Kombes Rachmat Widodo Telah Disidang Kasus KDRT

Jakarta: Kasus Kombes Rachmat Widodo, anggota perwira menengah (Pamen) Mabes Polri, telah berlangsung di meja hijau. Rachmat menjalani sidang kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atas penganiayaan terhadap anak dan istrinya di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.
 
“Sidang RW (Rachmat) baru dua minggu ini,” kata Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Jakarta Utara, Surya saat dikonfirmasi, Sabtu, 9 Oktober 2021.
 
Surya memperkirakan sidang itu masuk agenda pemeriksaan saksi. Dia akan memastikan terlebih dahulu apakah pemeriksaan saksi selesai dilakukan atau belum. Dia menyebut jaksa telah membuat jadwal pendengaran keterangan saksi di persidangan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

“Apakah itu dia nanti rencananya pemeriksaan saksi atau dakwaan saja. Harus dipastikan lagi,” ungkapnya.
 
Surya mengatakan Kombes Rachmat tidak ditahan. Pertimbangannya karena subjektivitas penyidik.
 
“Dia (Kombes Rachmat) enggak mungkin melarikan diri, karena sekarang dia masih aktif di Mabes. Jadi belum melakukan penahanan, karena enggak mungkin lari juga,” tutur Surya.
 
Baca: Buntut Saling Lapor Keluarga Polisi, Kombes Rachmat Widodo Didemosi
 
Kombes Rachmat juga telah menjalani sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) pada Senin, 5 April 2021. Rachmat dikenakan sanksi etika dan administratif.
 
Sanksi administratif, dia dipindahtugaskan ke jabatan berbeda yang bersifat demosi selama satu tahun. Kombes Rachmad dipindahtugaskan ke jabatan lebih rendah, yakni Pelayanan Markas (Yanma) Polri. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Penyidik Utama Rowassidik Bareskrim Polri.
 
Sedangkan, sanksi bersifat etika perilaku Rachmat dinyatakan sebagai perbuatan tercela. Dia wajib meminta maaf secara lisan di hadapan sidang KKEP dan/atau secara tertulis kepada pimpinan Polri. Perbuatan perwira menengah itu dinilai telah merugikan Korps Bhayangkara.
 
Polri mengawasi Kombes Rachmat selama satu bulan setelah menjalani sanksi etika dan administratif. Kombes Rachmat diduga melanggar Pasal 11 huruf c dan Pasal 11 huruf d Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Polri.
 
Kasus bermula dari adanya dugaan KDRT yang dilakukan Rachmat terhadap istri dan anaknya. Kasus KDRT ini viral di media sosial pada Juli 2020.
 
Kala itu, rekaman suara Rachmat sedang melakukan KDRT kepada keluarganya sendiri disebarkan oleh akun instagram @aurelliarenatha_. Dia adalah anak kandung Rahmat.
 
Aurelia mengunggah rekaman suara berjudul Voice Memos di akunnya pada Sabtu, 25 Juli 2020. Dari rekaman tersebut, terdengar suara adanya dugaan penganiayaan atau kekerasan dalam rumah tangga antara seorang pria dengan wanita.
 
Beberapa kali terdengar suara jeritan kesakitan minta tolong yang diduga Aurelia. Selain itu, suara wanita lain yang diduga Ibu Aurelia juga terdengar dalam rekaman untuk melerai penganiayaan. Ia kemudian mengancam akan melaporkan Rachmat ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri.
 
“Kau pukul anakku Widodo, kurang ajar kau,” kata istri Rachmat dalam rekaman itu.
 
Kemudian, Rachmat, Aurelia dan istrinya saling lapor ke polisi atas dugaan KDRT. Setahun penyelidikan, polisi menetapkan Rachmat, Aurelia, dan istrinya H sebagai tersangka.
 
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *