Menggenjot Kembali Mesin Produksi Minyak di Blok Rokan

Jakarta: Pengelolaan Blok Rokan di Riau, Sumatra telah memasuki babak baru sejak 9 Agustus lalu.  PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) resmi mengambil alih dari tangan PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) yang merupakan operator lama.

Bahkan, Blok Rokan kini menjadi mesin andalan utama PT Pertamina Group lantaran akan memberikan kontribusi terbesar dalam memproduksi minyak mentah bagi Tanah Air. Blok Rokan tercatat menyumbang 24 persen produksi minyak mentah nasional.
 
Di bawah pengelolaan PHR, perseroan berupaya untuk meningkatkan produksi minyak di blok migas terbesar kedua di dalam negeri ini. Di tahun 2021, Pertamina menargetkan produksi minyak dari Blok Rokan bisa mencapai 167 ribu barel per hari (bph).
 
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan sejak alih kelola ke Pertamina, produksi Blok Rokan terus mengalami peningkatan. Ia menyebut di hari pertama alih kelola, produksi minyak di Blok Rokan tercatat sebesar 159 ribu bph. Saat ini, kata dia, naik ke level 164 ribu bph.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

Bahkan hingga 2025 ditargetkan bisa mencapai 225 ribu bph. Bila ini terealisasi, maka gelar blok minyak dengan produksi terbesar pertama bisa kembali direbut oleh Blok Rokan dari Blok Cepu yang kini bertengger di puncak klasemen produsen minyak mentah di Indonesia. Sebelumnya, Blok Rokan pernah merajai produksi minyak mentah di dalam negeri.
 
Menurut Nicke, upaya untuk meningkatkan produksi ini tidak terlepas dari rencana pengeboran sumur yang telah disiapkan Pertamina. Di 2021, ada 161 sumur baru yang harus dibor. Ia menyebut, 77 sumur di antaranya merupakan limpahan dari CPI yang tidak berhasil diselesaikan hingga akhir masa transisi.
 
“Target awal kami 44 sumur, lalu ditambah 40 sumur. Ternyata ditambah lagi 77 sumur yang seharusnya dikerjakan Chevron, namun tidak selesai sampai batas akhir. Jadi ini dikerjakan Pertamina,” kata Nicke dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 29 September 2021.
 
Seluruh sumur baru tersebut harus dibor demi menahan laju produksi Blok Rokan agar tidak turun. Pasalnya Pertamina tidak bisa hanya mengandalkan sumur existing yang jumlahnya mencapai ribuan apabila ingin meningkatkan produksi. Sebab saat ini tren sumur existing mengalami penurunan produksi secara alamiah (natural decline) sejalan dengan usia sumur yang sudah menua. Meski demikian, kegiatan di sumur existing tetap berjalan. Pertamina rutin melakukan perawatan (well service and well intervention).
 
Dalam kesempatan yang sama, CEO Pertamina Hulu Energi atau Subholding Upstream Pertamina Budiman Parhusip menyebutkan hingga saat ini jumlah sumur anyar yang dibor PHR telah mencapai 52 sumur.
 
Untuk mendorong target pengeboran berjalan lancar, perseroan akan menambah jumlah rig secara bertahap. Tercatat, hingga Agustus rig yang tersedia mencapai 10 rig dan akan meningkat hingga 17 rig dalam beberapa bulan mendatang.
 
Pengeboran secara masif akan terus dilakukan ke depannya. Di 2022, jumlah sumur baru yang dibor bahkan diharapkan mencapai 500 sumur. Demikian juga di 2023 jumlah sumur baru yang dibor akan dijaga di 500 sumur. Kemudian di 2024 dan 2025 ditargetkan masing-masing sebanyak 400 sumur.

 
“Sampai 2025 untuk menunjang pengeboran ini, jumlah rig yang tadi 17 di 2021 akan dinaikkan menjadi 20 rig di 2022. Selain itu juga work over dilakukan dengan cukup masif di mana work over dan well service rig dari 25 di bulan Agustus akan ditingkatkan jadi 29 rig dan di 2022 akan ditingkatkan menjadi 35 rig,” tutur Budiman.
 
Implementasikan Chemical EOR
 
Sejalan dengan upaya masifnya pengeboran yang akan dilakukan, Pertamina juga siap untuk menerapkan teknologi chemical enhanced oil recovery (C-EOR). Teknologi ini dipercaya bisa mempertahankan bahkan meningkatkan produksi minyak di blok tersebut.
 
Menurut Nicke, saat ini EOR pun telah diimplementasikan di Blok Rokan, termasuk injeksi uap (steem flood) terbesar di dunia, serta injeksi air (water flood). Namun untuk C-EOR diakui Nicke memang masih masih belum bisa dibuktikan.
 
Menurut dirinya untuk masuk ke tahap proof of concept paling cepat membutuhkan waktu 1,5 tahun. Setelahnya yakni tahap proof expandable yang perlu waktu 10 tahun. Saat ini Pertamina memang masih berkomunikasi dengan banyak pihak, termasuk Chevron Oronite yang mengembangkan teknologi tersebut.
 
“Chevron pun belum masuk ke tahap kedua. Jadi bagi kita oke kita buka lagi, paralel bicara dengan Oronite dan perusahaan lain,” tutur Nicke.
 
Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PPP Ratna Juwita Sari pun berharap agar teknologi C-EOR bisa diimplementasikan secepatnya untuk mempertahankan produksi Blok Rokan.
 
“Kami harap yang disampaikan terkait C-EOR ini bukan gula-gula, tapi bisa direalisasikan,” harap Ratna.
 
Butuh Investasi USD3 Miliar
 
Adapun untuk mendukung sejumlah target program jangka panjang dan peningkatan produksi di Blok Rokan selama lima tahun ke depan, Budiman mengatakan kebutuhan investasi diperkirakan mencapai USD3 miliar. Besaran ini meningkat dari estimasi awal yang disiapkan perseroan sekitar USD2 miliar.
 
Besaran investasi untuk Blok Rokan ini dinilai akan menciptakan manfaat yang lebih besar untuk bangsa dan negara. Apalagi, nantinya produksi minyak mentah dari Blok Rokan yang sebelumnya sebagiannya diekspor akan diperuntukkan untuk diolah di kilang milik Pertamina untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
 
Lebih lanjut, beralihnya pengelolaan Blok Rokan ini sekaligus memperkuat posisi Pertamina dalam berperan menjadi lokomotif perekonomian pembangunan nasional. Selain itu, Pertamina juga memiliki amanah lainnya, yaitu mendukung program pemerintah mencapai  produksi minyak mentah satu juta barrels oil per day (BOPD) dan 12 billion standard cubic feet per day (BSCFD) di 2030.
 
“Oleh karenanya, selain  kerja keras serta komitmen Pertamina, tentu juga diharapkan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat dan daerah serta seluruh stakeholder dan masyarakat untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut,” jelas Nicke

 
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *