ADB: Tiongkok Punya Alat Kebijakan Kuat untuk Atasi Krisis Evergrande

Tokyo: Presiden Bank Pembangunan Asia (ADB) Masatsugu Asakawa mengatakan Tiongkok memiliki penyangga dan alat kebijakan yang cukup kuat untuk mencegah pengembang yang dililit utang, China Evergrande Group, memicu krisis keuangan global. Tentu harapannya krisis yang melanda properti terbesar nomor dua di Tiongkok itu bisa segera selesai.
 
“Tapi penderitaan Evergrande menggarisbawahi peran besar inflasi harga aset dalam pertumbuhan cepat Tiongkok, dan mungkin ada konsekuensi untuk keuangan dan konsumsi pemerintah daerah,” kata Asakawa, dilansir dari Channel News Asia, Rabu, 29 September 2021.
 
“Saya tidak berpikir satu episode perusahaan akan memicu krisis global seperti yang disebabkan oleh runtuhnya Lehman Brothers,” tambah Asakawa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

Ia mengatakan otoritas Tiongkok telah menunjukkan kesiapan untuk menahan tumpahan dari potensi keruntuhan Evergrande dengan bank sentral memompa likuiditas jangka pendek yang cukup ke pasar. Evergrande, tambahnya, juga memiliki kepemilikan aset yang cukup yang dapat dibongkar untuk melakukan pembayaran.
 
Krisis pengembang menggarisbawahi ketergantungan besar ekonomi Tiongkok pada pasar properti yang sangat panas yang menyerupai gelembung inflasi aset Jepang pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Jatuhnya pasar properti dapat menghantam pemerintah daerah dan rumah tangga Tiongkok yang mengandalkan kepemilikan real estat dalam pembiayaan utang.
 
“Kita perlu memperhatikan perkembangan dengan hati-hati karena dampaknya terhadap keuangan pemerintah daerah dan pengeluaran rumah tangga Tiongkok menjadi sumber kekhawatiran,” kata Asakawa.
 
Dengan kewajiban sebesar USD305 miliar, Evergrande telah memicu kekhawatiran bahwa masalahnya dapat menyebar melalui sistem keuangan Tiongkok dan bergema di seluruh dunia -meskipun kerusakan sejauh ini terkonsentrasi di sektor properti.
 
Asakawa mengatakan Tiongkok kemungkinan melanjutkan pertumbuhan moderat mulai 2022 dengan masalah struktural seperti meningkatnya utang sektor swasta dan publik yang terlihat membebani ekonominya.
 
“Mulai 2022 dan seterusnya, Tiongkok akan menapaki tren pertumbuhan jangka panjang yang moderat. Ini tidak akan kembali ke laju ekspansi 7-8 persen yang terlihat selama periode pertumbuhan tinggi,” pungkasnya.
 
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *