Nelayan di Lampung Terapkan Sistem Berkelanjutan untuk Maksimalkan Tangkapan

Bandar Lampung: Ketua Forum Nelayan Rajungan Provinsi Lampung Miswan mengatakan sejumlah nelayan telah menerapkan sistem tangkap rajungan berkelanjutan guna memaksimalkan hasil tangkapan. Sistem tersebut diharapkan berdampak positif terhadap tingkat kesejahteraan di masa mendatang.
 
“Kebetulan saya memiliki kelompok nelayan rajungan di Desa Margasari, Kabupaten Lampung Timur, dan di sana telah menerapkan sistem tangkap rajungan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujar Miswan, dilansir dari Antara, Minggu, 19 September 2021.
 
Ia mengatakan melalui pemanfaatan sistem tangkap yang berkelanjutan rajungan tersebut maka hasil tangkapan nelayan akan naik dengan maksimal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

“Di kelompok nelayan Desa Margasari tidak menangkap rajungan dengan alat tangkap yang merusak lingkungan, dan kita tidak mengambil rajungan yang sedang bertelur sebab nanti tidak ada regenerasi rajungan,” katanya.
 
Menurut dia, nelayan sekitar pun akan mendapatkan keuntungan lebih maksimal dengan menerapkan konsep keberlanjutan tersebut. “Jadi kita ada masa-masa istirahat tidak mencari rajungan agar mereka berkembang biak dan ukurannya siap tangkap, sebab semua rajungan akan dikirim ke unit pengelolaan ikan jadi harus memenuhi spesifikasi,” ucapnya.
 
Dirinya memastikan, apabila nelayan rajungan tidak menerapkan konsep keberlanjutan dan ramah lingkungan di masa mendatang, tangkapan nelayan rajungan akan semakin menyusut karena kerusakan habitat.
 
“Untuk sekarang harga cukup bagus, rajungan Rp100 ribu per kilogram, dan biasanya satu orang bisa menangkap hingga 10 kilogram rajungan, kalau lingkungan rusak tidak ada regenerasi rajungan, pasti harga turun lalu penghasilan nelayan turun,” ujarnya.
 
Rajungan merupakan komoditas potensial kelautan di Indonesia dengan volume ekspor pada 2018 sebanyak 16.300 ton atau senilai USD300 juta. Selain itu, rajungan juga menjadi komoditas unggulan di Lampung dengan volume ekspor mencapai 1.383 ton.
 
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *