UNJ: Model Pengenalan Bahasa Asing ke Komunitas Efektif

Jakarta: Model pengenalan bahasa asing langsung ke komunitas dinilai efektif. Hal ini dibuktikan oleh sejumlah dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang melakukan program pengabdian masyarakat ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Bukit Duri Bercerita.
 
“Model pengabdian masyarakat ini sangat tepat sasaran. Meski tingkat sosial ekonomi di bawah rata-rata, tapi anak-anak punya semangat dan cita-cita tinggi,” kata Dosen Bahasa Inggris UNJ, Ati Sumiati, melalui keterangan tertulis, Sabtu, 2 Oktober 2021.
 
Melalui program ini, kata Ati, UNJ memberikan pelajaran bahasa asing secara atraktif dan komunikatif. “Dengan begitu, anak-anak bersemangat mengenal dasar bahasa Inggris, sesekali dengan menyanyi,” katanya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

UNJ mengenalkan bahasa Inggris dan Prancis kepada anak-anak yang tinggal di kawasan padat penduduk di Bukit Duri Tanjakan, Tebet, Jakarta Selatan. Proses belajar dibagi dua bagian. 
 
“Pelajaran pengenalan bahasa Inggris diberikan di dalam rumah, yakni di TBM. Sedangkan pengenalan bahasa Prancis dilakukan di luar ruang, tepatnya di sebuah saung di dekat tanggul Sungai Ciliwung,” ujar Koordinator Program Studi Bahasa Prancis UNJ, Subur Ismail.
 
Subur mengatakan proses pengenalan bahasa Prancis di tengah masyarakat kelas menengah ke bawah punya arti sangat dalam. Sebab, anak-anak sejak dini mengetahui bahasa ini, bahkan saat pembelajaran berlangsung. Juga, memancing masyarakat sekitar yang menyaksikan ingin tahu soal bahasa Prancis yang merupakan bahasa dunia. 
 
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan anak-anak semakin bersemangat membaca dan belajar bahasa asing,” ujar Subur.
 
Pendiri TBM Bukit Duri Bercerita, Safrudiningsih, mengatakan TBM yang dikelolanya terbuka untuk menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak. Terutama untuk tercapainya tujuan gerakan literasi. 
 
“Utamanya anak-anak dan remaja. Orang tua mereka juga makin sadar pentingnya membaca, menulis, dan belajar berbagai keterampilan. Di TBM ini kami kenalkan, kami ajarkan, dan terus kami sosialisakan soal ini,” kata Safrudiningsih yang mengelola TBM bersama suaminya, Suradi.

 

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *