Mesranya Hubungan Tiongkok dan Taliban

Beijing: Setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden meminta seluruh tentaranya angkat kaki per 31 Agustus, Taliban kini telah menguasai Afghanistan. Kini yang menjadi sorotan adalah dukungan Tiongkok terhadap Taliban.
 
Selama dua dekade upaya menekan aktivitas Taliban dengan bantuan Amerika Serikat tumbang hanya dalam kurun waktu sebulan lebih. Setelah berhasil menduduki sejumlah wilayah di sekitar kota Kabul pada Sabtu, 14 Agustus 2021.
 
Pasukan Taliban pada akhirnya berhasil memasuki Ibu Kota Kabul pada Minggu, 15 Agustus 2021, tanpa adanya perlawanan dari tentara Afghanistan. Bahkan Minggu siang waktu setempat, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menyerahkan kuasanya kepada Taliban.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

Apa kaitan Tiongkok dengan Taliban dan Afghanistan? Seperti dikutip dari Metro Xinwen, 24 Agustus 2021, Tiongkok telah menjadi salah satu investor terbesar di Afghanistan. Pada 25 Agustus 2016, Tiongkok meluncurkan kereta kargo pertama ke Afghanistan.
 
Kereta yang berangkat dari Kota Nantong, Provinsi Jiangsu, Tiongkok menuju kota Hairatan di Afghanistan tersebut  telah mempersingkat pengiriman barang melalui jalur darat dari 6 bulan menjadi 2 minggu, serta mendorong peningkatan ekspor dan investasi ke Afghanistan.
 
Dengan adanya hubungan investasi antar kedua negara, lantas apa reaksi tiongkok terhadap Taliban merebut Afghanistan?
 
Walau tidak menunjukkan bahwa mereka mendukung aksi Taliban,  namun Tiongkok menyerukan bahwa dunia harus membimbing dan mendukung Afghanistan saat transisi ke pemerintahan baru, alih-alih memberikan tekanan lebih besar.
 
Seperti dikutip oleh Kementerian Luar Negeri Tiongkok, dalam panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab pada Kamis 19 Agustus 2021 lalu,  Penasihat Negara dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi pernah mengatakan bahwa situasi di Afghanistan, di mana Taliban telah merebut kembali kekuasaan 20 tahun setelah dipaksa keluar oleh invasi pimpinan AS, tetap tidak stabil dan tidak pasti.
 
The Straits Times pada Senin, 30 Agustus 2021, melaporkan bahwa Wang Yi mengatakan kepada Menlu Amerika Serikat Antony Blinken bahwa komunitas internasional harus berkomunikasi dengan kelompok Taliban di Afghanistan dan memandu mereka “secara positif.”
 
“Dengan tetap menghormati kedaulatan Afghanistan, AS harus mengambil langkah konkret untuk membantu Afghanistan memerangi terorisme dan menghentikan aksi kekerasan, jangan bermain standar ganda atau memerangi terorisme secara tebang pilih,” ucap Wang.
 
Tidak hanya dari pihak Tiongkok, bahkan Taliban pun menyerukan sinyal kedekatan yang akan dibangun antara mereka dengan Tiongkok dibawah kepemimpinan Tiongkok, dan menegaskan Tiongkok akan menjadi mitra utama Taliban.
 
Beberapa pekan lalu dalam sebuah wawancara dengan China Media Group, juru bicara Taliban Suhail Shaheen menyebut Tiongkok sebagai negara yang menghormati kedaulatan Afghanistan, dan kontak antara Taliban-Tiongkok diharapkan dapat berkontribusi pada rekonstruksi Afghanistan.
 
Seperti dilansir dari Yeni Safak, Jumat, 3 September 2021, Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahid mengatakan, Tiongkok akan menjadi mitra utama kami dan merupakan peluang besar bagi kami karena siap untuk berinvestasi di negara kami dan mendukung upaya rekonstruksi.
 
Mujahid menambahkan, Taliban menghargai Belt and Road Initiative milik Tiongkok. Menurutnya , Beijing akan membantu Afghanistan sepenuhnya untuk memanfaatkan sumber daya tembaga yang kaya,juga akan memberi jalan bagi Afghanistan ke pasar global.
 
Sebelumnya dikabarkan bahwa, Wang Yi pun telah bertemu dengan kepala kantor politik Taliban Abdul Ghani Baradar di Kota Tianjin, Tiongkok pada tanggal 28 Juli lalu, di mana Wang Yi meminta Taliban untuk mengutamakan kepentingan nasional Afghanistan.
 
Tidak hanya itu, media Rusia, TASS pada 25 Agustus 2021, mengutip cuitan juru bicara kantor politik Taliban Afghanistan di Qatar, Uni Emirat Arab, menuturkan bahwa Delegasi Taliban dan Tiongkok dikabarkan bertemu di Kabul,Afghanistan.Kedua pihak membahas isu-isu seperti situasi terkini Afghanistan.

Dukungan Tiongkok 

Pada Selasa, 7 September 2021,  Taliban mengumumkan pemerintah baru pasca merebut Afghanistan. Laporan AFP mengatakan daftar anggota kabinet diumumkan Kepala Juru Bicara Taliban Zabihullah Mujahid dalam konferensi pers di Kabul hari itu.
 
Namun, jabatan-jabatan penting di kelompok tersebut merupakan anggota veteran yang masuk dalam daftar hitam PBB.
 
Walau tidak secara langsung menyebutkan resmi mengakui pemerintah baru taliban, namun Tiongkok menyatakan kesiapan mereka menjalin komunikasi dengan pemerintahan baru Afghanistan yang dipimpin Taliban.
 
Dilansir dari South China Morning Post, Rabu, 8 September 2021, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Wang Wenbin menyatakan,  “Tiongkok ingin menjalin komunikasi dengan pemerintah Afghanistan yang baru”.
 
“Kami berharap Pemerintah Afghanistan yang baru akan menerima masukan luas dari semua ras dan faksi, untuk memenuhi aspirasi rakyat Afghanistan dan internasional,” ucap Wang.
 
Ia menambahkan, Pemerintah Tiongkok akan menghormati kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas wilayah Afghanistan.
 
Tidak hanya itu, Negeri Tirai Bambu bahkan memutuskan untuk memberi bantuan darurat 200 juta yuan atau sekitar Rp441 miliar kepada afghanistan. Tidak hanya itu, Tiongkok juga memberikan bantuan makanan dan vaksin covid-19.
 
“Tiongkok akan memberikan 3 juta dosis vaksin covid-19 ke Afghanistan, serta bantuan kemanusiaan darurat senilai 200 juta yuan. Bantuan termasuk makanan, obat-obatan, dan bahan lainnya untuk musim dingin,” sebut Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi, seperti dikutip Global Times, Kamis 9 September 2021.
 
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *