaiknya, kehebatan Isaac sekali lagi terbukti dan Momoa begitu kharismatik.

Belum lagi beberapa tokoh yang diperankan aktor besar yang takmemiliki banyak porsi dalam film ini dapat memberikan kesan kuat. Brolin hanya memiliki waktu layar sebentar, tetapi langsung menegaskan karakternya yang keras dan loyal. Begitu juga Bardem, yang hanya perlu satu-dua adegan untuk memenangkan hati penonton.

Kejituan Villeneuve

Herbert ketika menulis Dune mungkin takmengira jika problematikanya akan jauh lebih relevan pada masa kini. Kita melihat orang luar datang ke suatu tempat untuk meraup sumber alam yang digunakan untuk transportasi. Kedatangan mereka mengusik penduduk setempat yang dianggap sebagai pengganggu. Lalu, terjadilah peperangan perebutan kekuasaan.

Konflik kolonialisme memang selalu serupa sepanjang sejarah, tetapi lokasinya yang berada di gurun pasir membuat kita teringat kepada konflik di Timur Tengah. Orang-orang Fremen yang menempati Arrakis pun didesain layaknya orang Timur Tengah yang memiliki kepercayaan kuat kepada hal-hal yang berbau takhayul.

Villeneuve pun menguatkan unsur ini, terlebih dengan gayanya yang sudah “menghantui” sehingga unsur takhayulnya terasa padu, taksekadar tempelan semata seperti kebanyakan film Dune-nya Lynch atau Star Wars serta kebanyakan film fiksi-sains Hollywood lainnya. Penggunaan panggilan mesias kepada Paul Atreides seperti Muad’Dib, Mahdi, dan Shai-Hulud terdengar lebih apik daripada, sekali lagi, hanya seperti tempelan penuansaan semata.

Nilai plus kejutan dari relevansi konflik di Timur Tengah membuat Dune semakin kaya. Namun, kekayaan ini memang konstruksi jitu Villeneuve yang memerhatikan hal-hal kecil dan pemilihan nuansa yang memang sudah jadi keahliannya.

Dune ini memang karyanya Villeneuve, walau awalnya sempat tergesa-gesa, sisanya diceritakan pelan-pelan dengan tensinya sendiri. Dalam segi tensi, walaupun sebagian besar sukses, ada beberapa yang gagal, terutama salah satu adegan besar pada pertengahan film. Kegagalan ini cukup melukai film yang ditakdirkan untuk jadi hebat ini.

Untungnya, pengelanaan Paul setelah adegan ini sedikit menyembuhkan lukanya, memberikan kita pengenalan intens kepada karakter utama. Pondasi ini krusial setelah mengetahui ini film bagian pertama sehingga kita semakin panas untuk menunggu sekuelnya.

Kecantikan visual pun masih jadi daya tarik film ini layaknya film-film Villeneuve lainnya. Penggunaan kamera IMAX yang jitu dari tim Greig Fraser memberikan kedalaman yang presisi, renyah untuk dilihat dengan pewarnaan dengan penurunan saturasi yang sesuai agar kegersangannya takmerusak mata.

Pastinya, Dune harus disaksikan di layar terlebar. Walaupun suaranya mungkin masih bisa lebih menggelegar, tentunya akan lebih komplit jika mendengarnya dengan spesifikasi terbaik, terutama dalam mendengar lantunan musik pendukung dari Hans Zimmer.

Bagian pertama ini belum menunjukkan atau membuktikan banyak hal. Ada beberapa kekurangan, tetapi banyaknya janji-janji hebat dan awalan yang cukup kuat sehingga Dune karya Villeneuve memang harus diutuhkan dengan bagian keduanya.

Baca juga: Blade Runner 2049 (2017) – Sajian Visual Memuaskan Mata

Penulis: Muhammad Reza Fadillah

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *