Tiongkok Berencana Lepas Cadangannya Bikin Harga Minyak Ngedrop

New York: Harga minyak jatuh ke level terendah dua minggu pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), setelah Tiongkok mengatakan rencana untuk melepaskan cadangan minyaknya.
 
Sementara itu penarikan minyak mentah mingguan AS lebih kecil dari yang diperkirakan dan obligasi pemerintah AS menguat saat investor mencari aset yang lebih aman.
 
Melansir Antara, Jumat, 10 September 2021, dalam perdagangan yang bergejolak minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November terpangkas USD1,15 atau 1,6 persen, menetap di USD71,45 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober jatuh USD1,16 atau 1,7 persen ke USD68,14 per barel.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

“Lelang luar biasa dalam obligasi 30 tahun dengan tingkat suku bunga terendah sejak Januari menempatkan ketakutan yang signifikan ke pasar (minyak),” ujar kata mitra di Again Capital LLC di New York, John Kilduff.
 
Setelah jatuh lebih dari USD1 per barel di awal sesi, kedua harga minyak acuan berubah positif menyusul laporan bahwa sebuah kapal terjebak di Terusan Suez. Kapal itu diapungkan kembali dan tidak menyebabkan penundaan.
 
Sementara itu minyak berjangka turun lebih dari USD1 per barel setelah permintaan yang kuat di sore hari atas lelang obligasi 30 tahun AS senilai USD24 miliar, mendorong imbal hasil turun menjadi 1,91 persen. Dampaknya, para investor menjual aset-aset berisiko seperti minyak dan saham.
 
Minyak tertekan ketika Tiongkok mengatakan akan melepaskan cadangan minyak mentahnya secara bertahap melalui lelang publik untuk membantu kilang-kilang domestik mengendalikan biaya.
 
“Tiongkok memanfaatkan cadangan minyak mentah mereka adalah berita besar dan akan memberikan banyak bantuan kepada kilang-kilang domestik dan perusahaan kimia,” kata analis pasar senior di Oanda, Edward Moya.
 
Stok minyak mentah AS turun 1,5 juta barel dalam seminggu hingga 3 September, jauh lebih kecil dari perkiraan analis 4,6 juta barel.
 
Royal Dutch Shell Plc menyatakan force majeure terkendala pada beberapa pengiriman minyak karena kerusakan akibat Badai Ida. Sumur lepas pantai Teluk menyumbang sekitar 17 persen dari produksi AS. Saat ini sekitar 1,4 juta barel per hari produksi minyak mentah masih ditutup.
 
Di AS, melonjaknya kasus covid-19  karena ada di antara warganya yang tidak divaksinasi, Presiden Joe Biden akan menguraikan pendekatan baru untuk mengendalikan pandemi.
 
Shell sedang mempertimbangkan untuk mewajibkan pekerja di beberapa operasi untuk mendapatkan vaksinasi covid-19 atau akan dipecat.
 
Beberapa maskapai penerbangan AS juga memperingatkan perlambatan penjualan tiket dan memangkas perkiraan pendapatan karena varian delta virus covid-19 mengancam perjalanan.
 
 
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *